Ambideksteritas Jarum dan Benang: Langkah Nyata Keberlanjutan di Tengah Gempuran Industri Fast Fashion
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Dalam wacana keberlanjutan global, orang-orang kerap terjebak pada narasi elitis: transisi energi makro, teknologi penyerapan karbon, hingga green premium yang hanya bisa diakses segelintir pihak. Padahal, titik rentan terpenting dari sistem ekonomi dan lingkungan kita berada di tempat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: ranah domestik.
Ada ketimpangan struktural yang jarang dibahas secara jujur. Ketika seorang laki-laki merancang busana, menjadi master tailor, atau menjabat executive chef di ranah publik, dunia mengganjarnya dengan status profesional dan kompensasi finansial besar. Namun, begitu keterampilan yang sama persis (menjahit kancing baju yang lepas, memperbaiki kain sobek, atau mengolah makanan keluarga) dilakukan di dalam rumah, nilainya mendadak dianggap nol rupiah. Pekerjaan itu diserahkan hampir sepenuhnya kepada perempuan, dilekatkan sebagai kodrat, dan diabaikan dari kalkulasi kontribusi ekonomi.
Ketidakadilan ini bukan sekadar isu gender, melainkan kegagalan sistemik dalam memahami care economy. Menurut laporan International Labour Organization (ILO) yang berjudul Care Work and Care Jobs, perempuan secara global menanggung 76,2% jam kerja perawatan tak dibayar (unpaid care work). Laporan dari Oxfam dalam Time to Care pun merekam akumulasi sebesar 12,5 miliar jam setiap hari sebagai sebuah subsidi tersembunyi (hidden subsidy) bernilai sedikitnya USD 11 triliun per tahun bagi perekonomian global.
Ketika kerja-kerja perawatan ini diabaikan dan dianggap tak bernilai, terjadi proses deskilling di tingkat rumah tangga. Masyarakat kehilangan kapabilitas dasar untuk merawat barang yang dimiliki, dan industri fast fashion masuk memanfaatkan celah tersebut. Data dari Ellen MacArthur Foundation dalam A New Textiles Economy menunjukkan bahwa meskipun produksi pakaian global melonjak dua kali lipat, masa pakai pakaian (garment lifespan) justru anjlok hampir 40%, dengan 87% bahan baku tekstil berakhir di pembuangan akhir atau dibakar.
Tampil Penuh Gaya dengan Fast Fashion: Kepuasan yang dibangun di atas Kebuasan
Fast fashion adalah model bisnis ekstraktif yang mengandalkan percepatan tren. Secara historis, industri mode berjalan dalam siklus 2–4 musim per tahun (spring/summer dan autumn/winter). Model bisnis fast fashion bertumpu pada tiga pilar eksekusi. Yang pertama adalah eksternalisasi biaya (cost externalization), yaitu menekan biaya produksi dengan memindahkan manufaktur ke negara-negara berkembang yang memiliki regulasi lingkungan longgar dan standar upah rendah. Yang kedua adalah penggunaan material murah dengan cara menggantikan serat alami (misal: kapas, wol) dengan serat sintetis berbasis minyak bumi (poliester, nilon) yang berbiaya rendah namun lambat terurai.Yang ketiga adalah perencanaan keusangan (planned obsolescence) di mana pakaian sengaja dirancang dengan kualitas jahitan dan kain yang rendah agar cepat rusak, melar, atau pudar setelah beberapa kali cuci, sehingga mendesak konsumen untuk kembali membeli.
Perubahan mendasar ini terjadi pada akhir 1980-an hingga 1990-an ketika peritel raksasa menerapkan sistem Just-In-Time (JIT) dan Quick Response Manufacturing. Tren yang muncul di panggung catwalk atau media sosial diproduksi secara massal dan tiba di rak toko hanya dalam kurun 15–20 hari. Siklus yang mulanya bersifat tahunan berubah menjadi micro-seasons mingguan berbasis biaya rendah dan material sintetis seperti poliester.
Kebuasan itu kemudian dibayar dengan biaya yang sangat nyata: jejak karbon dan energi, pencemaran air dan mikroplastik, serta krisis sampah tekstil. Industri tekstil bertanggung jawab atas sekitar 8%–10% emisi karbon global, lebih besar dari gabungan seluruh penerbangan internasional dan pelayaran maritim. Proses pewarnaan tekstil adalah pencemar air bersih terbesar kedua di dunia. Setiap kali pakaian sintetis dicuci, jutaan partikel mikroplastik terlepas dan mencemari ekosistem laut. Gurun Atacama di Chile dan pesisir pantai di Ghana kini menjadi tempat pembuangan akhir raksasa bagi gunungan pakaian bekas dari negara-negara maju. Sebanyak 87% dari total bahan baku tekstil yang diproduksi setiap tahun berakhir di TPA (landfill) atau dibakar. Jangan lupakan pula tragedi di Rana Building di Dhaka, Bangladesh yang menewaskan lebih dari 1.100 pekerja garmen, yang menjadi bukti nyata betapa keselamatan jiwa pekerja dikorbankan demi mengejar efisiensi biaya produksi pakaian murah.
Indonesia dalam Pusaran Dampak Mode Dunia
Untuk Indonesia yang mengalami dua musim, perbedaan antara bulan dengan terpaan matahari melimpah (spring/summer) dengan matahari minim (autumn/winter) itu sebenarnya tidak signifikan. Yang kentara adalah penyesuaian pakaian manakala curah hujan lebih tinggi di bulan-bulan tertentu, serta perbedaan suhu di berbagai kota yang iklim tropisnya masih sama. Tak dapat dipungkiri bahwa dampak fast fashion yang dialami Indonesia adalah bagian dari hegemoni negara empat musim yang memegang kuasa kapitalisme global. Kelahiran fast fashion pada dekade 1980-an hingga 1990-an didorong oleh globalisasi rantai pasok, deregulasi perdagangan tekstil internasional, dan efisiensi industri petrokimia hilir di Asia.
Sebelum pengaturan Perjanjian Tekstil dan Pakaian WTO pada 2005, perjanjian dagang internasional yang terkait kuota impor tekstil mengalami pelonggaran pada akhir 1980-an. Ini memungkinkan pelaku usaha negara maju memindahkan manufaktur massal ke negara berkembang dengan biaya tenaga kerja sangat murah. Indonesia membangun industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) berintegrasi, mulai dari kilang PTA/poliester hingga pabrik garmen. Indonesia menjadi hub manufaktur garmen murah (sweatshops) untuk merek-merek AS dan Eropa karena kombinasi kapasitas manufaktur hulu-hilir dan upah buruh yang sangat kompetitif.
Di sisi lain, berlaku pula Perjanjian MFA (Multi-Fibre Arrangement) yang memungkinkan komersialisasi serat sintetis berbiaya murah. Jadi, meski poliester telah ditemukan pada 1940-an, otomatisasi produksi massal secara dramatis pada 1980-an menjadikannya jauh lebih murah daripada serat alami seperti katun. Ketika sesuatu menjadi terlalu murah, maka ia kehilangan keutamaan atas nilai yang diberikannya. Fast fashion mengikis penghargaan kita terhadap barang yang kita miliki. Pakaian tak lagi dipandang sebagai karya kerajinan atau alat pelindung yang perlu dirawat, melainkan komoditas sekali pakai (disposable item).
Deskilling: Ketika Semua Kelas Sosial Kehilangan Kemampuan Domestik
Karena harga pakaian baru lebih murah daripada biaya memperbaikinya, masyarakat kehilangan keterampilan dasar untuk merawat (maintenance) dan memperpanjang masa pakai barang. Inilah yang terjadi ketika ketahanan ekonomi menjadi rapuh dan sangat tergantung pada pasar konsumtif. Keluarga mengalami fenomena menghilangnya kapabilitas domestik (deskilling) yang terjadi di berbagai kelas sosial.
Kelas Atas (The Wealthy & Upper Class) yang memiliki daya beli tinggi mengalihdayakan fungsi perawatan rumah tangga. Mereka ini adalah yang bahkan mampu mengkonsumsi barang mewah non- fast fashion, tetapi keterampilan merawat secara mandiri dianggap tidak relevan. Akibatnya, jasa concierge laundry dan personal tailors adalah pilihan. Jika pun tidak demikian, Asisten Rumah Tangga (ART) adalah jalan keluarnya. Ketika beban perawatan dilimpahkan ke ART tanpa pembekalan edukasi perawatan bahan (fabric care), tak jarang pakaian mahal yang seharusnya tahan lama menjadi pendek usia pakainya karena diperlakukan dengan cara instan, seperti menggunakan mesin bertekanan tinggi atau deterjen yang keras.
Kelas menengah terperangkap pada kepraktisan dan konsumerisme berulang. Meski mereka tidak seleluasa orang kaya, kelompok ini memiliki disposable income yang cukup untuk membeli pakaian baru secara berkala. Justru inilah episentrum hilangnya kapabilitas maintenance domestik. Waktu kerja yang panjang di sektor formal/korporat membuat waktu luang menjadi sangat berharga. Secara kalkulasi ekonomi mikro, membeli baju baru seharga $10–$20 (atau kisaran Rp100.000–Rp300.000) jauh lebih rasional dibanding meluangkan waktu 1 jam untuk menjahit kancing atau menambal kain. Generasi kelas menengah muda terputus dari transfer pengetahuan keterampilan domestik orang tua mereka.
Sangat nyata di depan mata kita bahwa kelas menengah ini berpartisipasi dalam fenomena global OOTD (Outfit of The day) yang jadi konten media sosial. Perkembangan pesat e-commerce dan live-shopping (TikTok Shop, Shopee) terjadi di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Manila, dan Bangkok. Pembelian pakaian menjadi terapi dopamin (retail therapy). Pakaian dengan cacat kecil (kancing lepas, resleting macet) langsung mengendap di dasar lemari atau dibuang karena dianggap disposable.
Sementara itu, Kelas Bawah (The Lower Class & Working Poor) adalah mereka yang terdesak kemiskinan waktu (time poverty) akibat jam kerja buruh yang panjang, serta kebutuhan inklusi sosial melalui peniruan tren mode (trend imitation). Mereka ini adalah pekerja di sektor formal serta pekerja informal yang menghabiskan 10–12 jam sehari untuk bertahan hidup. Mereka tidak memiliki energi dan kapasitas waktu sisa untuk melakukan maintenance atau upcycling pakaian keluarga. Dengan keadaan ini, timbul dorongan psikologis untuk tidak terlihat miskin, sehingga membuat pakaian ultra-fast fashion yang sangat murah (berbahan poliester/sintetis kualitas terendah) menjadi pilihan utama. Namun karena kualitasnya sangat buruk, pakaian ini cepat rusak dalam hitungan beberapa kali cuci, menciptakan perangkap pemborosan finansial jangka panjang (poverty trap).
Inilah yang sering kita temui dalam bentuk konsumsi pakaian impor ilegal (thrifting karungan kualitas rendah) atau baju murah pasar malam/online shop. Keterampilan menjahit tradisional yang dulu dimiliki masyarakat luntur saat mereka berpindah menjadi buruh urban yang terdesak waktu.
Berdasarkan teori Commodification of Domestic Life, ketika masyarakat mengalami deskilling (kehilangan kemampuan praktis merawat dan memperbaiki barang domestik akibat diabaikannya nilai kerja rumah tangga), industri mengambil alih fungsi tersebut dengan menawarkan kepraktisan berbiaya murah. Fast fashion hadir mengisi kekosongan dari hilangnya kapabilitas maintenance rumah tangga.
Ambidextrous Capability untuk Menantang balik Deskilling & Commodification
Hilangnya keterampilan maintenance domestik (deskilling) terjadi secara bersamaan di semua kelas. Ini bukan sekadar urusan ketangkasan tangan, melainkan krisis kapabilitas yang membentuk ulang psikologi masyarakat sekaligus menciptakan ketimpangan baru. Ketika seseorang tidak mampu memperbaiki kerusakan kecil pada barang milik pribadi, kontrol atas hidupnya bergeser ke luar (external locus of control).
Inilah yang menyebabkan terjadinya kerapuhan ketahanan (resilience fragility). Ketidakmampuan menyelesaikan masalah fisik sederhana memicu kecemasan terselubung dan ketergantungan ekstrem pada pasar. Baju sobek sedikit atau kancing lepas tidak lagi dipandang sebagai masalah kecil yang bisa diselesaikan dalam 5 menit, melainkan krisis kecil yang solusinya adalah mengeluarkan uang.
Ketika terjadi komodifikasi hubungan dengan barang (disposable mindset), barang tidak lagi dipahami sebagai produk dari rantai pasok yang panjang, melainkan sekadar dopamin sementara dari e-commerce. Terjadi erosi ikatan emosional terhadap objek fisik. Tanpa rasa memiliki melalui proses merawat (labor of care), barang kehilangan nilai intrinsiknya. Ini melahirkan siklus konsumtif: beli, pakai singkat, abaikan, lalu buang.
Untuk memutus rantai ketergantungan ini, kita membutuhkan kapabilitas ambidekstrus (ambidextrous capability) yang berarti kemampuan untuk mengelola sisi eksploitasi sebagai dasar efisiensi dan sisi eksplorasi sebagai kemampuan adaptasi. Ketika diaplikasikan di tingkat individu dan keluarga, maka kemampuan ambidekstrus itu mewujud menjadi:
- Sisi Exploitation (Efisiensi Resiliens): Mengoptimalkan dan memperpanjang usia sumber daya yang sudah ada di tangan. Mengajari anak, baik laki-laki maupun perempuan, keterampilan dasar seperti menjahit kancing dan merawat pakaian adalah tindakan pemanfaatan (exploitation) aset terbaik. Kajian Waste & Resources Action Programme (WRAP) membuktikan bahwa memperpanjang masa aktif pakaian hanya selama 9 bulan saja melalui perbaikan kecil mampu mengurangi jejak karbon, air, dan limbah hingga 20%–30%.
- Sisi Exploration (Daya Adaptasi & Dekonstruksi Bias): Mengeksplorasi norma sosial baru yang melampaui konstruksi usang. Dalam konteks pengasuhan, exploration berarti meruntuhkan stereotip gender dengan mendoktrinasi terutama anak laki-laki bahwa menjahit dan memasak adalah keterampilan bertahan hidup (survival skills), bukan beban berbasis gender.
Anak yang diajarkan menjahit kancing bajunya sendiri tidak hanya diajarkan cara menghemat; ia sedang diajarkan systems thinking. Ia belajar memahami bahwa selembar pakaian melibatkan rantai pasok yang panjang dan rentan. Ketika ia mengerti rumitnya merawat selembar kain, ia tidak akan mudah terjebak dalam pola konsumtif.
Mengajak masyarakat untuk adil menilai kerja domestik adalah langkah mendasar untuk mendekonstruksi unpaid care work. Keberlanjutan sejati tidak lahir dari jargon industri atau regulasi papan atas belaka, melainkan dari keberanian ambidekstrus: mengoptimalkan apa yang kita miliki sembari membongkar bias masa lalu sebagai modal melangkah ke masa depan.
Alih-alih mengandalkan program besar dari penyelenggara negara, kita bisa mulai dengan satu ide sederhana untuk menerapkan maintenance rituals. Misalnya saat akhir pekan, setiap keluarga mengalokasikan waktu untuk merawat dan memperbaiki barang bersama. Aktivitas ini mengajarkan kita memahami materialitas barang dan proses di balik pembuatan sebuah benda. Kadang kala, pendidikan keberlanjutan yang sesungguhnya hanya membutuhkan seutas benang, sebatang jarum, dan keadilan berpikir mulai dari obrolan di meja makan keluarga.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Ike Noorhayati adalah Praktisi dan Peneliti Doktoral dengan Fokus Riset Ambideksteritas Organisasional (Organizational Ambidexterity) di Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Risiko Penumpukan Limbah Panel Surya di Tengah Transisi Energi, Bagaimana Mengatasinya?
Panduan Mutakhir untuk Transparansi dan Akuntabilitas Keberlanjutan
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam: Merenungi Kebakaran Hutan dan Lahan yang Terus Berulang
Mewaspadai Intrusi Air Asin di Tengah Krisis Air Global
Overtourism dan Terusirnya Masyarakat Lokal dari Rumah Sendiri
Kemerdekaan, Ekonomi Biru, dan Jalan Indonesia Mencapai SDGs