Seksisme yang Terus Berlanjut terkait Pakaian Olahraga Perempuan
Foto: Jadon Johnson di Unsplash.
Olahraga telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sejak zaman kuno. Seiring waktu, ajang, tujuan, aturan, budaya, dan norma dalam olahraga terus mengalami perubahan, termasuk dengan semakin terbukanya ruang bagi perempuan untuk berkiprah dalam olahraga profesional. Meski demikian, kesenjangan masih begitu nyata. Salah satunya berkaitan dengan pakaian olahraga perempuan. Sampai hari ini, selain dilihat dari aspek kebebasan bergerak dan dukungan terhadap performa, pakaian olahraga perempuan masih sering dipandang melalui kacamata mode, gaya, dan seksualitas.
Perempuan, Olahraga, dan Pakaian Olahraga Perempuan
Perjuangan agar perempuan dapat terjun ke dunia olahraga merupakan gerakan yang juga diperjuangkan oleh para perempuan yang diperbudak. Titik penting terjadi ketika perempuan untuk pertama kalinya berkompetisi dalam olahraga di Olimpiade pada 1900. Meskipun partisipasi perempuan dalam olahraga terus meningkat di tengah seksisme yang masih bertahan, kondisinya tetap jauh dari setara.
Pada masa itu, petenis perempuan diwajibkan mengenakan rok dan atasan berlengan panjang yang menutupi seluruh tubuh agar mereka dapat bertanding tanpa dianggap mengorbankan citra “feminin”. Jenis aturan dan norma yang membatasi pilihan atlet perempuan dalam berpakaian terus bertahan dan masih relevan dalam berbagai cabang olahraga di seluruh dunia.
Pada 1928, atlet perempuan yang untuk pertama kalinya mengikuti cabang atletik di Olimpiade mengenakan kaus longgar dan celana pendek longgar. Memasuki 1980-an, gaya baru bermunculan: legging, singlet, leotard, rompi, dan atasan pendek ketat yang menonjolkan bentuk tubuh atlet. Situasi serupa muncul dalam sepak bola. Pada awalnya, pakaian yang dikenakan terdiri atas celana pendek dan atasan yang longgar. Kemudian, pada 2004, Presiden FIFA saat itu Sepp Blatter membuat pernyataan kontroversial dengan menyarankan agar pesepak bola perempuan mengenakan seragam yang ketat, seperti yang dikenakan pemain voli. Ia bilang, “Keputusan itu diambil untuk menciptakan estetika yang lebih feminin, jadi mengapa tidak menerapkannya dalam mode?”
Perjuangan atas Pilihan Pakaian
Seiring perkembangan olahraga, atlet perempuan terus menantang standar ganda dalam hal pakaian olahraga. Terkadang, mereka melakukannya meskipun berhadapan dengan aturan yang ada.
Pada 1935, pemain bola tangan perempuan diperbolehkan mengenakan seragam longgar dalam pertandingan. Namun, sebuah pertandingan bola tangan di Spanyol pada 2014 memicu kemarahan di kalangan atlet bola tangan perempuan. Federasi Bola Tangan Eropa (EHF) kemudian mewajibkan pemain bola tangan perempuan mengenakan bikini, dengan lebar atasan dan bawahan maksimal 10 sentimeter. Sementara itu, atlet laki-laki diperbolehkan mengenakan pakaian apapun, termasuk pakaian longgar yang menutupi tubuh lebih banyak.
Kemudian, pada 2021, EHF mendenda tim bola tangan perempuan Norwegia dalam sebuah ajang di Bulgaria. Denda sebesar 1.500 euro itu dijatuhkan karena para pemain Norwegia memilih mengenakan celana pendek alih-alih bikini. Ketika berita tersebut menyebar di media sosial, banyak orang menyatakan kemarahan dan memberikan dukungan kepada tim Norwegia. Menteri Kebudayaan Norwegia bahkan turut angkat bicara dan menyebut insiden tersebut sebagai contoh sikap kuno dan patriarkal yang masih lazim dalam olahraga internasional.
Lebih jauh, persoalan pakaian olahraga perempuan kerap melampaui aturan formal. Pada 1985, petenis Amerika Serikat Anne White mendapat sorakan dari penonton ketika mengenakan pakaian putih yang menutupi seluruh tubuh dalam turnamen Wimbledon. Pada 2018, petenis Serena Williams mengenakan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh dan mendapat komentar negatif, dengan sejumlah orang menyebut penampilannya “konyol”. Meskipun keduanya juga mendapat dukungan dari atlet perempuan lain dan aktivis feminis, penolakan keras tersebut menunjukkan betapa kuatnya seksisme yang masih berlaku dalam olahraga.
Lapisan Interseksionalitas
Pembahasan mengenai pakaian olahraga perempuan memiliki banyak lapisan. Perempuan, termasuk atlet perempuan, bukan kelompok yang homogen dengan latar belakang, nilai, dan prioritas yang sama. Misalnya, pakaian olahraga perempuan dapat memunculkan perdebatan mengenai nilai budaya dan agama. Hal ini terutama menjadi persoalan di negara-negara mayoritas Muslim. Beberapa cabang olahraga, seperti voli pantai, mewajibkan perempuan mengenakan bikini. Aturan semacam ini menciptakan hambatan yang seharusnya tidak perlu ada bagi atlet perempuan dengan latar belakang yang lebih beragam untuk berkompetisi secara profesional.
Contoh lain dapat kita lihat dari Alice Dearing, perenang perempuan kulit hitam pertama dari Inggris yang tampil di Olimpiade. Topi renangnya dinilai melanggar peraturan FINA (induk organisasi olahraga renang dunia; sekarang bernama World Aquatics) karena tidak sesuai dengan “bentuk alami kepala”. Padahal, topi tersebut secara khusus dirancang untuk mengakomodasi rambut Afro-nya yang tebal dan keriting.
Selain itu, meskipun sebagian besar perdebatan mengenai pakaian olahraga perempuan berkutat pada pakaian yang ketat dan terbuka, persoalan sebaliknya juga terjadi. Ambil contoh atlet lari gawang Xia Sining. Ia mendapat kritik karena diduga mengenakan pakaian yang “tidak pantas”, yang dirancang untuk memangkas 0,01 detik dari catatan waktunya ketika berlaga di Kejuaraan Nasional Atletik Tiongkok 2024. Alih-alih berfokus pada pencapaian atletiknya, publik justru terpaku pada pakaian yang dikenakannya. Contoh ini menunjukkan pola yang lebih luas: ketika atlet perempuan bertanding, perhatian penonton sering lebih tertuju pada pakaian mereka ketimbang performanya.
Kemajuan Kecil
Perjuangan untuk mewujudkan inklusi yang bermakna dan merayakan keberagaman perempuan dalam olahraga juga mencakup upaya mencapai kesetaraan dan martabat terkait pakaian olahraga perempuan. Pada dasarnya, persoalan ini menyangkut otonomi perempuan untuk memilih pakaian olahraga yang paling mendukung performa mereka sekaligus sesuai dengan nilai-nilai yang mereka pegang. Kemajuan menuju kondisi ideal tersebut membutuhkan perubahan, baik dalam aturan maupun norma. Meskipun tidak selalu mudah, perjuangan ini bukan tanpa harapan.
Setelah aksi protes tim perempuan Norwegia, Federasi Bola Tangan Internasional (IHF) mengubah aturan terkait seragam pada tahun yang sama. Tidak lagi mewajibkan bikini, atlet perempuan kini diperbolehkan mengenakan atasan tanpa lengan dan celana pendek ketat. Perubahan lain terjadi setelah perdebatan mengenai topi renang Alice Dearing. Setahun kemudian, World Aquatics akhirnya menyetujui perlengkapan khusus untuk atlet tertentu.
Perjuangan yang Terus Berlanjut
Pada pertengahan 2026, dunia olahraga kembali dihebohkan oleh persoalan serupa. Platform prediksi olahraga, Novig, mempromosikan iklan “Just Sports” yang menampilkan aktris Sydney Sweeney. Dalam iklan tersebut, Sydney tampil tanpa busana sambil berpura-pura memainkan berbagai cabang olahraga. Iklan itu kemudian memicu beragam reaksi, termasuk kecaman.
Para pengkritik menilai iklan tersebut melanggengkan seksualisasi perempuan dalam olahraga. Pelari cepat Inggris Amy Hunt dan perenang Australia Ariarne Titmus menyebut iklan tersebut sebagai “tamparan di wajah” bagi atlet perempuan yang telah mendedikasikan hidup mereka—darah, keringat, dan air mata—untuk berkompetisi. Juara dunia tinju Skye Nicolson juga mengunggah Instagram Reel untuk mengungkapkan kekecewaannya terhadap iklan tersebut. Ia menulis, “Berhenti menseksualisasi perempuan dalam #olahraga.”
Iklan tersebut seolah menjadi kemunduran dalam upaya menantang norma terkait perempuan dalam olahraga dan pakaian olahraga mereka. Namun, hal itu tidak memadamkan harapan dan perjuangan untuk keadilan dan martabat perempuan dalam olahraga.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Sejauh Mana Potensi Pengomposan untuk Menyelamatkan Bumi?
Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Kebijakan Lingkungan
Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas
Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara
Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen