Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Foto: Pascal Scholl on Unsplash
Telekomunikasi global saat ini berada pada tingkat paling maju dalam sejarah. Aksesibilitas digital tersebut dimungkinkan oleh keberadaan kabel bawah laut, yang membentang di dasar laut dengan total panjang lebih dari 1,7 juta kilometer. Di dalam kabel yang berdiameter kira-kira sebesar selang tersebut, serat optik menjadi jalur bagi lebih dari 95% lalu lintas data internasional yang diproses secara cepat. Tak ayal, infrastruktur ini membawa risiko dan peluang sekaligus.
Kabel Bawah Laut dan Kehidupan Laut
Namun, instalasi kabel-kabel ini melibatkan proses yang sangat kompleks. Tahapannya meliputi penyiapan rute, pembersihan hambatan, penyesuaian kemiringan dan kedalaman, serta stabilisasi kabel. Proses yang rumit ini menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak ekspansi masif kabel bawah laut terhadap kehidupan laut.
Pada tahap instalasi, pengerjaan ulang dasar laut dapat mengubah struktur alaminya. Gangguan semacam ini berpotensi memengaruhi habitat sensitif seperti terumbu karang dan padang lamun. Contoh yang paling nyata adalah pemindahan dan penanaman kembali Posidonia, spesies lamun endemik Laut Mediterania selama pelaksanaan proyek.
Selain itu, fase operasional kabel juga menghadirkan tantangan tersendiri. Medan elektromagnetik yang dihasilkan dapat memengaruhi ekosistem laut dasar. Bastien Taormina, peneliti ekologi laut di Institute Marine Research, menyatakan bahwa medan elektromagnetik berpotensi mengganggu navigasi spesies laut yang peka terhadap listrik, seperti hiu dan belut.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran, sebuah studi menunjukkan bahwa dampak biologis dari pemasangan kabel relatif kecil. Studi lain mengungkapkan bahwa pengaruh medan elektromagnetik terhadap habitat laut sangat bergantung pada jenis spesiesnya. Kepiting dan moluska menunjukkan respons yang berbeda dibandingkan anemon dan ikan, dan tidak semua respons tersebut bersifat negatif. Meski demikian, kajian mengenai dampak medan elektromagnetik yang dihasilkan kabel bawah laut masih perlu diperluas.
Peningkatan Fungsi Kabel Bawah Laut
Sementara itu, untuk meningkatkan fungsi kabel bawah laut yang dipasang dengan teknologi tinggi ini, sebuah inisiatif riset yang didanai Uni Eropa tengah mengkaji pengembangan teknologi yang memungkinkan kabel bawah laut dimanfaatkan sebagai jaringan sensor global. Penelitian ini bertujuan mengalihfungsikan kabel bawah laut menjadi sistem peringatan dini bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami. Sejauh ini, temuan penelitian menunjukkan bahwa kabel bawah laut juga dapat digunakan untuk memantau perubahan iklim melalui pengukuran suhu laut.
Namun, banyak kabel bawah laut dimiliki oleh pihak swasta. Karena itu, penerapan teknologi sensor ini berpotensi menghadapi tantangan besar, mengingat perlunya negosiasi dengan konsorsium perusahaan internet dan telekomunikasi yang mengoperasikan kabel-kabel tersebut.
Menciptakan Kemajuan Teknologi yang Bertanggung Jawab dan Efisien
Mengingat pentingnya kabel bawah laut, upaya peningkatan dan optimalisasi fungsinya menjadi sangat krusial. Diperlukan dukungan teknis dan finansial yang lebih besar untuk penelitian dan pengembangan guna mengoptimalkan manfaat kabel bawah laut, sekaligus memastikan perlindungan ekosistem laut dalam seluruh prosesnya.
Pemerintah memegang peran penting dalam menjembatani kepentingan ilmuwan dan investor. Sifat lintas batas dari kabel bawah laut harus mendorong pemerintah untuk mempromosikan dan mendukung inovasi teknologi yang berkelanjutan. Dengan sistem yang tepat, negara-negara yang terlibat dapat memperoleh manfaat berupa peningkatan konektivitas digital, perlindungan ekosistem laut, serta kesiapsiagaan terhadap bencana.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global