Menengok Kamp Pengungsi Ramah Lingkungan di Uganda
Foto: Julien Harneis di Flickr.
Setiap orang berhak atas kehidupan yang layak, dengan kebutuhan dasar dan rasa aman yang terpenuhi. Namun, saat terjadi krisis, orang-orang biasanya tidak akan mendapatkan rasa aman, apalagi memenuhi kebutuhannya, dan terpaksa meninggalkan rumah dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Di tengah meningkatnya jumlah pengungsi di seluruh dunia, menyediakan kamp pengungsi ramah lingkungan dengan fasilitas yang memadai merupakan hal penting. Sebuah inisiatif bernama CAMP+ hadir dengan tujuan untuk mewujudkan hal itu.
Meningkatnya Jumlah Pengungsi
Pada Juni 2023, terjadi peningkatan pengungsian paksa secara global. Lebih dari 110 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka karena faktor-faktor seperti persekusi, konflik, kekerasan, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Populasi pengungsi global mencapai 36,4 juta pada pertengahan tahun 2023, meningkat 3% dari akhir tahun 2022.
Di Gaza saja, hampir 2 juta warga Palestina terpaksa mengungsi dari rumah mereka pada Januari 2024 akibat konflik dan kekerasan yang dilakukan Israel. Mereka terpaksa mengungsi ke “zona aman” tertentu di Gaza atau kamp-kamp yang dikelola PBB di Tepi Barat, Yordania, dan Lebanon.
Peningkatan jumlah pengungsi membuat permintaan akan kamp pengungsi turut meningkat. Namun, pendirian kamp-kamp tersebut dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan, seperti deforestasi atau polusi air dan tanah yang disebabkan oleh penumpukan sampah. Kondisi ini dapat membahayakan lingkungan dan ekosistem, dan menyebabkan degradasi lahan dan dampak ekologis lainnya.
Kamp Pengungsi Ramah Lingkungan
Sebagai respons terhadap tantangan lingkungan yang ditimbulkan oleh kamp-kamp pengungsi, kesadaran akan pentingnya praktik-praktik ramah lingkungan di kamp-kamp pengungsian pun meningkat. Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah CAMP+.
CAMP+ adalah inisiatif dari CARE. Di Uganda, CAMP+ telah berupaya untuk menciptakan kamp pengungsi ramah lingkungan sejak tahun 2020. Proyek ini memperkenalkan dapur umum bertenaga surya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar tak terbarukan untuk memasak dan menyediakan sumber energi ramah lingkungan dalam jangka panjang.
Selain itu, CAMP+ telah mendirikan pabrik daur ulang plastik di kamp pengungsi untuk mengatasi masalah sampah. Pendekatan ini mendorong pengelolaan sampah yang efisien sekaligus menciptakan peluang ekonomi. Pengungsi di kamp didorong untuk membuat produk yang dijual secara lokal seperti ember, tikar, dan kabel menggunakan bahan daur ulang melalui inisiatif ini.
CAMP+ menunjukkan bahwa di tengah pengungsian dan kesulitan, meminimalkan dampak lingkungan dan mencegah lebih banyak kerusakan tetap perlu dan dapat dilakukan. Praktik semacam ini menjadi contoh yang baik dalam menciptakan kamp pengungsi yang lebih ramah lingkungan di seluruh dunia.
Mengatasi Akar Masalah
Meminimalkan dampak ekologis dan memastikan bantuan kemanusiaan sangatlah penting. Namun, menciptakan kamp pengungsi yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya tentang mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Ada banyak hal lain yang juga perlu dipikirkan, seperti menghapus kekerasan berbasis gender, pemberdayaan ekonomi, dan akses terhadap layanan dasar seperti air bersih, layanan kesehatan, dan sanitasi. Inklusi dan aksesibilitas bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, anak-anak, dan lansia di kamp pengungsian juga tak kalah penting.
Pada akhirnya, yang lebih penting dari itu semua adalah mengatasi akar permasalahan. Dalam hal ini adalah mencegah pengungsian dan mendorong pembangunan perdamaian. Para pemimpin negara harus bersatu untuk mendorong penyelesaian konflik, memperkuat pengurangan risiko bencana, dan memenuhi hak-hak asasi manusia untuk semua.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan