Kurang Tidur Adalah Masalah Iklim dan Ketimpangan
Foto: Cottonbro studio di Pexels.
Sains menyatakan bahwa tubuh kita membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk beristirahat agar dapat berfungsi dengan baik dan tetap sehat. Namun, masyarakat umumnya memandang tidur sebagai urusan pribadi masing-masing. Ada yang bilang, “Tidurlah lebih awal. Jauhkan ponselmu agar kau bangun dengan tubuh yang segar.” Namun, pandangan tersebut mengabaikan fakta bahwa bagi banyak orang di berbagai belahan dunia, kurang tidur bukan persoalan kebiasaan buruk. Kini semakin sering, waktu tidur mereka direnggut oleh panas.
Gangguan Panas terhadap Tidur
Tubuh manusia mulai tertidur dengan menurunkan suhunya. Suhu inti tubuh menurun pada malam hari sebagai sinyal fisiologis yang memicu permulaan tidur. Ketika suhu udara pada malam hari tetap terlalu tinggi, proses pendinginan tersebut terganggu. Akibatnya, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk mulai tertidur, durasi tidurnya menjadi lebih pendek, dan kualitas pemulihan tubuh saat tidur pun menurun. Penelitian menemukan bahwa pada malam dengan suhu di atas 30°C, durasi tidur berkurang lebih dari 14 menit dibandingkan pada malam yang lebih sejuk. Fenomena ini paling dirasakan oleh lansia, perempuan, dan penduduk negara-negara berpendapatan rendah.
Kurang tidur bukan masalah sepele. Kurang tidur akan terakumulasi menjadi utang tidur yang dapat mengganggu daya ingat, pengambilan keputusan, kecepatan reaksi, dan kemampuan mengelola emosi. Dampaknya kemudian langsung merembet ke urusan pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan.
Skala persoalan ini kini dapat diukur secara global. Menurut analisis Climate Central pada 2026, rata-rata setiap orang kehilangan hampir 56 jam tidur per tahun akibat tingginya suhu lingkungan antara tahun 2020–2025. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan kehilangan waktu tidur terkait suhu yang tercatat pada awal 1970-an. Kota-kota di Asia Barat mencatat kehilangan waktu tidur tertinggi.
Proyeksi ke depan bahkan lebih mengkhawatirkan. Pada 2099, kenaikan suhu dapat menyebabkan seseorang kehilangan 50 hingga 58 jam tidur dalam setahun. Seperti halnya dampak kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim lainnya, kehilangan jam tidur juga tidak terjadi secara merata. Negara-negara berpendapatan rendah diproyeksikan mengalami kehilangan waktu tidur sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan negara-negara yang lebih kaya.
Interseksionalitas dalam Masalah Kurang Tidur
Masyarakat berpendapatan rendah telah lama menghadapi lingkungan tidur yang lebih panas. Fenomena pulau panas perkotaan terkonsentrasi di kawasan dengan tutupan hijau yang minim, bangunan tempat tinggal yang lebih tua, serta sumber daya yang lebih terbatas untuk melindungi diri dari panas. Sebuah studi terhadap komunitas termarginalkan di Los Angeles, Amerika Serikat, menemukan bahwa suhu kamar tidur di rumah-rumah berpendapatan rendah pada malam hari rata-rata 5°C lebih tinggi daripada suhu di luar ruangan. Kenaikan suhu sebesar 5°C tersebut berkaitan dengan berkurangnya waktu tidur hingga 23 menit. Artinya, mereka yang kehilangan jam tidur lebih banyak sering kali merupakan orang-orang yang menjalani pekerjaan fisik yang menuntut kapasitas kognitif serta fisik secara penuh keesokan harinya.
Akses terhadap pendingin ruangan, yang dianggap sebagai solusi yang paling nyata, sangat bergantung pada kemampuan ekonomi. Sistem pendingin belum dapat diakses secara merata, sementara penggunaannya juga menghasilkan panas dan emisi yang pada ujung-ujungnya memperparah krisis yang justru membuat alat tersebut semakin dibutuhkan. Sementara itu, anak-anak menghadapi kerentanan berlapis terhadap tekanan panas. Gangguan tidur menjadi beban tambahan dalam risiko yang lebih luas terhadap perkembangan dan kesehatan yang telah ditimbulkan panas ekstrem pada tubuh anak-anak.
Interseksionalitas berbagai ketimpangan dalam persoalan ini perlu dinyatakan secara gamblang. Komunitas yang paling banyak kehilangan jam tidur akibat panas, dalam banyak kasus, merupakan komunitas yang paling sedikit menyumbang emisi penyebab kenaikan suhu. Namun, mereka juga merupakan kelompok dengan kekuatan politik paling minim untuk menuntut infrastruktur perkotaan yang mampu menghadirkan kesejukan, sekaligus kelompok yang pekerjaannya paling bergantung pada kondisi tubuh yang cukup istirahat.
Perlu Solusi Struktural
Solusi di tingkat individu seperti menggunakan kipas angin, seprai basah, atau membuka jendela, memiliki keterbatasan. Sementara itu, solusi struktural, meskipun lebih sulit diwujudkan, jauh lebih menentukan. Salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan adalah memperlakukan panas pada malam hari sebagai indikator kesehatan masyarakat, bukan sekadar catatan tambahan dalam laporan cuaca.
The Lancet Countdown on Health and Climate Change kini memasukkan kehilangan jam tidur sebagai salah satu indikator kesehatan terkait perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas medis mulai memahami kenyataan yang telah dialami masyarakat berpendapatan rendah selama bertahun-tahun.
Solusi lainnya terletak pada aspek perencanaan kota, seperti memperluas akses terhadap pusat-pusat pendinginan dan infrastruktur hijau di kawasan perkotaan yang rentan terhadap panas, serta merevisi standar bangunan agar hunian berpendapatan rendah diwajibkan menerapkan desain yang tangguh terhadap panas. Namun, tentu saja, pada tingkat yang paling mendasar, solusi utamanya adalah pemerintah di seluruh dunia harus meningkatkan upaya untuk menekan pemanasan global.
Pada akhirnya, kurang tidur adalah persoalan iklim, persoalan kesehatan, persoalan perencanaan kota, dan yang terpenting, persoalan kesetaraan. Penanganan yang menyeluruh atas masalah sulit tidur harus dimulai dengan kesadaran bahwa mewujudkan kesetaraan dalam kualitas tidur berarti membenahi sistem perumahan, energi, dan perencanaan kota yang sejak awal telah membuat malam sebagian orang lebih panas dibandingkan yang lain.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Krisis Biaya Hidup Mendorong Orang Menjauh dari Pilihan Berkelanjutan
Ambideksteritas Jarum dan Benang: Langkah Nyata Keberlanjutan di Tengah Gempuran Industri Fast Fashion
Risiko Penumpukan Limbah Panel Surya di Tengah Transisi Energi, Bagaimana Mengatasinya?
Panduan Mutakhir untuk Transparansi dan Akuntabilitas Keberlanjutan
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam: Merenungi Kebakaran Hutan dan Lahan yang Terus Berulang
Mewaspadai Intrusi Air Asin di Tengah Krisis Air Global