Transformasi Sistem Pangan Dunia untuk Bumi yang Sehat
Foto: Bernd Dittrich di Unsplash.
Makanan adalah kebutuhan pokok yang menopang kesehatan dan kesejahteraan kita. Lebih dari sekadar urusan perut, makanan juga menyangkut masalah akses, kesehatan, lingkungan, budaya, dan keadilan. Di tengah polikrisis saat ini, bagaimana kita dapat mentransformasi sistem pangan dunia sebagai cara untuk mengatasi krisis?
Sistem Pangan & Kesehatan Bumi
Sistem pangan terdiri dari jaringan rumit yang mencakup berbagai hal, termasuk perihal bagaimana makanan bersumber, diproduksi, dan didistribusikan hingga sampai ke piring kita. Selain itu, perihal bagaimana sampah makanan dikelola juga menjadi masalah. Sistem yang kompleks ini merupakan pusat ketahanan pangan, kesehatan manusia, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial.
Permintaan pangan global telah melonjak seiring dengan pertumbuhan populasi. Pada saat yang sama, sistem pangan berdampak signifikan terhadap kesehatan lingkungan.
Sebuah laporan dari Komisi EAT-Lancet 2025 menemukan bahwa sistem pangan merupakan pendorong utama dari lima pelanggaran batas planet, yang menandakan aktivitas yang melewati batas aman bagi Bumi. Pelanggaran termasuk meliputi perubahan sistem lahan, integritas biosfer, perubahan air tawar, aliran biogeokimia, dan sekitar 30% emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim. Melanggar batas-batas ini berarti menciptakan risiko destabilisasi sistem penyangga kehidupan di Bumi yang lebih tinggi, yang dapat mewujud dalam bentuk kerusakan lingkungan yang luas di masa depan.
Mendorong Transformasi
Mengatasi krisis iklim dan keanekaragaman hayati membutuhkan transformasi sistem pangan global sebagai inti upaya.
Salah satu rekomendasi yang diberikan dalam laporan Komisi EAT-Lancet adalah penerapan pola makan ramah lingkungan (planetary health diet/PHD). PHD mengacu pada pola makan yang didominasi makanan nabati, dengan jumlah makanan hewani yang moderat dan sedikit tambahan gula, lemak jenuh, dan garam. Pola ini memungkinkan fleksibilitas dan cocok dengan berbagai konteks dan preferensi. Laporan tersebut memperkirakan bahwa penerapan PHD dapat mengatasi sekitar 10 juta kematian yang dapat dicegah setiap tahunnya di kalangan orang dewasa, yang mewakili 17% dari total angka kematian.
Selain pola makan sehat, peningkatan produktivitas pertanian dan pengurangan susut dan sisa pangan juga merupakan langkah kunci dalam transformasi sistem pangan. Namun, kunci transformasi ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus berjalan secara kolektif di setiap aspek untuk mengurangi tekanan terhadap iklim, keanekaragaman hayati, air, dan polusi secara substansial.
Menegakkan Fondasi Sosial
Selain faktor-faktor di atas, mewujudkan transformasi ini juga bergantung pada keadilan. Laporan tersebut menyoroti bahwa 30% populasi dunia terkaya berkontribusi terhadap lebih dari 70% tekanan lingkungan dari sistem pangan. Ketimpangan yang besar dalam distribusi, dampak, dan beban menggarisbawahi perlunya menegakkan keadilan di jantung transformasi.
Menegakkan keadilan berarti mewujudkan akses dan keterjangkauan pola makan sehat. Yang tak kalah penting adalah memastikan hak untuk hidup dan bekerja di lingkungan yang aman dan adil, dengan perlindungan yang memadai dari risiko dan bahaya. Hal ini juga harus sejalan dengan upah hidup yang layak dan infrastruktur pendukung yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang sehat.
Pada akhirnya, mentransformasi sistem pangan dunia untuk mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap kesehatan Bumi mencakup berbagai faktor yang saling terkait yang memerlukan upaya dan partisipasi dari semua pihak. Mengidentifikasi tindakan yang diperlukan, mengembangkan peta jalan implementasi nasional dan regional, membuka pendanaan, dan melaksanakan rencana menjadi aksi memerlukan komitmen dan kolaborasi yang kuat dari pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil untuk mencapai sistem pangan yang sehat, berkelanjutan, dan adil bagi semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja