Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Foto: Gyan Shahane di Unsplash.
Sudah terlalu lama dunia bergantung pada alam dan kerja-kerja perawatan yang dilakukan oleh perempuan hingga tibalah kita di titik krisis. Kita mengeksploitasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan, sekaligus kerap menempatkan beban perawatan yang lebih berat di pundak perempuan. Padahal, saling merawat adalah prasyarat agar kita dapat terus melangkah ke depan. Karena itu, memahami keterkaitan antara krisis iklim dan kerja perawatan menjadi sangat penting.
Fondasi Kehidupan Yang Kurang Dihargai
Bumi dan perempuan memiliki banyak kemiripan, terlebih karena planet ini sejak lama dipersonifikasikan sebagai Ibu Pertiwi. Keduanya merupakan fondasi kehidupan, menyediakan sumber daya dan layanan yang menopang seluruh aktivitas ekonomi. Namun, peran penting ini sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya demikian.
Konsumsi berlebih terus meningkat dan sumber daya alam semakin terkuras—sebagian bahkan mencapai titik yang tak dapat dipulihkan. Para ilmuwan telah memperingatkan tentang kemungkinan kebangkrutan air, suatu kondisi ketika cadangan air bumi menipis tanpa peluang pemulihan yang memadai jika tren saat ini berlanjut. Hutan ditebangi, mineral-mineral kritis dikuras dari perut bumi, meninggalkan lahan tandus tanpa ruang bagi keanekaragaman hayati untuk bertahan.
Sementara itu, perempuan masih menanggung beban kerja perawatan yang tidak dibayar. Data ILO dari 64 negara menunjukkan sekitar 16,4 miliar jam per hari dihabiskan untuk kerja perawatan tanpa upah, mulai dari merawat anak dan lansia hingga mengelola rumah tangga. Lebih spesifik, perempuan menyumbang 76,2% dari total kerja perawatan tidak dibayar, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan laki-laki. Meskipun telah ada kemajuan, beban tersebut tetaplah timpang.
Keterkaitan Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Alam serta tenaga kerja perempuan dan anak perempuan kerap diperlakukan seolah-olah persediaannya tak terbatas dan pemanfaatannya tidak menimbulkan biaya. Di sinilah pentingnya memahami keterkaitan antara krisis iklim dan kerja perawatan (climate-care nexus).
Ketergantungan berlebihan telah membawa kita berhadapan langsung dengan krisis iklim. Pada saat yang sama, beban kerja perawatan semakin meningkat tanpa didukung sistem yang memadai untuk menopangnya. Yang lebih mengkhawatirkan, kedua krisis ini tidak berdiri sendiri. Krisis iklim memperparah krisis perawatan dan menghambat kemajuan dalam mewujudkan keadilan sosial untuk semua.
Sebagai contoh, menurut laporan WHO dan UNICEF, di tujuh dari sepuluh rumah tangga, perempuan dan anak perempuan bertanggung jawab mengambil air. Ketika ekstraksi air berlebihan dan perubahan iklim memperparah krisis air, mereka harus mengantre lebih lama atau berjalan lebih jauh demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap pelecehan dan kekerasan, sekaligus mengurangi waktu dan kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan waktu luang.
Perawatan terhadap lingkungan juga menambah beban kerja perawatan tidak dibayar bagi perempuan dan anak perempuan. Laporan UN Women menyoroti bahwa sejumlah praktik ketahanan iklim, seperti pertanian organik dan pengelolaan sampah, memerlukan tenaga kerja intensif dari perempuan. Mereka sering memikul tanggung jawab utama dalam pengelolaan sampah rumah tangga, termasuk pemilahan dan pengomposan, yang menyita waktu dan energi mereka. Keterkaitan antara krisis iklim dan kerja perawatan ini terlalu penting untuk diabaikan.
Mengintegrasikan Perspektif
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk saling merawat dan menjaga lingkungan alam yang telah menopang kehidupan kita. Keterkaitan antara krisis iklim dan kerja perawatan menunjukkan adanya ketergantungan timbal balik yang kuat antara manusia dan lingkungan, sekaligus menegaskan urgensi intervensi yang mampu menjawab krisis iklim dan ketidakadilan sosial secara bersamaan.
Karena itu, mengakui ketimpangan struktural terhadap perempuan yang masih mengakar dalam masyarakat menjadi langkah penting dalam mewujudkan dunia yang lebih baik dan berkelanjutan. Selain itu, mengintegrasikan perspektif gender ke dalam kebijakan mitigasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, dan transisi yang adil—serta membuka ruang partisipasi aktif bagi perempuan dan anak perempuan—merupakan fondasi untuk merumuskan intervensi yang inklusif dalam menghadapi berbagai krisis.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani
Bagaimana Bank Dapat Berperan dalam Mendorong Terciptanya Pekerjaan Layak
Menilik Tantangan dalam Pengembangan SAF berbasis Minyak Jelantah di Indonesia
Mengintegrasikan Panas Perkotaan dalam Sistem Penanggulangan Bencana
Rencana Energi Lokal Inggris untuk Mendukung Pengembangan Energi Komunitas
Krisis Iklim dan Munculnya Gelombang Penyakit di Wilayah Pesisir Utara Bali dan Pangkep