Whimsymaxxing dan Meningkatnya Kekhawatiran terkait Limbah di Balik Tren Viral
Foto: Monstera Production di Pexels.
Tren di media sosial kerap memengaruhi orang-orang dalam banyak hal, mulai dari cara berpakaian, mendekorasi barang, hingga mengekspresikan diri. Salah satu contohnya adalah whimsymaxxing, tren yang mengusung aksesori berwarna-warni dan bernuansa ceria. Namun, penggunaan sejumlah produk berbahan plastik dalam tren ini memunculkan pertanyaan tentang siklus timbul tenggelamnya tren viral yang begitu cepat, serta tantangan yang lebih luas terkait konsumsi berlebihan dan limbah.
Munculnya Tren Whimsymaxxing
Whimsymaxxing merupakan tren yang lahir di internet yang mengajak orang untuk menghadirkan lebih banyak keceriaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut British Vogue, istilah ini pertama kali muncul di internet pada 2025 dan mulai mendapat perhatian lebih luas pada 2026 sebagai respons terhadap estetika minimalis dan budaya pengoptimalan diri dengan mengusung kreativitas, nostalgia, dan ekspresi diri. Sejak itu, tren ini menyebar di media sosial, dengan para kreator dan jenama membagikan beragam cara kreatif untuk menghias barang-barang sehari-hari.
Salah satu praktik populer yang berkaitan dengan whimsymaxxing adalah menghias benda-benda sehari-hari dengan stiker permata atau aksesori gantung untuk memberikan sentuhan personal. Orang menambahkan hiasan tersebut pada berbagai barang, mulai dari tas dan casing ponsel hingga gelas sekali pakai dan masker wajah. Semakin banyak yang ditambahkan, maka dianggap semakin baik.
Menambah Timbunan Sampah
Namun, hiasan-hiasan tersebut umumnya terbuat dari plastik. Saat popularitasnya meningkat, muncul kekhawatiran tentang konsumsi berlebihan dan sampah ditimbulkan, terutama ketika hiasan tersebut hanya digunakan dalam waktu singkat. Meski berukuran kecil, hiasan berbahan plastik dapat menimbulkan dampak lingkungan dalam jangka panjang. Hiasan yang dibuang akan menjadi salah satu sumber tambahan sampah plastik, terutama ketika dipasang pada barang sekali pakai. Selain itu, batu imitasi, serbuk berkilau (glitter), dan stiker permata berbahan plastik dapat terlepas dari benda-benda yang dipakai sehari-hari, meninggalkan serpihan kecil yang sulit dikumpulkan dan didaur ulang.
Ketika serpihan ini masuk ke perairan, material tersebut akan terurai menjadi mikroplastik. Mikroplastik kemudian dapat tertelan oleh hewan air sehingga berpotensi menyebabkan luka internal dan penyumbatan saluran pencernaan, sebagaimana dijelaskan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA). Pada akhirnya, mikroplastik juga berisiko masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang kita konsumsi. Tantangan ini sangat nyata di Asia Tenggara dan Asia Timur. Pada 2022, dari 113 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di kedua kawasan tersebut, hanya 12% yang berhasil didaur ulang secara efektif.
Persoalan yang Lebih Luas
Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan ini memang beralasan. Kritik khusus terhadap whimsymaxxing juga memunculkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat memandang minat dan kesenangan yang dilekatkan pada perempuan. Sorotan kritis terhadap upaya mencari kegembiraan kecil di tengah melonjaknya biaya hidup bisa jadi terasa berlebihan. Sebuah studi menyoroti bahwa minat yang secara tradisional dikaitkan dengan perempuan, termasuk fesyen dan kecantikan, kerap dipandang sebelah mata karena diasosiasikan dengan feminitas. Jadi, meskipun kekhawatiran mengenai sampah plastik dan konsumsi berlebihan tetap beralasan, sebagian reaksi negatif terhadap tren ini mungkin juga mencerminkan bias yang lebih luas terhadap ekspresi diri feminin.
Persoalan sebenarnya jauh melampaui apa yang ditimbulkan oleh tren whimsymaxxing. Meskipun hiasan plastik yang digunakan dalam tren semacam ini dapat menambah sampah, hiasan tersebut hanyalah sebagian kecil dari masalah produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan. Masalahnya bukan terletak pada pembuatan atau pembelian barang-barang dekoratif, melainkan lebih pada kebiasaan membuangnya ketika tren berikutnya muncul.
Penyebaran tren viral yang begitu cepat turut mendorong konsumsi berlebihan. Tren ini mendorong orang membeli barang-barang yang mungkin sebenarnya sudah mereka miliki, tetapi dengan sedikit perbedaan gaya agar sesuai dengan estetika yang sedang populer. Selain itu, algoritma media sosial dan jenama dapat mempercepat komersialisasi tren mikro (micro trend), sehingga permintaan terhadap produk baru terus tercipta. Ketika tren mikro baru muncul, barang-barang yang dibeli demi mengikuti estetika tertentu bisa kehilangan daya tarik jauh sebelum masa pakainya berakhir.
Menciptakan Kreativitas yang Tak Lekang oleh Tren
Tren akan selalu ada, tetapi pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan harus berubah. Bisnis dan desainer dapat turut mengurangi sampah yang dihasilkan produk-produk berbasis tren dengan mengutamakan bahan yang awet, aksesori yang dapat digunakan kembali, serta desain yang memudahkan pembaruan tampilan, perbaikan, atau daur ulang.
Bagi mereka yang menikmati tren ini, kembali berfokus pada semangat kreativitas yang menjadi inti whimsymaxxing dapat mendorong konsumsi yang lebih berkelanjutan. Alih-alih terus membeli hiasan baru, orang-orang dapat mempersonalisasi barang-barang yang sudah dimiliki dengan melakukan upcycling atau mengolah kembali barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai, menggunakan ulang aksesori lama, atau membuat desain sendiri. Sebuah studi menemukan bahwa kreativitas dalam penggunaan atau perancangan produk dapat memperkuat keterikatan emosional dan meningkatkan keinginan konsumen untuk menggunakan suatu barang lebih lama. Temuan ini menunjukkan bahwa ekspresi diri juga dapat mendorong orang untuk lebih menghargai dan mempertahankan barang-barang miliknya.
Dengan memperpanjang masa pakai produk yang sudah ada serta mendukung desain dan produksi yang lebih bertanggung jawab, produsen dan konsumen sama-sama dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi yang didorong oleh tren. Bagaimanapun, kreativitas seharusnya tetap menjadi bentuk ekspresi diri dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah suatu tren kehilangan popularitasnya.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengeliminasi Tuberkulosis Tanpa Mengabaikan Penyakit Lain
Mengakhiri Diplomasi Greenwashing Indonesia
Menilik Masalah Air Limbah Tekstil yang Terus Berkembang
Karhutla yang Terus Kita Pelihara
Mencari Petunjuk dari Karl Marx buat Menghadapi Krisis Iklim
EESG: Pentingnya Narasi Ekonomi Baru untuk Keberlanjutan di Era AI, Krisis Energi, dan Perpecahan Geopolitik