Fenomena Green Burnout di Kalangan Pekerja Sustainability dan Aktivis Iklim
Foto: Christopher Welsch Leveroni di Pexels.
Ada sebuah ironi yang menyedihkan di sektor sustainability (keberlanjutan). Di tengah kondisi dunia yang berubah dengan cepat, para profesional yang mendedikasikan karier mereka untuk membangun dunia yang lebih sehat justru banyak yang diam-diam mengalami kelelahan yang mendalam—yang disebut dengan istilah “green burnout”. Green burnout—suatu bentuk kelelahan kerja yang khas dialami mereka yang bergelut dalam isu lingkungan dan iklim—kini menyebar di kalangan pekerja sektor sustainability.
Green Burnout di Tengah Dunia yang Berubah
Sebuah studi pada 2024 yang dilakukan oleh Oxford Brookes Business School menemukan bahwa 62 persen profesional sustainability mengalami kelelahan kerja yang berkaitan dengan pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir. Yang lebih mengkhawatirkan, 69 persen responden menyatakan bahwa organisasi tempat mereka bekerja tidak membekali mereka secara memadai dengan keterampilan untuk menghadapi tekanan tersebut. Sementara itu, penelitian pada 2025 yang mengkaji fenomena pengunduran diri dan pelepasan diri (disengagement) di kalangan aktivis iklim dalam gerakan Extinction Rebellion mengidentifikasi kelelahan sebagai salah satu dari tiga tema utama yang muncul.
Angka-angka ini bukan berasal dari kelompok pinggiran yang sedang kesulitan. Mereka merepresentasikan arus utama dari sebuah sektor yang kini diandalkan dunia untuk mendorong perubahan.
Para ilmuwan iklim dan aktivis lingkungan sangat rentan mengalami burnout serta keputusasaan akibat lambatnya kemajuan menuju keberlanjutan. Bersamaan dengan itu, mereka juga menghadapi eco-grief (duka ekologis) dan kecemasan ekologis (eco-anxiety). Kondisi ini muncul karena mereka menyaksikan kerusakan lingkungan berlangsung secara nyata di berbagai penjuru dunia. Bagi mereka yang bekerja secara profesional di bidang ini, paparan emosional tersebut bukanlah sesuatu yang sesekali terjadi, tetapi kerap menjadi latar belakang harian dari setiap tugas, rapat, laporan, dan tenggat waktu.
Penyebab dan Mereka yang Mengalami
Green burnout memiliki karakteristik yang berbeda dari stres dan kelelahan kerja pada umumnya. Dalam banyak hal, kondisi ini lebih menyerupai masalah yang selama ini dihadapi oleh dunia aktivisme dan organisasi nirlaba.
Penelitian yang diterbitkan pada 2025 dalam jurnal Healthcare menemukan bahwa kelelahan aktivis dalam konteks perjuangan keadilan iklim memiliki kemiripan yang kuat dengan kelelahan pada profesi-profesi yang berorientasi membantu orang lain. Stres dan sikap sinis perlahan menumpuk dari waktu ke waktu hingga seseorang mencapai titik jenuh dan tidak mampu lagi melanjutkan perjuangannya.
Pekerja organisasi nirlaba dan organisasi masyarakat sipil secara konsisten menempati kelompok profesi dengan tingkat burnout tertinggi di dunia. Bahkan, mereka berada di peringkat teratas dalam survei kelelahan lintas sektor pada 2019 dan hal sama terjadi kembali pada 2025. Laporan State of Nonprofits 2024 dari Center for Effective Philanthropy menunjukkan bahwa 95 persen pemimpin organisasi nirlaba mengaku khawatir terhadap kelelahan staf mereka. Bahkan, 75 persen menyatakan kondisi tersebut sudah memengaruhi kemampuan organisasi dalam menjalankan misinya.
Ketika suhu Bumi terus meningkat dan dampak perubahan iklim semakin memburuk, munculnya green burnout sebenarnya tidak mengejutkan. Tekanan terus meningkat, sementara para pekerja keberlanjutan terus-menerus terpapar pemicu duka ekologis dan kecemasan ekologis. Mereka berjibaku dengan perasaan bahwa waktu semakin sempit untuk membawa perubahan yang berarti, sembari memikul beban eksistensial karena bekerja menghadapi krisis yang tidak memiliki batas akhir yang jelas.
Masalah Struktural
Para aktivis dan pekerja organisasi nirlaba mengidentifikasi sejumlah faktor yang menyebabkan burnout hingga akhirnya membuat mereka menjauh dari gerakan atau pekerjaannya. Mereka menyebut upah yang rendah, kekurangan tenaga kerja, tuntutan emosional yang berat, serta kesenjangan antara urgensi misi dan sumber daya yang tersedia untuk mewujudkannya.
Di antara para pemimpin organisasi nirlaba yang menempatkan burnout sebagai kekhawatiran utama, 62 persen menunjuk tantangan pendanaan dan meningkatnya permintaan layanan sebagai dua penyebab utama krisis tersebut. Dengan kata lain, peran mereka semakin penting bagi masyarakat, tetapi dukungan internal yang mereka terima justru semakin menyusut.
Para pekerja sustainability beroperasi dalam realitas struktural yang sama. Lebih dari enam dari sepuluh profesional sustainability melaporkan bahwa mereka mengalami burnout dalam setahun terakhir. Survei tersebut menunjukkan bahwa kekurangan tenaga kerja dan minimnya dukungan untuk mengembangkan keterampilan penting menjadi penyebab utama. Sektor ini dituntut untuk melakukan lebih banyak pekerjaan dengan lebih sedikit orang dan dengan penopang emosional yang jauh dari memadai.
Namun, akar persoalan green burnout sebenarnya lebih dalam daripada sekadar beban kerja dan kurangnya dukungan. Kelelahan ini juga lahir dari rasa keterasingan. Hari demi hari, para aktivis iklim dan profesional keberlanjutan bekerja dengan kesadaran bahwa sistem yang mereka hadapi sering kali tidak sejalan dengan urgensi krisis yang sedang mereka coba atasi.
Mengatasi Green Burnout
Sektor sustainability tidak bisa terus-menerus mengorbankan orang-orang yang berupaya menciptakan masa depan yang lebih baik bagi manusia dan planet ini. Pekerjaan yang mereka lakukan teramat penting, sementara talenta di bidang ini terlalu langka, untuk menganggap green burnout sebagai sekadar masalah individu.
Para praktisi di sektor nirlaba menegaskan bahwa burnout berkembang subur dalam kesendirian. Karena itu, mereka merekomendasikan terciptanya ruang-ruang koneksi dengan rekan sejawat dan kepemimpinan yang mampu mendeteksi serta menghentikan eskalasi burnout sebelum seseorang memilih pergi. Mereka secara khusus menyoroti pentingnya ruang berbagi pengalaman (peer debriefing) dan komunikasi rutin yang proaktif antara manajer dan anggota tim.
Penelitian dari Harvard Business School memperkuat temuan tersebut. Studi itu menunjukkan bahwa keamanan psikologis—yakni kondisi ketika pekerja dapat menyampaikan pendapat, kekhawatiran, atau kesulitan tanpa takut dihukum atau disalahkan—merupakan salah satu pelindung paling efektif terhadap burnout. Hal ini terutama berlaku di lingkungan kerja yang penuh tekanan dan memiliki keterbatasan sumber daya.
Selain itu, Yale Program on Climate Change Communication merekomendasikan agar organisasi yang bergerak di bidang sustainability secara aktif memprioritaskan kesehatan mental para pekerjanya. Ini mencakup pembangunan sistem yang memungkinkan emosi-emosi negatif diakui dan dibicarakan, bukan ditekan atau diabaikan. Komunitas dan rasa kebersamaan juga perlu dibangun sebagai bagian inti dari budaya organisasi, bukan sekadar manfaat tambahan.
Pada akhirnya, membebankan seluruh tanggung jawab kepada individu untuk terus beradaptasi dalam situasi yang pada dasarnya tidak berkelanjutan bukanlah solusi. Organisasi perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan keterlibatan jangka panjang tetap terjaga. Dengan saling mendukung, mereka dapat terus bergerak menuju masa depan yang lebih baik bagi manusia maupun planet Bumi.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Akankah Kita Menjadi Kekuatan Positif bagi Pemulihan Bumi?
Menguatnya Sinyal Peringatan Perubahan Iklim
Peran Penting Kayu Mati bagi Lingkungan dan Ancaman Penyusutan Akibat Aktivitas Manusia
Ketidakadilan Pembiayaan Iklim: Bagaimana Perubahan Iklim Menguras Negara-Negara Berkembang
Pentingnya Pendekatan One Health dalam Konservasi
Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Peta Pangan Dunia