Bagaimana Bank Dapat Berperan dalam Mendorong Terciptanya Pekerjaan Layak
Foto: Paul Fiedler di Unsplash.
Pekerjaan layak adalah fondasi dalam upaya kita untuk mencapai kehidupan yang baik. Di tengah meningkatnya pengangguran dan ketimpangan di dunia kerja, lembaga jasa keuangan—termasuk bank—memegang peran penting dalam menggerakkan perubahan dan mendorong praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab di kalangan bisnis.
Jalan Terjal dalam Mewujudkan Pekerjaan Layak
Pekerjaan layak merupakan kunci bagi kesejahteraan individu dan ketahanan sosial. Lebih dari sekadar upah yang baik, konsep pekerjaan layak juga mencakup penghormatan terhadap hak-hak di tempat kerja, perlindungan sosial yang komprehensif, serta adanya ruang bagi dialog sosial.
Namun, upaya untuk mewujudkan pekerjaan layak menemui jalan terjal. Pengangguran masih menjadi persoalan serius di seluruh dunia. Banyak lulusan baru mengalami kesulitan dalam memperoleh pekerjaan, sementara pekerjaan yang tersedia pun masih dipenuhi berbagai persoalan seperti kesenjangan upah, keselamatan kerja, dan melemahnya hak-hak pekerja.
Dalam hal ini, bank sebagai lembaga jasa keuangan berada pada posisi yang unik untuk mempromosikan pekerjaan yang layak untuk semua. Bank memiliki kapasitas untuk mengarahkan arus pembiayaan, sehingga dapat memengaruhi perusahaan agar menerapkan praktik kerja yang bertanggung jawab, melindungi pekerja sekaligus mendukung ketahanan ekonomi jangka panjang.
Bagaimana Bank dapat Berperan
Sebuah panduan yang disusun oleh UNEP FI, ILO, dan para penandatangan Prinsip-Prinsip Perbankan Bertanggung Jawab (PRB) PBB memaparkan sejumlah cara bagi bank untuk mendorong penerapan pekerjaan yang layak di kalangan nasabah korporasinya.
Sebagai contoh, bank dapat meningkatkan keselarasan antara portofolio investasi dan pembiayaan mereka dengan prinsip-prinsip hak di tempat kerja serta perlindungan sosial. Hal ini dapat dilakukan melalui penilaian terhadap implementasi pekerjaan layak oleh nasabah, sekaligus memberikan dukungan yang terarah untuk langkah-langkah konkret.
Bank juga dapat menjadi katalis dalam mempromosikan praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab dan berkeadilan dengan menyalurkan dukungan finansial kepada perusahaan yang mengadopsi atau memperluas praktik-praktik pekerjaan layak.
Dukungan tersebut dapat berbentuk pinjaman terkait keberlanjutan, obligasi sosial, atau skema pembiayaan campuran (blended finance), tergantung pada konteks perusahaan dan regulasi di masing-masing negara. Tujuannya adalah memberi insentif sekaligus membantu perusahaan berinvestasi dalam pengembangan keterampilan, pemberian upah layak yang setara, serta perluasan perlindungan sosial bagi para pekerja.
Mengintegrasikan Prinsip
Untuk mewujudkan hal tersebut, bank perlu mengintegrasikan prinsip pekerjaan layak ke dalam strategi inti mereka. Hal ini mencakup penyelarasan kebijakan dan proses internal dengan standar internasional yang telah ada, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 8 dan Standar ILO. Selain itu, penyelarasan ini harus tercermin dalam keputusan portofolio bank, keterlibatan dengan nasabah dan pemangku kepentingan, serta kemitraan yang dibangun.
Pada akhirnya, jalan menuju terwujudnya pekerjaan yang aman, adil, dan inklusif bagi semua harus dibangun melalui kerja bersama. Ketika lembaga jasa keuangan berupaya menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi pekerjaan layak, dunia usaha pun harus mengikuti dengan secara aktif mendorong upah yang adil, membangun mekanisme keselamatan kerja yang kuat untuk menghapus praktik berbahaya, serta berinvestasi dalam pengembangan keterampilan pekerja dengan tetap menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani
Menilik Tantangan dalam Pengembangan SAF berbasis Minyak Jelantah di Indonesia
Mengintegrasikan Panas Perkotaan dalam Sistem Penanggulangan Bencana
Rencana Energi Lokal Inggris untuk Mendukung Pengembangan Energi Komunitas
Krisis Iklim dan Munculnya Gelombang Penyakit di Wilayah Pesisir Utara Bali dan Pangkep
Berubahnya Kondisi Hutan Dunia dan Dampaknya terhadap Keanekaragaman Hayati serta Ketahanan Ekosistem