Kekeringan Parah di Somalia dan Dampaknya yang Meluas
Foto: Ismail Salad Osman Hajji dirir di Unsplash.
Kekeringan adalah kondisi kompleks dengan dampak yang luas. Somalia telah merasakan dampak kekeringan ekstrem sejak sekitar kuartal terakhir tahun 2025. Kekeringan parah di Somalia telah menyebabkan penurunan gizi dan runtuhnya produktivitas pertanian. Tanpa intervensi cepat dan terorganisir, kondisi ini dapat memperburuk tingkat kelaparan, pengungsian, dan bahkan jumlah korban jiwa di Somalia.
Periode Kekeringan yang Lebih Lama
Kekeringan adalah bencana alam yang ditandai dengan periode kering yang berkepanjangan karena kurangnya curah hujan. Periode kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan kekurangan air, gagal panen, dan kematian ternak, yang pada akhirnya memicu kerawanan pangan. Ketidaktersediaan air bersih dan makanan dalam jangka panjang menimbulkan risiko bagi kesejahteraan masyarakat, termasuk risiko kekurangan gizi, kekurangan zat besi, kolera, dan pneumonia.
Menurut WHO, perubahan iklim memperburuk kekeringan di kawasan kering. Seiring kenaikan suhu, air menguap lebih cepat, mengakibatkan penurunan sumber daya air. Ironisnya, seringkali wilayah yang menyumbang emisi gas rumah kaca lebih sedikit justru harus menghadapi beban ekstrem iklim yang tidak proporsional.
Somalia adalah salah satunya. Meskipun hanya menyumbang sekitar 0,019% dari emisi karbon global, Somalia rentan terhadap guncangan iklim. Terletak di kawasan kering atau semi-kering, Somalia rentan terhadap perubahan cuaca drastis yang beruntun, di mana banjir parah di daerah sungai dapat diikuti oleh kekeringan yang menghancurkan.
Kekeringan Parah di Somalia dan Krisis Lainnya
Setelah musim hujan yang gagal dari Oktober hingga Desember 2025, kekeringan melanda Somalia.
Warga Somalia tidak dapat memanen tanaman mereka dan memberi makan ternak mereka karena kelangkaan air dan berkurangnya padang rumput. Produksi pertanian yang terbatas menyebabkan kerawanan pangan. Sekitar 6,5 juta orang di Somalia mengalami kelaparan akut, dengan 1,8 juta anak mengalami kekurangan gizi parah. Pada Maret 2026, Badan Statistik Nasional Somalia (SNBS) melaporkan kenaikan biaya pangan dan bahan bakar yang melonjak, yang disebabkan oleh gangguan dalam rantai pasokan. Pemerintah Somalia memperkirakan bahwa rencana respons akan membutuhkan $296,5 juta, namun baru ada 9% dari jumlah tersebut yang diamankan.
Selain kekeringan, Somalia juga mengalami konflik yang berkelanjutan. Menurut laporan dari Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), keduanya merupakan faktor utama yang mengganggu mata pencaharian masyarakat. Lebih buruk lagi, kekeringan cenderung memperburuk konflik. Misalnya, selama kekeringan berkepanjangan antara tahun 2020 dan 2023, konflik di Somalia secara bersamaan meningkat. Sebuah kelompok militan menggunakan kekuasaannya untuk memungut pajak dari petani dan peternak yang membutuhkan akses ke air dan sumber daya lainnya.
Peristiwa cuaca dan konflik yang disebabkan oleh perubahan iklim menyebabkan 680.000 orang mengungsi pada tahun 2025. Meningkatnya jumlah pengungsi meningkatkan kerentanan mereka; anak-anak berisiko direkrut ke dalam kelompok bersenjata, dan kekerasan berbasis gender meningkat.
Memperkuat Ketahanan
Konflik dan kekeringan yang tumpang tindih di Somalia menggarisbawahi urgensi solusi yang dapat mengatasi setiap kesulitan. Sementara itu, dukungan segera harus diarahkan kepada masyarakat yang terkena dampak.
Salah satu cara untuk mendukung swasembada pertanian masyarakat selama kekeringan adalah dengan mempromosikan penanaman bertahap dan varietas tanaman tahan kekeringan. Pemerintah Somalia juga dapat mulai mendanai dukungan veteriner di daerah rawan dan menerapkan kebijakan pengurangan jumlah ternak. Pada saat yang sama, bantuan internasional memainkan peran penting dalam membantu pemerintah Somalia memberikan bantuan keuangan dan sumber daya di tempat yang paling dibutuhkan.
Lebih lanjut, memperkuat ketahanan juga berarti mengurangi risiko. Mengintegrasikan prakiraan iklim dan data hidrologi sangat penting untuk memprediksi dan mempersiapkan diri menghadapi peristiwa cuaca ekstrem, karena memungkinkan semua pihak yang terlibat untuk mengambil tindakan konkret untuk mencegah skenario terburuk. Selain itu, penguatan pengawasan pengukur sungai dan pengangkutan air merupakan salah satu pilihan yang layak untuk menjaga pasokan air selama kekeringan.
Selain langkah prediktif, pembentukan pengumpulan data terpusat juga penting untuk memantau kekeringan dan memperkuat ketahanan terhadap bencana. Pada akhirnya, partisipasi kolaboratif antara pemerintah, peneliti, masyarakat lokal, dan lembaga internasional harus dipupuk untuk mengatasi kekeringan di Somalia.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Jalan Mundur Pelindungan Pembela HAM di Indonesia
Memastikan Akses terhadap Keadilan bagi Perempuan dan Anak Perempuan
Infrastruktur Tak Terlihat yang Dibutuhkan Pasar Karbon ASEAN
Pemerintah Mulai Reforestasi Taman Nasional Tesso Nilo
Dari Sawah ke Tambak: Transformasi Desa Kecipir di Brebes dan Kerentanan Tersembunyi di Baliknya
Clean Cooking sebagai Pengganda Pembangunan di Afrika