Hutan Vertikal Pertama China dan Penggunaan Desain Biofilik untuk Ruang Perkotaan Berkelanjutan

Foto oleh Stefano Boeri Architetti
Saat ini, sebagian besar penduduk dunia hidup di wilayah perkotaan. Ketika ruang kota identik dengan modernitas, kota yang baik mestilah memiliki ruang terbuka hijau yang memungkinkan para penghuninya berinteraksi dengan lingkungan alam.
Interaksi yang cukup dengan alam akan memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Dengan tujuan inilah, hutan vertikal pertama di Cina dibuat.
Kompleks Kota Hutan Vertikal Easyhome Huanggang
Kompleks Kota Hutan Vertikal Easyhome Huanggang memiliki luas 4,54 hektare dengan lima menara untuk hunian, hotel, dan urusan komersil. Kompleks hijau tersebut didesain oleh Stefano Boeri Architetti, yang juga membangun hutan vertikal pertama di Milan yang dikenal sebagai Boso Verticale.
Dua menara perumahan merupakan bagian yang paling mencolok dari kompleks tersebut. Penataan balkon yang tanpa pola membuat pohon dan semak-semak dapat tumbuh dengan leluasa. Dengan begitu, penghuni dapat menikmati ruang kota mereka sambil dikelilingi oleh alam.
Studio ini juga merancang ruang hijau yang luas untuk area bisnis kompleks, yang memungkinkan orang-orang dari ruang kerja maupun ruang hunian berinteraksi dengan lingkungan alam.
Penggunaan desain biofilik
Stefano Boeri Architetti adalah salah satu studio yang mengampanyekan hutan kota di perkotaan. Memasukkan unsur alam dalam konstruksi bangunan merupakan salah satu prinsip desain biofilik. Kata ‘biofilik’ sendiri berasal dari kata biophilia, yang berarti ‘cinta pada makhluk hidup’.
Desain biofilik bertujuan untuk menciptakan lingkungan modern yang baik yang dapat meningkatkan kesehatan, kebugaran, serta kesejahteraan masyarakat. Pendekatan meyakini bahwa orang-orang seharusnya dapat berinteraksi dengan alam dalam kesehariannya. Pendekatan ini juga dipandang sebagai salah satu pilihan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Merancang bangunan, jalan, dan ruang terbuka untuk memasukkan lebih banyak unsur alam adalah salah satu cara untuk menerapkan desain biofilik dalam skala besar. Namun, para peneliti juga menyarankan cara untuk menerapkan desain biofilik pada skala yang lebih kecil. Caranya meliputi menanam tanaman, menggantung foto alam di sekitar rumah, dan memastikan bahwa ruang hunian kita memiliki sirkulasi udara dan cahaya alami yang baik.
Desain perkotaan yang berkelanjutan
Lingkungan hunian dan tempat bekerja sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia. Kota yang memiliki beberapa taman sebagai ruang hijau perkotaan adalah kota yang ideal. Apalagi, dengan begitu banyaknya waktu yang kita habiskan di meja setiap harinya, akses mudah untuk berhubungan dengan alam akan sangat bermanfaat.
Hari ini, ada 7,9 miliar orang di bumi. PBB memperkirakan pada tahun 2050, 68% penduduk dunia akan tinggal di perkotaan. Penggunaan desain biofilik dalam perencanaan kota bisa menjadi cara untuk membuat lingkungan alam mudah diakses oleh penduduk.
Sumber: Stefano Boeri Architetti, Kellert & Calabrase
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia

Konten Publik GNA berupaya menginspirasi perubahan sosial skala besar dengan menyediakan pendidikan dan advokasi keberlanjutan yang dapat diakses oleh semua orang tanpa biaya. Jika Anda melihat Konten Publik kami bermanfaat, harap pertimbangkan untuk berlangganan GNA Indonesia. Langganan Anda akan menguntungkan Anda secara pribadi dan profesional sekaligus mendukung keberlanjutan finansial GNA untuk terus memproduksi konten-konten yang tersedia untuk umum ini.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.