Mengulik Kerentanan Anak terhadap Panas Ekstrem
Foto: Jess Zoerb di Unsplash.
Dampak suhu ekstrem sangat berat bagi tubuh manusia. Kini, bayangkan dampaknya terhadap anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Seiring terus meningkatnya suhu bumi akibat emisi gas rumah kaca yang dipicu oleh aktivitas manusia, perhatian lebih perlu dicurahkan untuk memahami bagaimana panas ekstrem memengaruhi anak-anak. Hal ini merupakan kunci untuk mempercepat langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap panas demi kesejahteraan mereka di tengah perubahan iklim.
Suhu Bumi yang Terus Meningkat
Sejak 2023, suhu global terus memecahkan rekor dari tahun ke tahun. Tidak mengherankan jika musim kemarau 2026 menjadi jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya. Eropa mengalami gelombang panas bersejarah pada Juni 2026 yang berdampak pada lebih dari 150 juta orang dan menyebabkan sekitar 1.300 kematian.
Fenomena ini bukanlah persoalan baru. Pada Mei 2026, sejumlah negara di Asia Selatan melaporkan lonjakan suhu yang melampaui kondisi normal hingga mencapai sekitar 45–50°C. Sementara itu, kawasan Afrika pada 2025 mengalami pemanasan yang berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Meski para ilmuwan telah lama memperingatkan tren kenaikan suhu ini, kesiapsiagaan dalam menghadapi panas ekstrem masih jauh dari memadai. Akibatnya, jumlah korban pun tetap tinggi.
Anak-anak di Bawah Ancaman Panas Ekstrem
Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terdampak panas menyengat. Di Prancis, misalnya, dua anak ditemukan meninggal dunia di dalam sebuah mobil pada 22 Juni 2026, yang diduga akibat gelombang panas.
Tubuh manusia pada dasarnya memiliki kemampuan mengatur suhu melalui proses berkeringat. Namun, sistem termoregulasi tersebut belum berkembang secara optimal pada bayi dan anak-anak. Tubuh mereka yang lebih kecil lebih cepat menyerap panas, tetapi memiliki kemampuan yang terbatas untuk melepaskannya melalui keringat. Selain itu, anak-anak masih bergantung pada orang dewasa untuk membantu mereka mendinginkan tubuh, mulai dari berpindah ke tempat yang lebih sejuk hingga sekadar memperoleh air minum.
Kerentanan ini semakin diperparah oleh berbagai faktor, termasuk kondisi sosial-ekonomi dan lokasi tempat tinggal. Analisis UNICEF menunjukkan sekitar 466 juta anak hidup di wilayah yang jumlah hari bersuhu panasnya telah meningkat dua kali lipat dibandingkan dekade 1960-an, tanpa dukungan infrastruktur yang memadai untuk menghadapi kondisi tersebut.
Dampak Buruk bagi Kesehatan
Panas ekstrem bahkan dapat memengaruhi kesehatan anak sejak sebelum mereka dilahirkan. Cuaca panas memberikan tekanan tambahan pada tubuh ibu hamil yang memang sedang mengalami perubahan fisiologis besar untuk menopang kehidupan baru.
McElroy dkk. (2022) menjelaskan bahwa pertumbuhan dan metabolisme janin meningkatkan produksi panas di dalam tubuh ibu. Pada saat yang sama, kemampuan tubuh ibu untuk menghadapi stres akibat panas justru menurun. Kondisi tersebut dapat memicu persalinan spontan lebih awal. Tanpa dukungan layanan kesehatan yang memadai, hal ini berisiko menyebabkan komplikasi jangka panjang, bahkan kematian pada bayi.
Paparan panas ekstrem juga meningkatkan risiko cedera fisik pada anak. Sebuah penelitian di Kota Guangzhou menemukan bahwa panas ekstrem berkaitan dengan peningkatan risiko cedera tidak disengaja pada anak sebesar 12,5–17,1%, seperti terjatuh, luka bakar, maupun kecelakaan lalu lintas. Meningkatnya aktivitas luar ruang saat cuaca panas, ditambah kemampuan adaptasi dan naluri menjaga keselamatan yang masih terbatas, membuat anak-anak lebih rentan mengalami kecelakaan.
Sementara itu, seorang peneliti di Inggris memperingatkan soal meningkatnya risiko tenggelam yang tidak disengaja, terutama karena semakin banyak anak bermain di sekitar perairan untuk mengurangi rasa gerah. Sejumlah penelitian juga menunjukkan peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat dan rawat inap pada anak akibat paparan panas ekstrem, terutama karena dehidrasi dan infeksi bakteri pada saluran pencernaan.
Beragam Ancaman dan Sistem yang Tak Siap
Yang lebih mengkhawatirkan, panas ekstrem bukanlah satu-satunya ancaman iklim yang dihadapi saat ini. Di berbagai belahan dunia, jutaan anak harus menghadapi berbagai risiko iklim yang saling bertumpuk. Laporan Children Climate Risk Report 2026 dari UNICEF memperkirakan sekitar 296 juta anak saat ini hidup dalam kondisi yang secara bersamaan terpapar kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.
Ketiga ancaman tersebut saling berkaitan dan dapat memperparah satu sama lain. Panas menyebabkan tanah semakin kering, sehingga memperburuk kekeringan dan mengganggu pertumbuhan tanaman. UNICEF memperkirakan bahwa kerawanan pangan akibat bahaya iklim dapat menyebabkan tambahan 28 juta anak mengalami wasting dan 40 juta anak mengalami stunting pada tahun 2050. Kombinasi berbagai ancaman iklim tersebut mengguncang sistem-sistem penting yang menopang tumbuh kembang anak.
Dampak panas juga menjalar ke sektor pendidikan. Secara biologis, suhu tinggi memengaruhi proses belajar dan perkembangan kognitif anak. Sebuah studi dari New York University menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di wilayah dengan suhu maksimum harian di atas 30°C memiliki kemungkinan hampir 7% lebih rendah untuk mencapai kemampuan dasar literasi dan numerasi dibandingkan anak-anak yang hidup di lingkungan yang lebih sejuk.
Pada saat yang sama, penutupan sekolah menjadi semakin sering terjadi selama gelombang panas. Langkah ini memang dimaksudkan untuk melindungi keselamatan siswa dan guru. Namun, di sisi lain, penutupan tersebut juga mencerminkan ketidakmampuan banyak sekolah menghadapi suhu yang terus meningkat, terutama karena minimnya sistem pendingin.
Sebagian anak masih dapat mengikuti pembelajaran secara daring. Namun, tidak sedikit yang sama sekali kehilangan kesempatan belajar. Di wilayah yang dilanda kekeringan, ketidakhadiran di sekolah juga semakin umum terjadi karena anak-anak harus membantu keluarga, seperti mengambil air atau bekerja di lahan pertanian. Tanggung jawab tersebut membuat mereka kehilangan waktu belajar dan berdampak pada pencapaian belajar mereka.
Ketahanan terhadap Panas Menjadi Kebutuhan Mendesak
“Kita baru saja melewati sebelas tahun terpanas yang pernah tercatat. Bencana iklim kini semakin sering terjadi, semakin merusak, dan semakin mahal dampaknya,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam London Climate Week.
Di tengah krisis iklim yang semakin luas dan parah, mempercepat upaya mitigasi dan adaptasi terhadap panas ekstrem merupakan kebutuhan yang mendesak. Kerentanan anak terhadap panas merupakan kondisi biologis yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, pemerintah perlu memusatkan perhatian pada penguatan akses dan ketahanan berbagai sistem serta infrastruktur yang paling dibutuhkan anak-anak.
Hal tersebut mencakup penguatan fasilitas layanan kesehatan agar lebih tangguh terhadap perubahan iklim, baik dari sisi infrastruktur maupun kapasitas tenaga kesehatannya. Mobilisasi sumber daya harus menjadi prioritas pemerintah. Memastikan fasilitas layanan kesehatan primer memiliki akses yang andal terhadap peralatan medis, air bersih dan sanitasi, serta pasokan energi untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien merupakan langkah yang sangat penting. Selain itu, keberlangsungan layanan penyelamatan jiwa bagi anak-anak hanya dapat terjamin apabila tenaga kesehatan mendapat pelatihan, pengetahuan, dan dukungan yang memadai dalam menghadapi keadaan darurat akibat perubahan iklim.
Di sektor pendidikan, sekolah dapat meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap panas dengan memperbanyak ruang terbuka hijau untuk melindungi aktivitas luar ruang, sekaligus menyediakan pendingin ruangan dan stasiun air minum guna membantu siswa menghadapi suhu tinggi di dalam kelas. Mengingat berbagai upaya tersebut membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak singkat, sekolah juga dapat mulai menerapkan sistem peringatan dini serta pedoman antisipasi menghadapi gelombang panas.
Meski strategi adaptasi sangat mendesak, langkah yang sama pentingnya—bahkan mungkin lebih penting—adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara global guna membatasi meningkatnya panas ekstrem. Pada akhirnya, aksi iklim yang benar-benar mampu melindungi manusia dan bumi hanya dapat terwujud melalui percepatan upaya mitigasi dan adaptasi yang tidak meninggalkan seorang pun di belakang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menegaskan Tanggung Jawab Negara dalam Menghadapi Krisis Iklim
Bagaimana Ledakan Pusat Data di Asia Menguras Wilayah yang Dilanda Kekeringan
Perdebatan Sengit di Eropa soal Penggunaan AC dan Bagaimana Mengatasi Gelombang Panas
Bertani Sembari Menyembuhkan Bumi: Menonton Groundswell dengan Penuh Harap
Nestapa Perempuan di Pusat Pertambangan Kobalt di Kongo
Mendukung Pekerja Gig di Tengah Dunia Kerja yang Kian Rentan