Bagaimana Lapak Rongsokan Online Dapat Mengubah Perdagangan Daur Ulang di Asia
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Mari kita ikuti perjalanan sebuah mesin cuci bekas hingga menjadi baja baru. Seorang pengepul menimbangnya. Sebuah lapak membelinya, lalu menjualnya kepada agregator, hingga akhirnya sebuah pabrik peleburan mengolahnya kembali. Hampir di setiap tahap, harga disepakati secara lisan, pembayaran biasanya dilakukan tunai, dan dokumen yang menyertai transaksi, jika ada, sangat minim. Begitulah sebagian besar rongsokan di Asia kembali masuk ke dalam siklus daur ulang. Pertanyaannya: dapatkah pasar rongsokan digital memperbaiki sistem yang sporadis dan informal ini demi pengelolaan limbah yang lebih baik?
Mengapa Ini Penting
Menurut Global E-waste Monitor PBB, dunia menghasilkan 62 juta ton limbah elektronik pada 2022. Namun, hanya 22,3% yang tercatat telah didaur ulang dengan benar. Pada 2030, para ahli memperkirakan jumlahnya akan mencapai 82 juta ton, sementara tingkat daur ulang yang terdokumentasi turun menjadi sekitar 20%.
Pada saat yang sama, permintaan terhadap rongsokan berkualitas tinggi semakin meningkat. Produsen baja mulai beralih ke tanur busur listrik (electric arc furnace/EAF), yang menghasilkan 30,3% baja mentah dunia pada 2025. Tanur ini sebagian besar menggunakan rongsokan sebagai bahan baku. Hal ini mendorong penggunaan rongsokan secara global meningkat tajam hingga sekitar 630 juta ton. Setiap ton rongsokan yang digunakan dapat menghemat sekitar 1,5 ton CO₂ dan 1,4 ton bijih besi. Sementara itu, produksi aluminium daur ulang membutuhkan 95% lebih sedikit energi dibandingkan produksi logam baru.
Bagian yang tidak terdokumentasi tidak serta-merta menghilang; material tersebut tetap bergerak melalui tangan-tangan informal. Toxics Link memperkirakan sekitar 70% limbah elektronik di India ditangani secara informal. Di Vietnam, diperkirakan terdapat tiga juta pemulung dan pengumpul sampah informal.
Membenahi Sistem Perdagangan Rongsokan Informal
Sistem ini telah menjadi tulang punggung sebagian besar kegiatan daur ulang di Asia. Hingga kini, pekerja limbah informal berperan besar dalam mendukung pengelolaan limbah di seluruh kawasan. Namun, mereka masih kurang mendapat pengakuan dan perlindungan. Proses kerja mereka pun demikian.
Sistem informal dalam kegiatan mengumpulkan, memilah, menjual, dan membeli rongsokan memiliki persoalan mendasar berupa minimnya standardisasi, transparansi, dan perlindungan. Penjual jarang mengetahui nilai sebenarnya dari material yang mereka miliki. Pembeli tidak selalu dapat memeriksa siapa yang mereka hadapi atau material apa yang mereka beli. Sementara itu, produsen tidak dapat membuktikan material apa saja yang telah didaur ulang, padahal aturan Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) mulai menuntut hal tersebut.
Saya menyaksikan persoalan ini secara langsung dalam transaksi pertama di ScrapTrade, dimana saya turut bekerja. Seorang penjual di India memiliki 22 ton kabel tembaga yang telah dikupas dan dipotong, serta 26 ton rongsokan kaleng minuman bekas. Mereka ingin mengekspor material tersebut. Namun, mereka bersedia menjual semuanya dengan harga lokal, jauh di bawah nilai yang bisa diperoleh di pasar luar negeri, karena tidak ada pihak yang pernah menunjukkan alternatif kepada mereka.
Kemudian, manajer akun kami membantu mereka memahami nilai material tersebut, bagaimana rongsokan serupa diperdagangkan secara internasional, dan di mana para pembelinya berada. Pada akhirnya, penjual memperoleh margin 24% lebih tinggi dibandingkan jika mereka melakukan transaksi lokal. Pembeli memeriksa dan memverifikasi material sebelum membayar. Pengiriman pun tiba tepat waktu dan pembayaran diselesaikan tanpa keterlambatan.
Apa yang Berubah Ketika Perdagangan Rongsokan Beralih ke Online
Itu merupakan transaksi pertama kami, dan sejak saat itu banyak hal telah berubah. Namun, pengalaman tersebut menunjukkan kepada saya betapa berbeda cara kedua pihak memandang transaksi. Penjual ingin mengosongkan stok dengan margin yang masih bisa mereka terima; pembeli mempertimbangkan peluang yang tersedia hari itu. Sementara itu, keduanya tidak dapat melihat gambaran pasar secara utuh. Mempertemukan kedua perspektif dan menghadirkan satu harga dalam layar yang sama merupakan salah satu tujuan utama pasar rongsokan digital.
Ini bukan berarti lapak rongsokan akan menghilang. Tetap ada orang yang harus memilah, menimbang, dan mengolah material. Bagian yang berpindah ke ranah daring adalah aspek-aspek yang selama ini tidak terlihat: harga, identitas pihak yang bertransaksi, bukti material yang dijual, serta pembayaran. Sistem ini memang tidak sepenuhnya memformalkan sektor tersebut, tetapi dapat mendukung para pelaku dan proses perdagangan agar lebih menguntungkan bagi mereka. Selain itu, pasar digital semestinya membantu meningkatkan transparansi di sepanjang rantai nilai, sekaligus berkontribusi menyediakan data yang diperlukan untuk mengatasi pencemaran.
Pasar rongsokan digital harus mampu mengatasi empat persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui panggilan telepon. Pertama, harga. Penjual dapat melihat harga acuan dan penawaran dari calon pembeli lain, alih-alih menerima begitu saja angka pertama yang ditawarkan. Kedua, identitas. Setiap akun harus dimiliki oleh individu atau usaha yang telah terverifikasi. Ketiga, bukti, misalnya video bergeotag yang memperlihatkan secara tepat material yang dijual sebelum transaksi disepakati. Keempat, pembayaran. Menahan dana dalam rekening penampungan hingga pembeli memastikan material sesuai dengan deskripsi penawaran dapat melindungi kedua belah pihak dan mencegah sebagian besar sengketa.
Praktik ini sudah mulai berjalan. Di Chennai, India, Kabadiwalla Connect menguji coba perangkat yang mendaftarkan pemulung sebagai pemasok dan memberikan kode QR pada setiap kumpulan material. The Kabadiwala di Bhopal menyatakan telah mengintegrasikan lebih dari 5.000 pengepul rongsokan (kabadiwala) di 15 kota ke dalam aplikasi yang dilengkapi fitur penimbangan elektronik. Di Indonesia, Octopus melaporkan pada 2022 bahwa lebih dari 12.000 pengepul telah membuka rekening bank setelah bergabung dengan platform tersebut. Di Ho Chi Minh City, VECA memberi tahu pembeli terdekat ketika penjual memasukkan pesanan dan menampilkan harga di layar.
Membatasi Risiko yang Bisa Terjadi
Digitalisasi tidak otomatis membuat perdagangan menjadi lebih adil. Banyak pengepul dan pemilik lapak kecil berusia lanjut atau tidak memiliki ponsel pintar. UN Women juga menyoroti akses terhadap ponsel dan keterampilan digital sebagai hambatan bagi perempuan pengumpul sampah di Vietnam. Platform yang mengambil potongan besar dari transaksi atau diam-diam menetapkan harga dapat menekan penjual sama beratnya dengan rantai perdagangan lama. Platform yang melewati lapak rongsokan di lingkungan setempat juga berisiko merampas sumber penghidupan mereka. Lalu, siapa yang memiliki data perdagangan tersebut?
Saya juga ingin menambahkan risiko dari sisi industri saya sendiri, yakni platform digital. Ada godaan untuk merancang platform dengan mengutamakan pembeli, karena dari sanalah pendapatan berasal. Akibatnya, penjual hanya mendapatkan aplikasi yang tampak modern, tetapi tidak mengubah jumlah uang yang mereka terima. Jika Anda mendanai sebuah platform, tanyakan berapa penghasilan penjual, bukan berapa banyak orang yang telah mendaftar.
Baik Anda sedang membangun sebuah platform maupun memutuskan platform mana yang akan didukung, ada lima hal yang patut dijadikan tolok ukur. Pertama, semua pihak harus dapat melihat harga dan mengetahui kategori atau kualitas material yang menjadi dasar harga tersebut. Kedua, setiap pedagang harus terverifikasi dan dapat diketahui identitasnya selama seluruh proses transaksi. Ketiga, dokumentasi material harus dipastikan sebelum transaksi sehingga setiap kilogram dapat ditelusuri. Keempat, semua pihak harus yakin bahwa dana disimpan dengan aman hingga pengiriman dikonfirmasi. Terakhir, platform harus dapat digunakan oleh pelaku usaha kecil. Artinya, akses perlu tersedia dalam bahasa lokal, melalui ponsel sederhana, dan mungkin dengan dukungan kemitraan bersama lapak rongsokan, koperasi, serta pemerintah daerah.
Membangun di Atas Kepercayaan
Perdagangan rongsokan selalu bertumpu pada kepercayaan. Perangkat lunak tidak akan menggantikannya, dan seharusnya memang tidak berusaha menggantikannya. Namun, teknologi dapat memungkinkan penjual memeriksa harga sebelum menyepakati transaksi. Apakah pasar rongsokan digital akan membantu para pelaku daur ulang di Asia bergantung pada apakah orang-orang yang mengumpulkan, memilah, dan menjual material tersebut turut memiliki suara dalam proses pembangunannya.
Jadi, jika Anda ingin membangun sebuah platform, duduklah bersama para pengepul sebelum menulis satu baris kode pun. Jika Anda ingin mendukung sebuah platform, ujilah dari sudut pandang penjual. Tanyakan kategori material apa yang menjadi dasar harga, berapa berat yang akan dibayarkan, serta kapan dan bagaimana pembayaran dilakukan. Platform yang adil akan menjawab ketiga pertanyaan itu tanpa ragu. Jika tidak, cari platform lain.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Alif Vasaya adalah Head of Content Strategies di ScrapTrade, sebuah pasar daring yang mempertemukan pelaku daur ulang, lapak rongsokan, dan pembeli untuk memperdagangkan rongsokan logam serta material daur ulang di seluruh dunia. Ia adalah ahli strategi konten dan pemasaran berbasis di Sydney, dengan portofolio pengalaman di berbagai industri yang berkaitan dengan keberlanjutan, termasuk energi surya dan pengemasan.

Mengapa Pekerja Anak Masih Terus Ada?
Ilusi Keberlanjutan dalam Thrifting
TFFF Harus Menjangkau Masyarakat yang Menjaga Hutan
Meningkatnya Risiko Polusi Udara Lintas Batas di Tengah Suhu Panas Ekstrem
Mengeliminasi Tuberkulosis Tanpa Mengabaikan Penyakit Lain
Whimsymaxxing dan Meningkatnya Kekhawatiran terkait Limbah di Balik Tren Viral