Bagaimana Panas Ekstrem Pengaruhi Kualitas Hidup Kita
Foto: Rancheng Zhu di Unsplash.
Baik panas maupun dingin, iklim di sekitar kita menentukan kesejahteraan kita. Lantas, apa yang terjadi ketika dunia memanas hingga tingkat yang tidak biasa, seperti yang terjadi saat ini? Penelitian menelusuri bagaimana kenaikan suhu global dapat memengaruhi kualitas hidup dan kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Panas dan Kesehatan
Panas telah menjadi semakin identik dengan kehidupan kita hari ini. Kita telah melewati “tahun terpanas dalam sejarah” setidaknya dua kali sejak 2023, dan bagaimana kondisi Bumi berubah sebagai konsekuensinya. Gletser mencair dengan cepat, dan tanah retak karena kurangnya kelembapan.
Paparan panas ekstrem yang berkepanjangan memiliki dampak kesehatan yang besar bagi manusia. Di antaranya mengganggu kemampuan kita untuk mengatur suhu tubuh, membuat sistem kardiovaskular dan pernapasan kita bekerja lebih keras untuk menstabilkannya. Panas ekstrem juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang mendasarinya yang terkait dengan kedua sistem tersebut.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Parsons dan diterbitkan dalam Environmental Research: Health meneliti bagaimana kenaikan suhu global memengaruhi bagaimana manusia berkegiatan sehari-hari. Singkatnya, panas merupakan tantangan bagi kualitas hidup manusia, yang mengacu pada tingkat aktivitas fisik maksimum yang dapat dilakukan seseorang dalam iklim tertentu tanpa mengalami lonjakan panas yang tak terkendali.
Dalam kondisi ‘layak hidup’, orang seharusnya dapat melakukan aktivitas sehari-hari yang dapat meningkatkan suhu tubuh, seperti berjalan kaki dan melakukan pekerjaan rumah tangga, tanpa menderita akibat panas itu sendiri.
Kualitas Hidup di Hari-Hari yang Panas
Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 35% populasi global kini tinggal di daerah di mana hari-hari panas puncak dapat menghambat orang muda untuk melakukan pekerjaan rumah tangga ringan hingga sedang dan aktivitas dasar lainnya. Rata-rata, orang berusia 18–40 tahun dapat kehilangan sekitar 50 jam kualitas hidup per tahun. Bagi orang lanjut usia (lansia) berusia 65 tahun ke atas, keterbatasan kualitas hidup jauh lebih besar, yakni sekitar 900 jam setiap tahunnya secara rata-rata.
Penelitian tersebut mengukurnya menggunakan model HEAT-Lim, yang menghitung laju keringat maksimum dan kelembapan kulit maksimum untuk menilai kemampuan seseorang dalam mengatur suhu tubuh. Kemampuan ini berkurang seiring waktu, itulah sebabnya lansia menghadapi tantangan yang lebih besar.
Faktor lain yang memengaruhi kualitas hidup orang di tengah panas ekstrem adalah topografi daerah dan penentu iklim. Di India dan Cina, misalnya, tingkat keterbatasan lebih parah di dataran rendah dibandingkan dengan daerah dataran tinggi.
Dampak panas ekstrem juga lebih terasa pada populasi yang kurang memiliki kapasitas adaptasi, termasuk kemampuan untuk membeli sistem pendingin. Negara-negara dengan kapasitas adaptasi yang lebih rendah menghadapi risiko yang lebih tinggi, terutama para pekerja luar ruangan, yang sangat terpapar panas ekstrem.
Memperkuat Adaptasi
Penelitian tersebut menyoroti dua kekhawatiran utama yang memengaruhi kualitas hidup: peningkatan suhu yang stabil dan kapasitas adaptasi yang tidak merata. Oleh karena itu, pendekatan multi-aspek diperlukan untuk menghentikan pemanasan global dan memperkuat ketahanan terhadap panas, terutama karena populasi lansia diperkirakan akan meningkat.
Pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil harus memperkuat dan mengkoordinasikan upaya dekarbonisasi melalui transisi energi yang adil dan inklusif sebelum panas berdampak semakin parah pada kehidupan masyarakat. Sementara itu, perluasan cakupan perlindungan sosial, mekanisme pemantauan panas yang kuat, dan investasi dalam implementasi solusi berbasis alam juga merupakan kunci untuk memperkuat adaptasi di tengah peningkatan suhu yang terus berlanjut.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengatasi Maraknya Perdagangan Orang Berbalut Rekrutmen Kerja
‘Upah Batin’ di Ruang Kelas dan Urgensi Pekerjaan Layak untuk Guru
Melihat Inisiatif Green Ramadan di Berbagai Negara
Jalan Mundur Pelindungan Pembela HAM di Indonesia
Kekeringan Parah di Somalia dan Dampaknya yang Meluas
Memastikan Akses terhadap Keadilan bagi Perempuan dan Anak Perempuan