Menghidupkan Kembali Sungai-Sungai yang Tertimbun dengan Daylighting
Sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan. | Foto: Shai Lopez on Unsplash.
Di berbagai belahan dunia, telah muncul seruan untuk mengembalikan alam ke wilayah perkotaan. Orang-orang ingin melihat lebih banyak pohon, hewan, dan air yang mengalir, bukan kabut asap dan limbah industri. Salah satu bentuk upaya revitalisasi perkotaan adalah daylighting, yang mengintegrasikan alam ke dalam kawasan perkotaan dengan menghidupkan kembali sungai-sungai yang telah mati dan tertimbun.
Apa Itu Daylighting?
Selama Revolusi Industri, menimbun atau menutup sungai menjadi praktik yang lazim. Sungai-sungai kerap tercemar oleh limbah beracun dan kotoran, dan dianggap sebagai penghalang bagi perluasan kawasan industri maupun permukiman. Banyak pula sungai yang kemudian dimasukkan ke dalam sistem saluran pembuangan sebagai bagian dari infrastruktur abu-abu, baik untuk membantu drainase maupun sebagai saluran pengumpul. Namun, meskipun tertimbun, sungai-sungai tersebut tetap mengikuti jalur alaminya. Hingga kini, para perencana kota tetap harus memperhitungkan lokasi dan karakteristik aliran air bawah tanah setiap kali membangun apa pun.
Namun, curah hujan yang semakin tinggi dan tidak menentu—yang dipicu oleh perubahan iklim—kini membebani infrastruktur bawah tanah tersebut hingga melampaui kapasitasnya. Kondisi ini dapat memicu banjir atau menimbulkan tekanan besar pada infrastruktur dengan biaya yang sangat mahal. Kota-kota seperti Tokyo telah menghabiskan waktu dan dana yang sangat besar untuk membangun sistem bawah tanah yang rumit guna mengelola limpasan air hujan dan banjir.
Dalam beberapa dekade terakhir, sungai-sungai yang tertimbun tersebut kembali muncul seiring meningkatnya kesadaran kota-kota akan manfaat solusi berbasis alam (nature-based solutions). Daylighting, yang juga dikenal sebagai deculverting, adalah praktik menghidupkan kembali sungai-sungai alami yang sebelumnya ditimbun atau disambungkan ke dalam sistem saluran pembuangan. Daylighting sungai bukan sekadar upaya menghadirkan kembali unsur alam ke dalam ruang perkotaan, tetapi juga berperan penting dalam mencegah banjir di kota. Selain itu, praktik ini turut mengurangi beban instalasi pengolahan air limbah serta membantu menekan dampak fenomena Pulau Panas Perkotaan (Urban Heat Island).
Meningkatnya Popularitas Daylighting
Kota-kota di berbagai belahan dunia telah berhasil memanfaatkan daylighting untuk menghidupkan kembali sungai-sungai yang sempat hilang. Salah satu contoh paling terkenal adalah Sungai Cheonggyecheon di Seoul, yang kini menjadi taman publik yang ramai di jantung kota. Pemerintah Korea Selatan bekerja secara intensif dengan para pelaku usaha lokal dan pengembang sektor swasta untuk mewujudkan proyek tersebut.
Sementara itu, di Amerika Serikat, ada lebih dari tiga lusin proyek daylighting yang berhasil dirampungkan. New York menjadi salah satu contoh menonjol, dengan sejumlah proyek besar seperti daylighting Sungai Tibbetts Brook dan Saw Mill River.
Di Inggris Raya dan Eropa pada umumnya, berbagai proyek daylighting juga telah dijalankan. Namun, praktik baik yang patut disorot ada di Swiss. Melalui kebijakan yang dikenal sebagai “Bachkonzept”, Swiss memisahkan sistem saluran pembuangan dari aliran sungai atau anak sungai alami, lalu menghidupkan kembali aliran-aliran tersebut. Kota-kota di seluruh penjuru Swiss—seperti Basel, Bern, dan Geneva—telah mengubah sungai-sungai yang sebelumnya terkubur menjadi ruang publik. Kota Zurich bahkan berhasil membuka kembali lebih dari 30 aliran sungai dalam beberapa dekade terakhir. Keberhasilan ini menjadi bukti dampak positif daylighting terhadap infrastruktur, pembangunan kota, serta kesehatan dan kesejahteraan publik. Menariknya, strategi tersebut merupakan bagian dari kerangka legislasi yang lebih luas untuk melindungi kualitas air di seluruh penjuru Swiss.
Mengatasi Tantangan melalui Upaya Kolaboratif
Kawasan di sekitar sungai yang telah dihidupkan kembali kerap mengalami peningkatan nilai properti dan lonjakan aktivitas manusia. Dengan demikian, proyek daylighting tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan—seperti efek pendinginan dan penurunan tingkat pencemaran—tetapi juga manfaat ekonomi.
Namun, daylighting bukannya tanpa tantangan. Setelah dipulihkan, sungai-sungai ini sering kali membutuhkan perawatan berskala besar yang mahal serta koordinasi lintas pihak. Selain itu, selama masa konstruksi, pelaku usaha lokal harus menghadapi berbagai gangguan, dan persoalan kepemilikan lahan di sepanjang bantaran sungai kerap memicu perselisihan.
Pada akhirnya, penerapan daylighting dan solusi berbasis ekosistem lainnya secara luas menuntut kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, para ahli, dan warga. Kombinasi antara kebijakan dan regulasi yang kokoh, pembiayaan berkelanjutan, serta partisipasi masyarakat dapat mendorong perancangan ulang kawasan perkotaan secara mendasar menuju kota yang lebih selaras antara lingkungan binaan, manusia, dan alam.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja