Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Jalur Basecamp Gunung Everest, Khumjung, Nepal. | Foto: Mari Partyka di Unsplash.
Sampah merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi planet ini. Masalah tersebut bahkan menjangkau titik tertinggi di Bumi di atas permukaan laut, yang tak lain adalah puncak Gunung Everest. Tingginya jumlah pendaki menyebabkan kotoran manusia dan sampah tersebar luas di kawasan tersebut. Terkait masalah ini, Pemerintah Nepal mengambil langkah dengan meluncurkan strategi lima tahun untuk membersihkan kawasan Himalaya.
Penumpukan Sampah di Gunung Everest
Gunung Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya, terletak di perbatasan Nepal dan Tibet. Meski memiliki ketinggian 29.029 kaki dan kontur yang sangat berbahaya, Gunung Everest tetap menjadi destinasi wisata utama bagi pendaki profesional maupun amatir. Sayangnya, dampak pendakian terlihat jelas dari banyaknya sampah yang ditinggalkan para pendaki, yang menumpuk di sepanjang jalur menuju puncak.
Setiap tahun, sekitar 600 pendaki yang mencapai Gunung Everest menghasilkan rata-rata sekitar 8 kilogram sampah per orang. Jenis sampah yang paling dominan meliputi tabung oksigen bekas, tenda, wadah makanan, serta kotoran manusia. Selain itu, terdapat lebih dari 300 jenazah manusia di kawasan tersebut, yang pengambilannya menjadi tantangan tersendiri.
Kondisi ini semakin diperparah oleh perubahan iklim yang terus berlangsung. Sebuah studi oleh International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menunjukkan bahwa wilayah Himalaya berpotensi kehilangan tutupan saljunya dengan cepat, dengan curah salju diperkirakan menurun antara 18,9 persen hingga 32,8 persen pada akhir abad ini. Akibatnya, sampah dan sisa-sisa jasad manusia yang selama puluhan tahun tertimbun salju akan tersingkap. Kemunculan kembali limbah tersebut berisiko meningkatkan dampak kesehatan dan lingkungan bagi komunitas yang berada di hilir.
Upaya yang Telah Dilakukan
Pada tahun 2014, Nepal menerapkan peraturan yang mewajibkan setiap tim pendaki membayar deposit sebesar 4.000 dolar AS, yang akan dikembalikan jika setiap pendaki membawa turun sedikitnya 8 kilogram sampah. Namun, skema ini dinilai tidak efektif karena para pendaki cenderung hanya membawa turun sampah dari kamp-kamp bawah atau memilih untuk kehilangan deposit tersebut.
Pada tahun 2025, otoritas Nepal kembali mengambil langkah tegas untuk mengatasi persoalan ini. Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan, Pariwisata, dan Penerbangan Sipil, Pemerintah Nepal meluncurkan strategi lima tahun untuk membersihkan pegunungan di Nepal, khususnya Gunung Everest. Strategi ini utamanya menekankan tindakan pencegahan dengan menempatkan tanggung jawab terbesar pada para penghasil sampah. Sebagai contoh, seluruh pendaki diwajibkan membawa turun semua barang yang mereka bawa naik.
Selain itu, pemanfaatan teknologi secara kolaboratif menjadi salah satu solusi utama yang ditawarkan dalam rencana ini. Lembaga-lembaga yang terlibat akan menggunakan teknologi drone canggih untuk memantau keberadaan sampah di kawasan Khumbu. Di samping itu, akan dibangun sistem pengelolaan sampah terpadu di seluruh wilayah Himalaya yang melibatkan pemerintah, tim ekspedisi, dan komunitas lokal.
Menuju Pariwisata Berkelanjutan di Gunung Everest
Masyarakat adat di sekitar wilayah Himalaya telah lama menyuarakan kekhawatiran atas degradasi ekologis akibat aktivitas pariwisata. Sebagai penjaga dan pengelola wilayah, kontribusi mereka terhadap keberlanjutan sangatlah penting. Sebagai contoh, masyarakat Sherpa—kelompok etnis Tibet asli kawasan tersebut—telah melakukan berbagai upaya seperti mendaur ulang sampah, memeriksa legalitas setiap pendaki, serta membangun sistem pengelolaan kotoran manusia. Namun, upaya ini tidak akan cukup tanpa partisipasi penuh dari seluruh pemangku kepentingan.
Oleh karena itu, pendidikan juga memegang peranan penting. Strategi ini dapat menjawab kebutuhan tersebut dengan memasukkan kesadaran lingkungan ke dalam kurikulum lokal. Para pendaki pun tidak dikecualikan, dan diwajibkan mengikuti orientasi lingkungan sebelum melakukan pendakian. Pada akhirnya, pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk membalikkan keadaan dan menggerakkan seluruh pihak terkait agar secara bersama-sama menjaga kelestarian Gunung Everest.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi