Integrasi Praktik Adat dalam Penanganan Gelombang Panas di Australia
Foto:Craig Mannersdi Unsplash.
Bumi kita semakin hari semakin memanas. Salah satu indikasi paling nyata adalah meningkatnya frekuensi serta intensitas gelombang panas. Di Australia, gelombang panas dengan intensitas rendah telah menjadi makanan sehari-hari ketika musim panas tiba. Namun, gelombang panas ekstrem kini semakin sering muncul, seiring meningkatnya ancaman kebakaran hutan.
Gelombang Panas di Australia
Gelombang panas adalah kondisi ketika suhu maksimum dan minimum berada pada tingkat yang luar biasa tinggi dalam periode tertentu di suatu wilayah. Di Australia, gelombang panas menyebabkan jumlah kematian yang lebih besar dibandingkan peristiwa cuaca ekstrem lainnya. Dalam rentang waktu tahun 1844 hingga 2010, cuaca panas ekstrem telah menyebabkan 5.332 kematian.
Sayangnya, risiko panas tidak akan berkurang dalam waktu dekat karena suhu global terus meningkat. Menurut Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), suhu Australia telah meningkat sebesar 1,51°C dari 1910 hingga 2023, dan diperkirakan akan mengalami lebih banyak hari panas di masa depan.
Pada Januari 2026, bagian selatan Australia mencatat suhu tertinggi hingga 50°C. Analisis menunjukkan bahwa gelombang panas intens ini terutama dipicu oleh pemanasan global. Layaknya reaksi berantai, kondisi tersebut memicu dan mempercepat penyebaran enam kebakaran besar di negara bagian Victoria.
Menangani Gelombang Panas dengan Praktik Adat
Di tengah situasi tersebut, praktik adat menawarkan solusi untuk menurunkan risiko dampak panas.
Sebagai contoh, komunitas Aborigin di Australia utara telah mengembangkan pemahaman sosial dan budaya yang selaras dengan upaya perlindungan diri selama gelombang panas. Sebagian dari gaya hidup mereka mencakup pengaturan waktu aktivitas sosial dan budaya, menghindari aktivitas fisik berat pada hari-hari yang sangat panas, tidur di luar ruangan, serta melakukan aktivitas pada malam hari selama musim panas.
Contoh lain, masyarakat adat pertama Australia memiliki kesiapsiagaan bencana terkait panas. Salah satu cara mereka mengurangi ancaman kebakaran hutan adalah melalui cultural burning. Cultural burning merujuk pada praktik pengelolaan lahan adat yang melibatkan penggunaan api secara terkendali. Praktik ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu untuk memastikan api tidak menyebar dengan tidak terkendali. Tujuannya adalah menurunkan risiko kebakaran, meregenerasi spesies asli, dan melindungi satwa liar.
Ketimpangan dan Kerentanan
Namun, meskipun memiliki praktik dan tradisi untuk bertahan dari panas, masyarakat adat di Australia tetap berada dalam posisi rentan. Secara historis, masyarakat Aborigin di wilayah Northern Territory bagian tengah menghadapi isu perumahan yang tidak proporsional, yang memengaruhi ketahanan mereka terhadap panas. Kolonisasi telah menggusur mereka secara paksa. Setelah diizinkan kembali, pemerintah Northern Territory mulai membangun perumahan bagi mereka.
Sayangnya, pembangunan perumahan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek budaya maupun partisipasi komunitas mereka. Akibatnya, hunian yang disediakan memiliki kinerja termal yang tidak memadai, sehingga mereka harus bergantung pada pendingin udara untuk menurunkan suhu, yang justru menambah beban finansial.
Mewujudkan Ketahanan Panas yang Inklusif
Dengan ancaman gelombang panas seperti saat ini, perancangan kerangka ketahanan panas yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak. Bagi pemerintah Australia, langkah pertama yang penting adalah mengakui kebutuhan dan kerentanan spesifik kelompok terpinggirkan, seperti masyarakat adat, dalam Rencana Adaptasi Nasional.
Pengetahuan kuno yang tertanam dalam praktik dan tradisi masyarakat adat sangat berharga, dan integrasinya ke dalam kesiapsiagaan bencana nasional akan membawa manfaat besar. Karena itu, partisipasi aktif masyarakat adat dalam perumusan kebijakan, terutama terkait perubahan iklim dan pengelolaan lahan, menjadi sangat penting. Suara mereka sangat penting untuk mengukur efektivitas program seperti Kawasan Lindung Adat dan Penjaga Hutan Adat (Indigenous Rangers). Sementara itu, pemerintah juga dapat mendukung pendanaan inisiatif yang dipimpin masyarakat adat, seperti Wilya Janta, untuk membantu mengatasi krisis perumahan di tengah gelombang panas yang terus berulang.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Inflasi Harga Pangan: Hampir Separuh Warga Indonesia Tak Mampu Menjangkau Pola Makan Sehat
Menetapkan Standar Nutrisi Berbasis Bukti untuk Atasi Keracunan MBG yang Berulang
Menilik Isu Kekurangan Bidan di Tingkat Global
Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut