Membuka Jalan Menuju Penerbangan Berkelanjutan di Pakistan

Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Industri penerbangan semakin mendapat sorotan karena kontribusinya yang besar terhadap perubahan iklim. Hal ini berlaku secara global, termasuk di Pakistan yang sektor penerbangannya terus berkembang. Industri penerbangan di Pakistan berada di titik kritis di mana penyelarasan antara pertumbuhan dengan praktik berkelanjutan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Membuka jalan menuju penerbangan berkelanjutan di Pakistan kini semakin mendesak.
Industri Penerbangan Pakistan yang Sedang Berkembang
Industri penerbangan mungkin hanya menyumbang 2,5% dari emisi global, tetapi dampaknya sangat tinggi. Emisi penerbangan terjadi di ketinggian, di mana gas seperti nitrogen oksida (NOₓ) dan jejak kondensasi secara aktif berkontribusi terhadap pemaksaan radiatif. Fenomena ini secara efektif memerangkap panas, sehingga menghasilkan kontribusi yang lebih besar terhadap pemanasan global dibandingkan sekadar CO2.
Dengan perjalanan udara global yang terus bertumbuh, emisi penerbangan diproyeksikan akan berlipat dua kali atau bahkan tiga kali lipat pada tahun 2050 dalam skenario business-as-usual. Prospek ini merupakan pertanda buruk dalam lintasan iklim saat ini, dan intervensi yang tepat waktu sangatlah penting.
Kenyataannya, perubahan iklim berdampak secara tidak proporsional terhadap mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi global. Pakistan, misalnya, berkontribusi kurang dari 1% dan secara konsisten berada di peringkat 10 besar negara paling rentan terhadap perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, sektor penerbangan Pakistan merupakan industri yang sedang berkembang—begitu pula dengan jejak karbonnya. Tingkat emisi karbon tahunannya sekitar 1,94 juta ton dari penerbangan komersial domestik saja. Ditambah dengan lalu lintas udara internasional, menciptakan jalan menuju penerbangan berkelanjutan di Pakistan sangat relevan bagi masa depan dan pembangunan negara.
Kerangka Kebijakan yang Luas dan Dukungan Industri
Pemerintah Pakistan mengambil langkah konstruktif menuju arah ini dengan Kebijakan Perubahan Iklim Nasional (NCCP) 2021. NCCP mengakui dampak industri penerbangan terhadap pemanasan global dengan menguraikan tiga area perhatian yang jelas. Pertama, mendorong maskapai nasional untuk mempertimbangkan peningkatan armada yang irit bahan bakar. Kedua, mendukung inisiatif pengurangan emisi karbon Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), yang membangun kapasitas di negara-negara berkembang melalui berbagai proyek. Terakhir, Pakistan perlu mempertahankan peran aktifnya dalam pengembangan kebijakan mitigasi internasional.
Langkah ini telah didukung oleh beberapa maskapai penerbangan, seperti Pakistan International Airlines (PIA) yang memperbarui armadanya yang sudah tua dengan pesawat Airbus 320 yang lebih irit bahan bakar. Contoh lain adalah Airblue yang memperkenalkan pesawat A31neo yang dilengkapi dengan mesin LEAP-1A, yang diprediksi dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 20%.
Lebih lanjut, langkah-langkah ini juga didukung dengan rencana lain untuk mewujudkan penerbangan berkelanjutan. Salah satunya adalah sertifikasi ISO-14001 untuk Sistem Manajemen Lingkungan di bandara-bandara besar. Pakistan juga sedang mengambil langkah untuk mengembangkan fasilitas Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) pertamanya di Sheikhupura, dengan pendanaan bersama oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dan International Finance Corporation (IFC). Pengembangan SAF, khususnya, merupakan upaya yang berharga bagi negara seperti Pakistan yang saat ini bergantung pada impor untuk memenuhi 40% kebutuhan energinya.
Area Kunci yang Terlewat
Meskipun semua ini merupakan langkah yang menggembirakan menuju penerbangan berkelanjutan di Pakistan, masih terdapat kesenjangan kritis. Meskipun NCCP merupakan kebijakan yang cukup berwawasan ke depan untuk kemajuan berkelanjutan, masih terdapat beberapa area kunci yang terlewat.
Sejauh ini, NCCP belum membahas penerbangan komersial swasta dan kedirgantaraan militer, meskipun kontribusinya terhadap emisi karbon terbilang signifikan. Misalnya, informasi publik tentang emisi penerbangan militer sama sekali tidak tersedia, ditambah dengan kurangnya permintaan akan transparansi dan akuntabilitasnya yang telah berlangsung lama.
Kesenjangan data ini, di antara data penerbangan lainnya, membuat proses identifikasi area prioritas menjadi jauh lebih rumit. Hal ini juga menghambat pengembangan sistem perencanaan bahan bakar nasional yang terintegrasi untuk mengkoordinasikan dan memenuhi kebutuhan yang diproyeksikan, sehingga semakin mengurangi efisiensi bahan bakar. Selain itu, tindakan konkret seperti penetapan target yang terukur dan berjangka waktu, mekanisme penegakan hukum, dan kerangka kerja penilaian dampak, juga masih alpa.
Menuju Penerbangan Berkelanjutan di Pakistan
ICAO telah mendeklarasikan target global nol emisi bersih untuk penerbangan internasional pada tahun 2050. Untuk mencapai target tersebut dan mengimbangi pemain regional seperti China dan India, yang aktif bergerak menuju praktik penerbangan berkelanjutan, Pakistan harus secara sadar mengevaluasi langkah-langkah ke depan.
Membangun kerangka kerja jangka panjang yang mempromosikan tanggung jawab lingkungan melalui pelaporan emisi akan memberikan manfaat jangka panjang yang substansial meski memakan waktu dan rumit. Bagi negara seperti Pakistan, yang telah memiliki kerangka kerja kebijakan yang luas seperti NCCP, tantangan utamanya terletak pada penerapan langkah-langkah yang jelas, terukur, dan dapat ditindaklanjuti yang membantu dalam upaya mencapai keberlanjutan.
Selain itu, menjajaki sumber pendanaan tambahan juga penting, antara lain dengan melibatkan organisasi pembangunan internasional dan kemitraan publik-swasta. Pada saat yang sama, Pakistan harus mendukung dan memberdayakan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) serta inisiatif lokalnya melalui investasi finansial, teknis, dan strategis. Meningkatkan penelitian dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk di lembaga-lembaga yang berfokus pada penerbangan seperti National Aerospace and Technology Park (NASTP), juga merupakan kunci. Pada akhirnya, perkembangan yang stabil, konsisten, dan kolaboratif akan menghasilkan perubahan positif yang penting dan bertahan lama.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Terbitkan thought leadership dan wawasan berharga Anda bersama Green Network Asia, pelajari Panduan Artikel Opini GNA.

Perkuat pengembangan kapasitas pribadi dan profesional Anda dengan Langganan GNA Indonesia.
Jika konten ini bermanfaat, harap pertimbangkan Langganan GNA Indonesia untuk mendapatkan akses digital ke wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia.
Pilih Paket Langganan Anda
Sajal adalah Asisten Riset di Centre for Aerospace & Security Studies (CASS), Islamabad, Pakistan. Ia mengerjakan riset di bidang kedirgantaraan dan teknologi yang tengah berkembang, dengan fokus pada tantangan keamanan non-tradisional, termasuk keamanan lingkungan dan risiko strategis regional.