Bagaimana Afrika Mencapai Rekor Lonjakan Energi Surya
Johannesburg, Afrika Selatan. | Foto: Jolame Chirwa di Unsplash.
Satu dekade lalu, Afrika kerap digambarkan sebagai kawasan yang “miskin energi”. Sekitar 600 juta penduduk Afrika Sub-Sahara tidak memiliki akses listrik, meskipun benua ini kaya akan sumber daya energi terbarukan. Saat energi terbarukan melampaui batu bara sebagai sumber listrik global pada 2025, lonjakan energi surya Afrika menjadi tonggak pertumbuhan penting di benua tersebut.
Skala Energi Surya yang Meluas di Afrika
Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) tahun 2022 mencatat bahwa hingga 2021, sebanyak 53 negara Afrika telah menyerahkan dokumen Nationally Determined Contributions (NDC) dalam kerangka Perjanjian Paris. Sekitar 40 negara di antaranya memasukkan target energi terbarukan, terutama di sektor ketenagalistrikan.
Ambisi Afrika sebenarnya sudah lama terlihat, mulai dari komitmen iklim era Paris dan NDC hingga berbagai pertemuan tingkat benua serta Inisiatif Energi Terbarukan Afrika (Africa Renewable Energy Initiative). Targetnya tak main-main dan dipimpin langsung oleh negara-negara Afrika sendiri.
Namun, kurangnya pembiayaan, hambatan regulasi, ketidakstabilan politik, serta minimnya investasi pada jaringan listrik selama bertahun-tahun kerap memperlambat laju perkembangan. Riset menunjukkan Afrika baru memanfaatkan sekitar 1% dari potensi energi suryanya, menandakan jurang besar antara ketersediaan sumber daya dan implementasi nyata.
Lantas, 2025 menandai pertumbuhan energi surya tercepat sepanjang sejarah Afrika. Di seluruh benua, instalasi tenaga surya meningkat 54% secara tahunan hingga mencapai 4,5 GW, melampaui rekor sebelumnya pada 2023. Pada tahun itu saja, delapan negara Afrika masing-masing memasang lebih dari 100 MW kapasitas surya (dua kali lipat dibanding 2024), menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak lagi terbatas pada pasar perintis. Kapasitas energi surya Afrika pun diproyeksikan meningkat enam kali lipat pada 2029, menyusul capaian rekor tersebut.
Bagaimana Pembiayaan Membawa Perubahan
Sumber daya Afrika tetap sama, tetapi sistemnya matang. Investasi energi swasta meningkat dari 17 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 40 miliar dolar AS pada 2024. Pada 2025, Afrika mengamankan pendanaan sebesar 13,84 miliar dolar AS melalui 306 kesepakatan transisi energi, dengan proyek energi bersih menyumbang 98,3% dari total nilai investasi.
Afrika memperluas investasi ini melalui skema pembiayaan campuran (blended finance). Program Scaling Solar dari International Finance Corporation (IFC) berhasil menarik investasi swasta ke proyek tenaga surya skala utilitas di Zambia, Senegal, dan Madagaskar. Selain itu, dana SEFA dari African Development Bank memobilisasi pembiayaan konsesional untuk memperluas proyek energi bersih, sementara Beyond the Grid Fund for Africa mendukung solusi luar jaringan di Zambia, Liberia, Uganda, Republik Demokratik Kongo, Burkina Faso, dan Mozambik.
Lonjakan energi surya Afrika juga dipengaruhi pertumbuhan pasar energi bersih global. Persaingan yang meningkat mendorong penurunan biaya energi terbarukan secara signifikan. Pada 2025, tenaga surya fotovoltaik (PV) menjadi sumber listrik berbiaya terendah di banyak negara Afrika. Lelang kompetitif lintas negara turut menekan biaya sekaligus mendorong investasi PV berbasis swasta. Sistem lelang ini memberi sinyal kuat kepada investor bahwa proyek memiliki kelayakan finansial, karena kontrak jangka panjang yang didukung pemerintah mengurangi risiko pendapatan secara signifikan.
Lebih dari Sekadar Jaringan Listrik
Ekspansi perluasan jaringan listrik regional, yang menghubungkan jaringan listrik di Afrika Barat, Timur, dan Selatan, juga memperluas jangkauan tenaga surya. Konektivitas ini memungkinkan perdagangan energi lintas batas dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit cadangan berbiaya tinggi.
Sementara itu, pembangunan juga berlangsung di dalam batas-batas negara. Perluasan jaringan listrik nasional ke wilayah pedesaan Afrika sangat lambat dan mahal, tetapi jaringan listrik mini (mini-grid) mampu mengatasi hambatan tersebut. Dalam satu dekade sejak 2010, tingkat elektrifikasi pedesaan di Afrika Sub-Sahara meningkat dari 17% menjadi 28%. Sebanyak 11 juta mini-grid yang kini beroperasi menerangi rumah, menghidupkan sekolah dan klinik, menggerakkan pompa irigasi, serta menopang ekonomi digital.
Langkah ke Depan
Afrika memiliki peluang besar untuk membangun industri hijau. Kekayaan mineral kritisnya (seperti tembaga, litium, dan kobalt), ditambah tenaga kerja yang terus tumbuh dan momentum energi bersih, dapat menjadi landasan transformasi industri. Namun, di tengah pertumbuhan ini, penting untuk memastikan bahwa pengembangan energi bersih berlangsung secara adil, sekaligus melindungi hak dan kesejahteraan masyarakat serta keanekaragaman hayati.
Terlebih lagi, Afrika tengah membangun infrastruktur dan tata kelola untuk mencapai kemakmuran tanpa polusi, berpotensi menjadi benua pertama yang yang melakukan industrialisasi melalui energi bersih. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut transisi energi terbarukan Afrika sebagai “peluang ekonomi abad ini”.
Saat ini, Afrika masih hanya menerima 3% dari total investasi energi global. Namun pada 2025, benua ini mencatat pertumbuhan tenaga surya tercepat dalam sejarah. Terobosan ini bukan semata hasil kelimpahan sumber daya, melainkan buah dari kebijakan yang tepat, kerja sama regional, dan pembiayaan berkelanjutan. Jika 2025 adalah titik balik, maka dekade berikutnya—dengan investasi yang lebih dalam, jaringan listrik yang lebih kuat, dan pasar yang semakin matang—dapat menjadi awal era energi surya Afrika.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Meningkatkan Peran Sektor Swasta dalam Atasi Ancaman Krisis Fertilitas
Kapitalisme Bukanlah Takdir: Membaca Clara Mattei di Tengah Kelelahan Kolektif
Mengintegrasikan Pertanian dalam Permukiman Perkotaan dengan Konsep Agrihood
Meningkatkan Pelindungan Anak di Ruang Digital dengan Pendekatan Tanggung Jawab Bersama
Merangkul Nilai Bisnis Keberlanjutan
Perempuan dalam Pengelolaan Sampah: Mewujudkan Sirkularitas yang Responsif Gender