Bagaimana Produktivitas Pertanian Bahrain Meningkat di Tengah Kemerosotan Ekonomi Global
Foto: freepic.diller di Freepik.
Tren penurunan produktivitas pertanian akibat perubahan iklim dan semakin terbatasnya sumber daya akhir-akhir ini telah mengancam ketahanan pangan global. Namun, Bahrain merupakan pengecualian. Meski curah hujannya rendah dan beriklim gurun, produktivitas pertanian Bahrain justru meningkat. Bagaimana bisa?
Produktivitas Pertanian Global yang Menurun
Kelaparan dunia masih berlanjut. Pada tahun 2024 saja, 623 juta orang di seluruh dunia mengalami kelaparan. Sementara itu, perubahan iklim memberi tekanan pada dua unsur terpenting kehidupan untuk bertahan hidup: air dan makanan. Perubahan iklim memicu peristiwa cuaca ekstrem seperti kekeringan dan gelombang panas, yang membahayakan produksi pangan.
Secara global, ada tren penurunan dalam pertumbuhan produksi pangan. Meski output pertanian secara keseluruhan masih meningkat, laju pertumbuhan produktivitas pertanian melambat. Laju produktivitas faktor total global — yang berarti seberapa efisien pangan diproduksi dengan jumlah sumber daya yang sama — tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,99% selama periode 2001–2010. Namun selama periode 2011–2020, pertumbuhannya melambat menjadi 1,12% per tahun.
Menurut Laporan Pertanian Global, dunia membutuhkan pertumbuhan aman sebesar 1,73% per tahun untuk produksi pangan berkelanjutan dan memenuhi permintaan global pada tahun 2050. Dengan kata lain, tingkat pertumbuhan produksi pangan kita saat ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masa depan secara berkelanjutan.
Produktivitas Pertanian Bahrain
Di tengah tren penurunan produktivitas, sebuah negara di Timur Tengah berbeda. Bahrain, negara kepulauan gurun yang terletak di Teluk Persia, memiliki sektor pertanian yang relatif kecil namun penting untuk memenuhi kebutuhan pangan 1,6 juta penduduknya. Sektor ini sebagian besar menghasilkan kurma dan berbagai sayuran seperti tomat, mentimun, dan bawang.
Produktivitas pertanian Bahrain telah meningkat sebesar 55% dalam dekade terakhir. Menurut statistik nasional resmi, total produksi telah meningkat dari 37.806 menjadi 58.597 ton dari tahun 2015 hingga 2024. Dengan iklim Bahrain yang kering dan sumber air yang sangat terbatas, bagaimana hal ini bisa terjadi?
Pemerintah Bahrain telah secara aktif mendorong pertumbuhan pertanian melalui Inisiatif Nasional untuk Pembangunan Pertanian. Yang perlu digarisbawahi, pertumbuhan ini bukan disebabkan oleh perluasan lahan pertanian tradisional—melainkan oleh agritech. Misalnya, pertanian lingkungan terkendali, seperti rumah kaca untuk hidroponik dan pertanian vertikal, sangat menonjol di Bahrain. Jumlah rumah kaca tumbuh lebih dari 50% dari tahun 2015 hingga 2022.
Selain itu, alasan utama pertumbuhan produktivitas pertanian Bahrain lainnya adalah pengelolaan air yang efisien. Bahrain mempromosikan penggunaan irigasi tetes, air limbah olahan, dan desalinasi air laut di pertanian modern. Di antara upaya tersebut adalah Strategi Air Nasional 2030, yang bertujuan untuk memperluas kapasitas desalinasi menjadi 227.000 meter kubik.
Meningkatkan Pertanian Berkelanjutan
Pertanian adalah sebuah teka-teki; pertanian merupakan kontributor utama pemanasan global dan degradasi lingkungan, sekaligus sektor yang sangat terdampak. Seiring meningkatnya permintaan pangan dan ancaman iklim, sektor ini harus bertransformasi. Praktik-praktik yang merugikan dan intensif sumber daya yang berfokus pada keuntungan jangka pendek tidak akan lagi efektif.
Oleh karena itu, mengembangkan, mempromosikan, dan memberdayakan praktik pertanian berkelanjutan merupakan hal yang mendesak. Dari sumber daya energi dan air hingga pengelolaan limbah, terdapat banyak aspek yang terlibat. Oleh karena itu, kita membutuhkan tindakan yang bersinergi, lintas sektor, dan multi-pemangku kepentingan. Pemerintah harus menerapkan kebijakan yang mendukung, mekanisme pendanaan, dan infrastruktur inklusif untuk membantu petani untuk meningkatkan kualitas, bukan menggantikan mereka. Kemitraan publik-swasta untuk mendukung penelitian, pengembangan, dan adopsi inovasi pertanian berkelanjutan juga krusial.
Beralih ke praktik pertanian berkelanjutan memang menantang, tetapi bukan berarti mustahil. Peningkatan produktivitas pertanian Bahrain merupakan contoh bahwa pertumbuhan dapat dicapai di tengah keterbatasan dan tekanan. Bagaimanapun, penting untuk memastikan ketahanan pangan, melindungi sumber daya alam, dan menciptakan masa depan yang tangguh bagi semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Inflasi Harga Pangan: Hampir Separuh Warga Indonesia Tak Mampu Menjangkau Pola Makan Sehat
Integrasi Praktik Adat dalam Penanganan Gelombang Panas di Australia
Menetapkan Standar Nutrisi Berbasis Bukti untuk Atasi Keracunan MBG yang Berulang
Menilik Isu Kekurangan Bidan di Tingkat Global
Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air