Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Foto: Adam Harris di Unsplash.
Teknologi dan inovasi telah mengambil peran sentral dalam transisi energi dunia, mulai dari panel surya fotovoltaik hingga sistem penyimpanan baterai. Namun, transisi energi seharusnya tidak hanya berfokus pada kehadiran instrumen baru yang canggih. Inovasi energi terbarukan harus diintegrasikan secara sistemik agar mampu mendukung inklusivitas dan aksesibilitas energi untuk semua.
Kesenjangan yang Perlu Diatasi
Energi terbarukan merupakan fondasi bagi ketahanan dan kedaulatan energi, yang diproyeksikan akan menyumbang sekitar 90 persen dari pembangkitan listrik global pada tahun 2050. Mewujudkan proyeksi ini sangat bergantung pada penguatan implementasi dan perluasan akses, yang meskipun telah menunjukkan kemajuan signifikan, masih menghadapi tantangan besar.
Sebagai contoh, sekitar 666 juta orang di dunia masih belum memiliki akses terhadap listrik menurut laporan Bank Dunia. Sebagian besar dari mereka tinggal di kawasan Afrika Sub-Sahara, di mana perluasan akses listrik kerap tertinggal dibandingkan laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat. Persoalan keterjangkauan dan keandalan pasokan listrik turut memperberat tantangan tersebut.
Secara global, laporan Bank Dunia juga mengungkap adanya kesenjangan akses listrik antara wilayah pedesaan dan perkotaan. Sekitar 84 persen penduduk yang belum menikmati listrik tinggal di komunitas pedesaan, menegaskan pentingnya upaya untuk mengatasi ketimpangan tersebut sekaligus memberdayakan masyarakat lokal.
Inovasi Sistemik untuk Pembangunan Lokal
Inovasi energi terbarukan memegang adalah kunci dalam menjawab persoalan-persoalan di atas. Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) menekankan pentingnya inovasi sistemik. Yang dimaksud dengan inovasi sistemik adalah pengintegrasian inovasi teknologi dengan inovasi dalam kebijakan, regulasi, desain pasar, pengoperasian dan perencanaan sistem, serta model bisnis. Laporan tersebut menyajikan empat perangkat strategi yang mencakup 40 bentuk inovasi untuk merumuskan solusi yang sesuai dengan konteks masing-masing wilayah.
Untuk mendorong pembangunan lokal yang inklusif, laporan tersebut menekankan bahwa inovasi energi terbarukan harus mampu mentransformasi energi dari sekadar kebutuhan dasar menjadi pengungkit utama pembangunan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya.
Salah satu bentuk inovasi adalah pembentukan komunitas energi sebagai model alternatif selain perusahaan listrik milik negara maupun swasta. Di Tanzania, misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa model kepemilikan paling umum untuk pembangkit listrik mini berbasis surya dan hidro adalah model berbasis komunitas dan lembaga keagamaan. Dalam model ini, masyarakat dapat berbagi kepemilikan, tanggung jawab, proses pengambilan keputusan, serta manfaat yang dihasilkan, sehingga memungkinkan keterlibatan yang berpusat pada masyarakat dalam proyek energi terbarukan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan mereka.
Inovasi lainnya adalah pemanfaatan listrik secara produktif untuk menciptakan nilai ekonomi dan menghasilkan pendapatan. Sebagai contoh, listrik dari pembangkit surya off-grid dimanfaatkan untuk mendinginkan dan mempasteurisasi susu di Senegal dan Mauritania melalui inisiatif Progrès-Lait. Praktik ini mendorong aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di tingkat lokal, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari proyek energi terbarukan.
Lingkungan Pendukung bagi Inovasi Energi Terbarukan
Pemanfaatan potensi inovasi energi terbarukan tersebut memerlukan lingkungan yang kondusif. Laporan IRENA menyoroti sejumlah prioritas strategis untuk menciptakan kondisi pendukung, antara lain investasi pada ekosistem inovasi yang komprehensif, penekanan pada penciptaan nilai lokal dan transfer pengetahuan, serta pelibatan konsumen dan komunitas.
Singkatnya, para pembuat kebijakan dapat mengarahkan sumber daya dan pendanaan ke lembaga penelitian, pendidikan teknis, serta sistem pengetahuan dan rantai nilai lokal untuk mengembangkan tenaga kerja terampil dan mendorong inovasi yang melampaui teknologi yang telah ada. Kebijakan dan keputusan tersebut perlu dirumuskan melalui dialog antara pembuat kebijakan, komunitas lokal, dan pemangku kepentingan kunci lainnya untuk memastikan bahwa manfaat energi terbarukan dapat dirasakan secara adil dan inklusif oleh seluruh manusia dan planet Bumi.
Penerjemah: Abul MuamarBaca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Perempuan dalam Pengelolaan Sampah: Mewujudkan Sirkularitas yang Responsif Gender
Potensi dan Tantangan Biodiversity Credits dalam Penguatan Pembiayaan Keanekaragaman Hayati
Bagaimana Program PLTS 100 GW dapat Mendukung Ketahanan Energi
Kontaminasi PFAS di Amerika Serikat dan Desakan Petani ke Pemerintah
Mengatasi Kemiskinan Waktu di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Kemunduran Besar dalam Pencapaian SDGs di Asia Pasifik