Gambut di Cekungan Kongo Mulai Lepaskan Karbon Purba
Foto: Cethuyghe di Wikimedia Commons.
Di jantung Afrika, terbentang salah satu lahan gambut tropis terbesar di dunia, yakni Cekungan Kongo. Kawasan ini kerap disebut sebagai “paru-paru kedua” planet Bumi dan merupakan komponen penting dalam siklus karbon global, karena rawa dan lahan gambutnya telah lama membantu mengatur iklim Bumi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan adanya kemungkinan bahwa ekosistem ini tidak sestabil yang dikira selama ini. Sebagian wilayah cekungan tersebut kini malah berperan seperti “cerobong alami” yang melepaskan karbon purba kembali ke atmosfer.
Peran Cekungan Kongo dalam Ekosistem
Cekungan Kongo beserta hutan-hutan di sekitarnya, yang membentang sekitar 500 juta hektare, membentuk jaringan hutan tropis dan sungai terbesar kedua di dunia. Kawasan ini mencakup sekitar 70% hutan tropis Afrika dan meliputi enam negara: Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Guinea Khatulistiwa, dan Gabon. Luas wilayah Cekungan Kongo menjadikannya salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia serta ekosistem yang sangat penting.
Meskipun lahan gambut dan rawa di kawasan ini hanya menutupi sekitar 0,3% dari permukaan daratan Bumi, cadangan karbon yang tersimpan di dalamnya sangat besar sehingga menjadikan Cekungan Kongo salah satu ekosistem penyerap karbon paling signifikan di dunia. Pada skala global, cekungan ini berperan penting dalam pengaturan iklim dengan menyerap sekitar 1,5 miliar ton karbon dioksida setiap tahun. Angka ini setara dengan sekitar 4% dari total emisi global tahunan yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil.
Selain itu, kekayaan ekologis Cekungan Kongo secara langsung menopang kehidupan sekitar 80 juta orang. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi sekitar 900.000 jiwa orang adat yang memiliki keterkaitan budaya dan ekonomi yang sangat kuat dengan hutan-hutan di wilayah tersebut.
Cerobong Alami
Selama ini para ilmuwan beranggapan bahwa karbon yang tersimpan di lahan gambut Cekungan Kongo akan tetap terperangkap untuk waktu yang sangat lama dan hanya akan lepas dalam kondisi tertentu, seperti kekeringan yang berkepanjangan. Namun, tim peneliti dari ETH Zurich di Swiss kini menemukan bukti adanya kebocoran karbon dioksida dari penyimpanan karbon alami tersebut.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sejumlah besar karbon dioksida lepas dari danau air hitam terbesar di Afrika, yaitu Lac Mai Ndombe, serta dari danau yang lebih kecil, Lac Tumba. Sebagian emisi tersebut memang berasal dari material tumbuhan yang baru tumbuh, tetapi sekitar 40% berasal dari gambut yang telah terakumulasi selama ribuan tahun.
Para peneliti mengidentifikasi pola ini dengan menganalisis karbon dioksida yang lepas menggunakan teknik penanggalan radiokarbon. Usia radiokarbon karbon anorganik terlarut di Lac Mai Ndombe rata-rata sekitar 2.170 tahun 14C (karbon-14) , sementara pengukuran dari Lac Tumba menunjukkan usia yang bahkan lebih tua, yaitu sekitar 3.515 tahun 14C. Meskipun usia radiokarbon tidak dapat langsung dikonversi menjadi tahun kalender, hasil ini tetap menunjukkan bahwa karbon yang lepas telah tersimpan selama ribuan tahun.
Mengatasi Ancaman
Temuan tersebut menunjukkan bahwa cadangan karbon yang sangat besar di Cekungan Kongo tidak sepenuhnya bersifat pasif. Sebaliknya, ada jalur-jalur yang sebelumnya tidak dikenali yang memungkinkan karbon tersebut bergerak dan akhirnya lepas. Meskipun mekanisme pasti yang mendorong pelepasan karbon bawah tanah ini masih belum sepenuhnya dipahami, fenomena tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai stabilitas jangka panjang lahan gambut di kawasan tersebut.
Jika karbon purba sudah mulai lepas melalui proses alami, maka kekeringan yang dipicu oleh perubahan iklim dapat semakin memperburuk situasi. Kekeringan dapat menurunkan permukaan air, memungkinkan oksigen menembus lebih dalam ke lapisan gambut dan mempercepat proses penguraian oleh mikroba. Oleh karena itu, memasukkan kebocoran karbon siklus lambat ini ke dalam model iklim global menjadi langkah penting untuk meningkatkan akurasi proyeksi emisi karbon dan pemanasan global di masa depan.
Namun, perubahan iklim bukanlah satu-satunya faktor yang dapat mempercepat proses ini. Alih fungsi lahan justru dapat menjadi ancaman yang lebih besar. Dengan populasi Republik Demokratik Kongo yang diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050, tekanan akibat deforestasi dan degradasi lahan kemungkinan akan semakin intensif. Mengingat banyak komunitas masih bergantung pada praktik penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan untuk mata pencaharian mereka, upaya mengatasi ancaman terhadap Cekungan Kongo memerlukan strategi yang inklusif yang mendukung pembangunan sosial-ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistemnya dalam jangka panjang.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memperkuat Penanggulangan Campak di Indonesia
Pemerintah Tetapkan Larangan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Pergeseran Aktivisme Iklim Kaum Muda di Berbagai Negara
Mahkamah Agung India Tetapkan Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai Hak Dasar
Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas
Dampak Polusi Limbah Elektronik terhadap Kesehatan Hewan dan Manusia