Mewaspadai Intrusi Air Asin di Tengah Krisis Air Global
Foto: Frank Brannen di Pexels.
Di tengah kondisi sungai yang mengering dan curah hujan yang semakin minim, kebutuhan untuk memastikan ketersediaan air tawar tidak pernah terasa lebih mendesak. Namun, ancaman lain mengintai: air laut merembes ke dalam cadangan air tanah, yang dikenal sebagai intrusi air asin. Krisis yang bergerak dengan “senyap” ini mengancam berbagai sektor vital dalam kehidupan kita.
Sistem yang Berada di Bawah Tekanan
Dari seluruh air yang ada di Bumi, air tawar hanya mencakup 2,5 persen. Porsi yang kecil tetapi sangat penting ini menopang irigasi pertanian, kebutuhan minum dan memasak, serta kesehatan ekosistem.
Namun, sumber daya vital ini nyaris runtuh akibat kebutuhan yang terus meningkat dan mendorong pengambilan air secara berlebihan. Pertanian, misalnya, terus berkembang seiring pertumbuhan populasi. Sektor ini menggunakan sekitar 70 persen dari total pengambilan air tawar. Pada 2024, sekitar 10 persen penduduk dunia telah tinggal di negara-negara yang mengalami tekanan air tinggi atau kritis. Yang lebih mengkhawatirkan, para pakar PBB telah memperingatkan kemungkinan terjadinya “kebangkrutan air”, yakni kondisi ketika kerusakan yang terjadi mungkin tidak dapat dipulihkan dan pemulihan menjadi mustahil.
Perubahan iklim memperburuk keadaan karena turut memicu terjadinya intrusi air asin. Kenaikan permukaan laut akibat mencairnya gletser dan pemanasan laut mendorong air asin masuk semakin jauh ke dalam sistem air tanah di wilayah pesisir. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The Conversation, ahli hidrogeologi pesisir Holly Michael mengibaratkan dinamika air ini layaknya jungkat-jungkit.
“Dorongan dari sisi daratan, seperti hujan lebat atau aliran sungai yang tinggi, menggeser titik keseimbangan ke arah laut. Dorongan dari sisi laut—baik kenaikan permukaan laut, gelombang badai, maupun pasang tinggi—menggeser titik keseimbangan ke arah daratan.”
Di wilayah dengan tekanan air tawar yang rendah akibat pengambilan air berlebihan, air laut dapat merembes semakin jauh dan meningkatkan konsentrasi garam dalam air. Akibatnya, air menjadi tidak aman untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk irigasi.
Ancaman yang Merambat ke Berbagai Sektor
Intrusi air asin merupakan ancaman yang kian besar bagi berbagai sektor vital. Kandungan garam yang terlalu tinggi dalam air dan tanah mengurangi kemampuan tanaman untuk menyerap nutrisi, air, dan karbon dioksida yang diperlukan bagi pertumbuhan.
Di Delta Mekong, Vietnam, air asin merembes hingga 90 kilometer ke daratan di wilayah pesisir ketika kekeringan parah menyebabkan penipisan air tanah pada 2016. Kawasan ini dikenal sebagai lumbung pertanian Vietnam, yang menghasilkan sebagian besar komoditas pangan pokok seperti beras, buah-buahan, dan sayuran. Kekeringan tersebut berdampak pada sekitar 230.000 hektare sawah dan menyebabkan 1,75 juta orang kehilangan sumber pendapatan. Menurut Bank Dunia, pola kekeringan dan intrusi air laut yang berulang di Delta Mekong justru membalikkan kemajuan pengentasan kemiskinan yang telah dicapai.
Petani dan masyarakat pesisir di Indonesia, Gambia, dan Amerika Serikat juga menghadapi persoalan serupa. Bahkan, sebuah penelitian memproyeksikan bahwa sekitar 41 negara di seluruh benua, kecuali Antarktika, akan memiliki setidaknya satu segmen pesisir dengan intrusi air asin lebih dari satu kilometer ke daratan pada 2050. Tujuh di antaranya diidentifikasi memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi, dan semuanya berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Selain mengganggu pertanian, salinisasi air tawar juga secara langsung memengaruhi ketersediaan air minum. Di Sulawesi, air laut telah masuk ke puluhan sumur air tanah dan membuat airnya tidak layak diminum. Kondisi tersebut memaksa masyarakat membeli air dalam galon dan menampung air hujan setiap kali memungkinkan.
Selain itu, ketika masyarakat mengonsumsi air “asin” karena kurangnya pengetahuan atau keterbatasan sumber daya untuk membeli air bersih, kesehatan mereka pun dapat terancam. Asupan garam secara umum dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, yang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronis, dan demensia. Beban kesehatan ini semakin menambah kerentanan sistem air kita terhadap dampak perubahan iklim.
Mengatasi Intrusi Air Asin
Salah satu cara untuk mengendalikan intrusi air asin adalah membangun penghalang fisik antara akuifer air tawar dan laut. Bendungan bawah tanah, seperti yang dibangun di Jepang, menawarkan pilihan yang layak untuk menyimpan air tanah bagi pertanian sekaligus menahan intrusi air asin. Bentuk penghalang bawah tanah lainnya mencakup dinding penahan yang ditanam di bagian atas akuifer serta penghalang yang menembus seluruh lapisan akuifer.
Selain itu, pengelolaan pasokan air melalui pengisian kembali akuifer secara sengaja, pengembangan alternatif seperti pemanenan air hujan, serta pengaturan pengambilan dan alokasi air juga sangat penting. Konservasi ekosistem, seperti memulihkan hutan mangrove, lahan basah, dan gumuk pasir pesisir, juga dapat menjadi penyangga alami terhadap gelombang badai, banjir, dan intrusi air asin.
Jika kontaminasi terlanjur terjadi, masyarakat dapat beradaptasi melalui pembangunan fasilitas desalinasi, penyesuaian metode irigasi, dan penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap salinitas. Berbagai langkah mitigasi dan adaptasi ini bergantung pada kapasitas manajemen bencana suatu negara, termasuk kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan dalam menghadapi kekeringan serta berbagai ancaman lainnya.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Overtourism dan Terusirnya Masyarakat Lokal dari Rumah Sendiri
Kemerdekaan, Ekonomi Biru, dan Jalan Indonesia Mencapai SDGs
Mengapa Dunia Masih Belum Mencapai Perjanjian Plastik Global
Memahami Dampak Perubahan Iklim terhadap Malaria di Afrika
Ketika Sosiologi Menginterogasi ESG
Menyibak Kabut Pesimisme Iklim dengan Data