Ilusi Keberlanjutan dalam Thrifting
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Membeli pakaian bekas kini bukan sekadar cara menghemat uang atau mencari pakaian unik. Bagi sebagian orang, thrifting juga dapat menjadi pilihan untuk menjalani gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Logikanya sederhana: jika pakaian yang sudah ada digunakan kembali, kebutuhan untuk memproduksi pakaian baru dapat berkurang.
Namun, apakah semakin banyak orang melakukan thrifting berarti semakin sedikit pakaian yang diproduksi dan dibuang? Pertanyaan ini penting karena keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita beli, tetapi juga seberapa banyak kita mengonsumsi dan berapa lama kita menggunakan barang tersebut.
Masalah Lingkungan Industri Fesyen
Industri fesyen menghadapi persoalan lingkungan yang semakin besar. Sektor tekstil diperkirakan menyumbang sekitar 2–8% emisi gas rumah kaca global. Sementara itu, dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Dampak ini tidak hanya berasal dari pakaian yang dibuang, tetapi juga dari produksi bahan baku, penggunaan air dan energi, serta proses manufaktur.
Di tengah persoalan tersebut, tren thrifting dan pasar pakaian bekas terus berkembang. Nilainya diperkirakan mencapai US$227 miliar secara global pada 2024, meningkat 15% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini memperlihatkan meningkatnya minat terhadap pakaian bekas, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa konsumsi pakaian baru ikut menurun. Untuk memahami manfaat thrifting, kita perlu melihat apakah pembelian barang bekas benar-benar menggantikan pembelian baru atau justru menambah jumlah pakaian yang dikonsumsi.
Memahami Akar Persoalan
Sebuah tinjauan terhadap 41 penelitian tentang penggunaan kembali dan daur ulang tekstil menunjukkan bahwa penggunaan kembali pakaian berpotensi memberikan manfaat lingkungan. Namun, manfaatnya bergantung pada apakah pakaian bekas benar-benar menggantikan pembelian pakaian baru.
Bayangkan dua orang membeli jaket bekas. Orang pertama membelinya karena membutuhkan jaket dan membatalkan rencana untuk membeli yang baru. Orang kedua membeli beberapa jaket bekas karena murah, tetapi tetap berbelanja pakaian baru. Keduanya melakukan thrifting, tetapi pembelian pertama berpotensi mengurangi kebutuhan produksi, sedangkan pembelian kedua tetap menambah konsumsi baru.
Perbedaan tersebut tercermin dalam penelitian tentang tingkat penggantian (replacement rate), yaitu sejauh mana pembelian pakaian bekas menggantikan pembelian pakaian baru. Sebuah penelitian yang melibatkan 3.485 responden di Angola, Malawi, dan Mozambik menemukan tingkat penggantian masing-masing sebesar 63%, 35%, dan 37%. Sementara itu, studi komprehensif mengenai platform niaga pakaian bekas di Inggris mencatat bahwa tingkat penggantian pakaian bekas berada di angka 64,6%. Angka ini menunjukkan bahwa dari setiap lima barang bekas yang dibeli orang-orang di sana, hanya sekitar tiga barang yang benar-benar menggantikan pembelian baju baru, sedangkan sisanya menjadi konsumsi tambahan.
Temuan-temuan tersebut membuktikan bahwa pembelian pakaian bekas tidak otomatis menghentikan produksi barang baru. Oleh karena itu, manfaat lingkungan thrifting bergantung pada perubahan kebiasaan konsumsi. Jika pakaian bekas hanya menambah konsumsi alih-alih menggantikan kebutuhan membeli pakaian baru, manfaat lingkungannya menjadi terbatas. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku ini adalah kecenderungan untuk membeli lebih banyak karena harga pakaian bekas lebih murah.
Greenwashing dalam Thrifting
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui rebound effect, yaitu ketika manfaat yang diharapkan dari suatu pilihan berkurang akibat perilaku konsumsi tambahan. Dalam thrifting, harga murah dapat mendorong seseorang membeli lebih banyak pakaian daripada yang dibutuhkan. Sebuah penelitian mengenai konsumsi pakaian bekas membahas efek rebound yang berkaitan dengan harga dan moral licensing: kecenderungan merasa bahwa tindakan yang dianggap baik membenarkan perilaku lain yang kurang bertanggung jawab. Seseorang, misalnya, dapat merasa pembelian tambahannya tidak masalah karena pakaiannya bekas.
Hal ini juga terlihat dalam penelitian yang melibatkan 1.009 konsumen di Amerika Serikat, yang menemukan bahwa konsumen yang lebih banyak membeli pakaian bekas cenderung juga membeli lebih banyak pakaian baru. Temuan ini membuktikan bahwa membeli pakaian bekas tidak selalu berjalan beriringan dengan pengurangan konsumsi.
Jika perhatian hanya tertuju pada pilihan membeli barang bekas, kebiasaan belanja berlebihan bisa luput dari perhatian. Dalam hal ini, greenwashing pun dapat terjadi di dalam thrifting, baik oleh pembeli seperti yang telah disampaikan di atas, oleh penjual dengan menjual produk-produk murah yang kebetulan familiar nama mereknya (yang membuat pembeli terjebak dalam fast thrifting), maupun oleh merek yang membuat klaim etis yang menyesatkan dengan memanfaatkan label-label tren seperti “eco-friendly” atau “sustainable”. Pada akhirnya, label “ramah lingkungan” tidak otomatis membuat suatu kebiasaan menjadi berkelanjutan.
Perubahan Kebiasaan dan Upaya Bersama
Thrifting akan lebih bermakna jika menjadi bagian dari kebiasaan menggunakan pakaian secara bertanggung jawab. Konsumen dapat merawat pakaian yang dimiliki, memperbaikinya ketika rusak, serta menjual atau menyumbangkan pakaian yang masih layak. Memperpanjang masa penggunaan pakaian diperkirakan dapat mengurangi jejak karbon, air, dan limbah hingga 20%.
Namun, tanggung jawab mengurangi dampak lingkungan fesyen jelas tidak dapat dibebankan kepada konsumen. Industri fesyen terutama harus memperbaiki sistem produksinya ke arah yang bertanggung jawab. Perusahaan harus memaksa diri untuk menyesuaikan jumlah produksi dengan kebutuhan pasar agar tidak menghasilkan stok berlebihan. Selanjutnya, daya tahan pakaian perlu ditingkatkan melalui pemilihan bahan dan desain yang memungkinkan produk digunakan dalam jangka panjang serta mudah diperbaiki. Perusahaan juga dapat mengembangkan program pengembalian pakaian bekas (take-back scheme), sehingga produk yang sudah tidak digunakan dapat dikumpulkan untuk diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang. Langkah-langkah ini sangat penting untuk menghapus ketergantungan pada pola produksi baru secara terus-menerus.
Di sisi lain, pemerintah harus menetapkan regulasi yang memastikan produsen bertanggung jawab atas dampak produknya. Salah satu instrumen penting adalah Extended Producer Responsibility (EPR), yang memperluas tanggung jawab produsen hingga tahap pascakonsumsi, termasuk pengumpulan dan pengelolaan limbah. Penerapannya dapat mencakup kewajiban menyediakan fasilitas pengumpulan pakaian bekas, membiayai pengelolaan limbah, serta melaporkan jumlah produk yang dipasarkan dan dikelola setelah masa penggunaannya berakhir. Pemerintah juga harus mendorong transparansi informasi mengenai bahan, daya tahan, dan dampak lingkungan produk agar konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab.
Thrifting tetap dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi bukan pengganti perubahan dalam sistem industri fesyen. Keberlanjutan membutuhkan konsumen yang lebih bijak dalam membeli dan menggunakan pakaian, bisnis yang bertanggung jawab dalam memproduksi, serta pemerintah yang memastikan tanggung jawab terus dijalankan.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Ailsya Shafa Faradibtya adalah mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional di Universitas Brawijaya. Ia memiliki ketertarikan pada isu pembangunan global dan keberlanjutan lingkungan, khususnya terkait pola konsumsi dan tantangan lingkungan di negara berkembang.

TFFF Harus Menjangkau Masyarakat yang Menjaga Hutan
Meningkatnya Risiko Polusi Udara Lintas Batas di Tengah Suhu Panas Ekstrem
Mengeliminasi Tuberkulosis Tanpa Mengabaikan Penyakit Lain
Whimsymaxxing dan Meningkatnya Kekhawatiran terkait Limbah di Balik Tren Viral
Mengakhiri Diplomasi Greenwashing Indonesia
Menilik Masalah Air Limbah Tekstil yang Terus Berkembang