Menyampaikan Pengetahuan yang Dapat Diterapkan melalui Pelatihan Keberlanjutan

Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Mencapai keberlanjutan adalah perjalanan bersama, dan setiap kontribusi dari semua lapisan masyarakat sangatlah berarti. Pembangunan berkelanjutan sendiri bertumpu pada prinsip tidak meninggalkan seorang pun di belakang. Oleh karena itu, menanamkan konsep keberlanjutan ke seluruh lapisan masyarakat adalah kunci. Yang lebih penting lagi adalah menyampaikan pengetahuan yang dapat diterapkan agar lebih banyak orang bisa dengan mudah berpartisipasi dalam upaya bersama menciptakan dunia yang lebih baik bagi manusia dan planet Bumi, yang dimulai dari diri kita sendiri dan lingkaran kecil kita.
Pengetahuan yang Dapat Diterapkan untuk Perubahan yang Bermakna
Kehidupan masyarakat—terutama dunia usaha—terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Di tengah krisis iklim, penurunan keanekaragaman hayati, dan polusi yang semakin memburuk, urgensi untuk beralih menuju sistem yang berkelanjutan tidak bisa ditawar-tawar. Oleh karena itu, mempersiapkan diri dan komunitas kita untuk beradaptasi dengan perubahan ini menjadi sangat penting.
Misalnya perihal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di banyak negara berkembang, UMKM adalah tulang punggung perekonomian. Di Asia Tenggara, misalnya, UMKM mencakup 97–99% dari seluruh entitas usaha yang menyediakan lapangan kerja. Maka dari itu, memberdayakan UMKM sebagai aktor pembangunan berkelanjutan adalah salah satu strategi kunci.
Namun, memperkenalkan dan mengimplementasikan konsep keberlanjutan, termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), bukanlah perkara mudah. Dalam sebuah kegiatan pelatihan, misalnya, menginspirasi perubahan nyata dan berkelanjutan setelah acara selesai sering kali menjadi tantangan bila peserta tidak tahu harus memulai dari mana. Hal-hal tersebut bisa terasa sulit, bahkan mustahil, untuk dilakukan secara individu—apalagi di tempat kerja atau dalam lingkup yang lebih luas. Lebih jauh, kesulitan juga muncul ketika kita berhadapan dengan pemangku kepentingan di luar kendali kita, seperti isu-isu sosial struktural, politik, dan kondisi lingkungan.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari bahwa di luar statistik dan teori, berbagi pengetahuan yang dapat langsung diterapkan serta mengadakan kegiatan yang membumi adalah kebutuhan utama. Langkah pertama adalah mengidentifikasi kegiatan yang memang bisa kita kendalikan sesuai dengan kapasitas kita, lalu memfokuskan diri pada kegiatan-kegiatan tersebut.
Studi Kasus: Kegiatan Pelatihan UMKM
Sebelum Pandemi COVID-19, camilan dan makan siang dalam sebuah kegiatan pelatihan UMKM biasanya disajikan secara prasmanan. Orang-orang mengambil makanan, minuman, piring, cangkir, gelas, garpu, dan sendok masing-masing.
Dalam keadaan normal, peralatan makan akan diletakkan begitu saja tanpa pengawasan setelah makan, karena tidak ada wadah yang tersedia. Orang-orang cukup menaruhnya di meja, di bawah kursi, atau di mana pun yang memungkinkan. Dalam kegiatan pelatihan keberlanjutan, hal-hal semacam ini menjadi kesempatan untuk melakukan pelatihan tentang pengelolaan piring kotor dan sisa makanan. Dengan demikian, kita menyajikan pengetahuan yang dapat dipraktikkan, bukan hanya teori.
Sebagai persiapan, kita perlu mencari area yang relatif luas, seperti meja besar atau lantai. Kemudian, kita siapkan wadah khusus untuk sisa makanan, bisa berupa ember atau kantong plastik hitam. Di sebelahnya, sediakan wadah berlabel jelas untuk piring kotor, peralatan makan, dan minuman. Dengan demikian, setelah peserta makan saat jam istirahat, mereka dapat dan harus mengurus sendiri sisa makanan dan piring kotornya, dengan memilahnya sesuai dengan wadah yang diberi label.
Setelah pandemi COVID-19 melanda, penyajian makanan mungkin mengalami perubahan, yang mempengaruhi situasi dalam kegiatan pelatihan keberlanjutan. Namun, camilan dan makanan dalam kotak dapat menjadi kesempatan belajar. Para trainer dapat menyiapkan tempat sampah yang berbeda untuk berbagai kategori: sisa makanan organik, sampah kertas untuk kotak dan tisu, dan sampah plastik untuk peralatan makan dan gelas.
Hal-hal semacam ini dapat dilakukan setiap hari, sehingga menciptakan kebiasaan baru. Yang lebih penting, kegiatan-kegiatan ini harus memantik diskusi tentang sampah makanan, pemilahan sampah, dan pola konsumsi. Dalam sebuah pelatihan, peserta secara bertahap didorong untuk mempraktikkan kebiasaan makan yang teratur agar terhindar dari pemborosan. Mereka juga harus belajar cara mengelompokkan barang dengan benar untuk mendukung pengelolaan sampah. Hal ini dapat mendorong praktik langsung, bukan sekadar instruksi konseptual. Meskipun hanya diterapkan secara sampingan, hal-hal seperti ini berperan sebagai pengetahuan yang dapat diterapkan dan ditularkan oleh para peserta ke komunitas mereka.
Pengembangan Pelatihan Keberlanjutan
Pada akhirnya, pengetahuan yang dapat diterapkan dan kegiatan yang kreatif, terkendali, dan langsung perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam kegiatan pelatihan keberlanjutan. Misalnya, apakah tempat pelatihan menyediakan dispenser air jika kita membawa tumbler? Apakah pencahayaan memadai untuk peserta dari segala usia? Bisakah kertas yang dipakai dalam pelatihan menjadi topik diskusi tentang produk ramah lingkungan atau berkelanjutan?
Kadangkala, diperlukan pertimbangan, mitigasi, dan antisipasi lebih lanjut untuk melaksanakan kegiatan yang tidak biasa dan memastikan inklusivitas dalam pengembangan kapasitas. Bagaimanapun, adalah tanggung jawab instruktur dan penyelenggara pelatihan untuk memfasilitasi pembelajaran bagi semua orang dan menginspirasi perubahan nyata di semua lapisan masyarakat, mulai dari UMKM hingga peserta level manajerial dan eksekutif yang lebih tinggi.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Tentang Kolom IS2P:
Kolom IS2P merupakan platform konten terdedikasi kolaborasi Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P) bersama Green Network Asia. Kolom IS2P memberikan wadah dan dukungan editorial kepada anggota IS2P untuk menyebarluaskan wawasan, pengalaman, dan kebijaksanaan praktikal mereka dengan tujuan mempromosikan pendidikan keberlanjutan di tengah masyarakat.
Bermitra dengan Green Network Asia:
Luncurkan platform konten “Kolom” terdedikasi atas nama organisasi Anda dan berikan manfaat kepada tim kepemimpinan & manajemen, karyawan, dan anggota komunitas Anda dengan kredit publikasi dan dukungan editorial dari Green Network Asia, termasuk layanan kurasi, penyuntingan, desain visual, publikasi, dan diseminasi. Kolaborasi ini akan menciptakan nilai untuk organisasi Anda berupa komunitas yang lebih terlibat, thought leadership yang lebih kuat, kredibilitas yang meningkat, dan visibilitas yang lebih luas.

Perkuat pengembangan kapasitas pribadi dan profesional Anda dengan Langganan GNA Indonesia.
Jika konten ini bermanfaat, harap pertimbangkan Langganan GNA Indonesia untuk mendapatkan akses digital ke wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia.
Pilih Paket Langganan Anda
Yanto adalah trainer dan pakar dalam Kewirausahaan serta Integritas & Anti-Korupsi di GIZ. Ia meraih gelar sarjana Teknik Elektro dari Universitas Gadjah Mada dan gelar Magister Kewirausahaan dari Ohio State University, AS.