Hilangnya Gletser di Seluruh Dunia dengan Laju yang Kian Mengkhawatirkan
Foto: Jacek Urbanski di Unsplash.
Seiring es mencair di bawah terik matahari, gletser di seluruh dunia menyusut lebih cepat dari sebelumnya akibat pemanasan global. Hilangnya gletser, baik yang berukuran kecil maupun besar, terjadi secara global dan meningkatkan kekhawatiran atas dampak lingkungan, budaya, dan ekonomi yang meluas.
Proyeksi Puncak Kehilangan Gletser
Saat ini terdapat lebih dari 200.000 gletser di dunia. Gletser-gletser ini menutupi sekitar 700.000 kilometer persegi permukaan Bumi dan menyimpan sekitar 158.000 kilometer kubik air tawar dunia. Gletser merupakan pilar penting bagi ekosistem dan mata pencaharian manusia, menopang kehidupan di Bumi dengan menyediakan air untuk kebutuhan minum, pertanian, industri, dan produksi energi.
Namun, selama bertahun-tahun, pemanasan global telah mengancam gletser, yang menyimpan cadangan air di Bumi. Sebuah studi memproyeksikan bahwa kepunahan gletser akan mencapai puncaknya pada periode 2041–2055, dengan sekitar 4.000 gletser hilang setiap tahun. Laju kepunahan ini, menurut studi tersebut, sangat bergantung pada skala pemanasan global.
Sebagai contoh, dalam skenario kenaikan suhu +1,5°C, kepunahan gletser diperkirakan memuncak pada tahun 2041 dengan sekitar 2.000 gletser hilang setiap tahun. Sementara itu, dalam skenario +4°C, puncaknya terjadi pada tahun 2055, dengan estimasi kehilangan sekitar 4.000 gletser per tahun.
Hilangnya Gletser di Arktik
Sementara kehilangan gletser terjadi di seluruh dunia, kawasan Arktik mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan wilayah lain. Arctic Report Card 2025 yang diterbitkan oleh NOAA Arctic mengungkap bahwa perubahan suhu tahunan di kawasan ini telah lebih dari dua kali lipat laju rata-rata global sejak 2006. Selain itu, periode 2015–2025 tercatat sebagai tahun-tahun terpanas dalam sejarah kawasan tersebut.
Kenaikan suhu yang sangat cepat ini telah mencairkan sekitar 129 miliar ton es dari Lapisan Es Greenland pada tahun 2025. Sementara itu, gletser di Alaska telah kehilangan rata-rata 38 meter ketebalan es sejak dekade 1950-an. Hilangnya gletser ini menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan permukaan air laut global dan turut memengaruhi kesehatan serta produktivitas ekosistem laut.
Laporan tersebut juga mengungkap dampak serius lainnya, termasuk penurunan keanekaragaman hayati akibat perubahan ekosistem, pencemaran sungai dan aliran air karena mencairnya permafrost (lapisan tanah beku permanen), serta meningkatnya risiko bencana yang merusak.
Menghentikan Pemanasan Global
Di luar fungsi ekologisnya, gletser memiliki nilai ekonomi dan budaya bagi berbagai komunitas. Hilangnya gletser dengan skala yang meluas memaksa banyak komunitas untuk beradaptasi dengan dampaknya; bahkan, beberapa komunitas memperingati kehilangan tersebut melalui upacara dan ritual, seperti “pemakaman gletser”. Sejumlah ritual penting pernah dilakukan untuk Gletser Okjökull di Islandia (2019), Gletser Pizol di Swiss (2021), dan Gletser Yala di Nepal (2025).
Hilangnya gletser menegaskan urgensi untuk membatasi kenaikan suhu global sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Paris 2015. PBB telah menetapkan 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser untuk menekankan pentingnya gletser dan upaya perlindungannya. Langkah terpenting adalah memperkuat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca global yang menjadi pendorong utama pemanasan global, dengan dukungan kemauan politik yang kuat, tindakan nyata, serta kolaborasi antara pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menetapkan Standar Nutrisi Berbasis Bukti untuk Atasi Keracunan MBG yang Berulang
Menilik Isu Kekurangan Bidan di Tingkat Global
Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa