Bagaimana Satwa Liar Bertahan dari Kebakaran Hutan?
Foto: Nikola Tomašić di Unsplash.
Mulai dari gelombang panas yang memecahkan rekor hingga kebakaran hutan berskala besar, saat ini kita benar-benar sedang mengalami bagaimana rasanya hidup di dunia yang dilanda kebakaran. Ketika jutaan orang kehilangan rumah dan kesulitan bernapas di tengah pekatnya asap, satwa liar yang hidup di dalam atau di sekitar titik api juga menghadapi perjuangan serupa. Lantas bagaimana posisi satwa liar dalam manajemen bencana di tengah risiko yang terus meningkat?
Kebakaran Hutan yang Semakin Besar dan Semakin Sering Terjadi
Dalam beberapa tahun terakhir, kita mengalami kebakaran hutan yang semakin intens, baik dari segi frekuensi maupun skalanya. Hingga Agustus 2026, petugas pemadam kebakaran di Amerika Serikat telah menangani 52.253 kebakaran hutan. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan angka yang biasanya tercatat dalam beberapa dekade terakhir. Kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Ávila, Spanyol, disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak 1961, sementara luas wilayah yang terbakar di Eropa sepanjang 2025 mencapai rekor sekitar 1.034.552 hektare.
Di Indonesia sendiri, per 1 September 2026, tiga provinsi di Kalimantan mencatat 7.863 titik panas di tengah musim kemarau yang sangat kering dengan curah hujan yang sangat rendah. Kondisi cuaca yang mendorong terjadinya kebakaran hutan seperti ini merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kejadian kebakaran, dan berbagai penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, Jolly et al. (2014) menemukan bahwa secara global, durasi musim dengan kondisi cuaca yang mendukung kebakaran hutan meningkat 18,7% sepanjang 1979–2013. Selain itu, luas wilayah yang dapat terbakar dan terdampak oleh musim dengan kondisi cuaca tersebut juga meningkat dua kali lipat.
Sementara itu, World Resources Institute menyatakan bahwa kebakaran hutan menghancurkan lebih dari dua kali lipat luas pepohonan setiap tahun sepanjang 2001–2025 dibandingkan 20 tahun sebelumnya. Angka ini bahkan lebih tinggi di wilayah tropis. Kebakaran tersebut menghancurkan rumah dan infrastruktur vital. Produk sampingnya, seperti asap dan abu, juga mencemari udara dan air sehingga menimbulkan persoalan kesehatan masyarakat. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa paparan asap kebakaran hutan telah menyebabkan lebih dari 1,5 juta kematian di seluruh dunia.
Naluri Bertahan Hidup Satwa Liar
Hilangnya hutan juga menjadi alasan mengapa kebakaran hutan merupakan keadaan darurat bagi kesehatan satwa. Menurut WWF, kebakaran hutan hebat di Australia pada 2019–2020 berdampak terhadap sekitar tiga miliar satwa. Satwa-satwa tersebut mencakup mereka yang mati akibat kobaran api maupun yang terusir dari habitatnya.
Satwa liar juga rentan terhadap paparan asap dan tekanan panas seperti halnya manusia. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa kematian satwa yang secara langsung disebabkan oleh kebakaran hutan relatif rendah. Para peneliti dari Australia menelaah 31 penelitian sepanjang 1984–2020 dan menemukan 43 kasus ketika kebakaran hutan secara langsung berdampak terhadap kematian satwa. Meski demikian, perlu dicatat bahwa sebagian besar kebakaran tersebut memiliki tingkat keparahan yang rendah.
Bagaimanapun, temuan ini menyoroti satu hal penting, yakni kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup satwa liar ketika menghadapi kebakaran. Profesor Dale Nimmo, salah satu peneliti dalam studi tersebut, mencatat dalam artikel terpisah bahwa beberapa spesies mampu mendeteksi asap, suara, dan senyawa kimia yang berasal dari kebakaran. Bahkan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kumbang api dari genus Melanophila dapat mendeteksi kebakaran dari jarak lebih dari 60 kilometer. Satwa berukuran besar seperti kanguru dan harimau biasanya menggunakan sinyal-sinyal tersebut untuk melarikan diri dari lokasi kebakaran, sementara satwa yang lebih kecil seperti wombat dan kodok mencari perlindungan di dalam liang atau di bawah bebatuan.
Ancaman Setelah Kebakaran Hutan
Namun, salah satu ancaman terbesar dari kebakaran hutan justru datang setelah api padam. Ketika terjadi dalam skala kecil dan masih dapat dikendalikan, kebakaran hutan sebenarnya dapat membantu membersihkan suatu wilayah agar ekosistem dapat beregenerasi, memungkinkan tumbuhan baru tumbuh dan menciptakan tempat berlindung baru bagi satwa. Manfaat ekologis semacam ini terdapat dalam praktik pembakaran yang dilakukan oleh masyarakat adat di berbagai belahan dunia.
Namun, ketika kebakaran hutan menjadi semakin intens, ekosistem dapat terbakar habis oleh api yang tidak terkendali dan kehilangan sumber daya yang sebelumnya melimpah. Kondisi ini memaksa satwa mencari makanan dan air di tempat lain, yang pada akhirnya dapat memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Sebuah penelitian mengenai perilaku singa gunung setelah kebakaran hutan di Los Angeles menemukan peningkatan aktivitas di sekitar kawasan perkotaan, termasuk jalur penyeberangan dan aktivitas pada siang hari. Penelitian tersebut juga mencatat peningkatan risiko konflik antarsatwa dari spesies yang sama karena mereka harus bersaing memperebutkan sumber daya yang terbatas. Bagi satwa yang lebih kecil, kebakaran hutan menghilangkan tempat-tempat persembunyian karena pohon dan semak terbakar. Akibatnya, kemungkinan mereka menjadi mangsa pun meningkat.
Risiko ini semakin besar bagi spesies yang populasinya sudah rentan. Kebakaran dapat semakin menggerus populasi mereka yang terus menyusut, baik secara langsung maupun melalui ancaman terhadap pusat rehabilitasi dan upaya konservasi.
Memasukkan Satwa Liar dalam Manajemen Bencana
Kehancuran habitat dan populasi satwa merupakan ancaman terhadap keberlangsungan hidup kita bersama di planet ini. Karena itu, memasukkan satwa liar ke dalam manajemen bencana secara serius dan sedini mungkin menjadi langkah yang krusial. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami kebiasaan dan strategi bertahan hidup satwa liar serta membangun langkah-langkah perlindungan dan kesiapsiagaan yang relevan, seperti jalur evakuasi, zona aman, dan upaya penyelamatan. Pemulihan habitat pascakebakaran, misalnya dengan membangun perlindungan buatan dan menerapkan rencana rewilding, juga penting untuk membantu populasi satwa liar pulih.
Meski demikian, pencegahan tetap merupakan skenario terbaik. Karena perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran yang lebih besar dan lebih destruktif, upaya yang lebih besar perlu diarahkan pada pengelolaannya. Karena aktivitas manusia masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan, maka diperlukan regulasi yang lebih kuat untuk mencegah tindakan sengaja yang memicu kebakaran. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai risiko dan pengelolaan kebakaran juga penting untuk mengurangi kelalaian sekaligus meningkatkan perlindungan bagi mereka yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran. Deteksi dini, respons cepat, serta langkah mitigasi dan adaptasi yang tepat sangat penting untuk melindungi manusia dan planet ini.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kurang Tidur Adalah Masalah Iklim dan Ketimpangan
Bagaimana Krisis Biaya Hidup Mendorong Orang Menjauh dari Pilihan Berkelanjutan
Ambideksteritas Jarum dan Benang: Langkah Nyata Keberlanjutan di Tengah Gempuran Industri Fast Fashion
Risiko Penumpukan Limbah Panel Surya di Tengah Transisi Energi, Bagaimana Mengatasinya?
Panduan Mutakhir untuk Transparansi dan Akuntabilitas Keberlanjutan
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam: Merenungi Kebakaran Hutan dan Lahan yang Terus Berulang