Ancaman Tersembunyi Polusi Ban terhadap Populasi Salmon dan Kehidupan Akuatik
Foto: Brandon di Unsplash.
Polusi plastik sering digambarkan melalui botol atau kantong plastik yang mengapung di lautan. Namun, sebagian limbah plastik yang paling berbahaya justru nyaris tak terlihat. Salah satu sumber yang kerap terabaikan adalah polusi ban. Setiap kali kendaraan bergerak, partikel ban dan residu kimia tercuci dari jalan menuju sungai dan aliran air. Polutan ini mengancam kehidupan akuatik, termasuk populasi salmon yang rentan dan bergantung pada sungai yang bersih dan sehat.
Ban sebagai Ancaman Mikroplastik
Partikel keausan ban (tire wear particles/TWP), yang dihasilkan dari gesekan antara ban kendaraan dan permukaan jalan, merupakan salah satu penyumbang terbesar polusi mikroplastik. Menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), partikel ini menyumbang hingga 30% mikroplastik primer yang masuk ke lingkungan laut. Dengan lebih dari 3 miliar ban diproduksi setiap tahun dan lebih dari satu miliar kendaraan digunakan di seluruh dunia, polusi ban terus-menerus dihasilkan dan terbawa dari jalan menuju sungai, lalu akhirnya ke laut dan samudra.
Lebih dari sekadar serpihan karet, polusi ban mengandung campuran kompleks bahan sintetis dan alami, serta ratusan aditif kimia yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan dan kinerja ban. Salah satunya adalah seng oksida (zinc oxide), yang dapat mencapai sekitar 0,7% dari berat ban dan bersifat beracun bagi ikan dan organisme akuatik lainnya bahkan dalam konsentrasi rendah. Setelah masuk ke badan air, partikel-partikel ini dapat melepaskan zat beracun yang membahayakan kehidupan akuatik, termasuk salmon.
Dampak terhadap Populasi Salmon
Di wilayah Pacific Northwest, upaya pemulihan habitat salmon mengungkap dampak yang tak terduga dari polusi ban. Setelah hujan deras, salmon coho yang kembali dari laut terlihat berputar-putar dan megap-megap di permukaan, lalu mati sebelum sempat memijah. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai sindrom kematian akibat limpasan air hujan perkotaan (urban stormwater runoff mortality syndrome/USRMS), yang menunjukkan dampak tersembunyi limpasan air hujan dari jalan.
Para peneliti belakangan menelusuri penyebabnya pada suatu senyawa kimia, yang kemudian dikaitkan dengan polusi ban. Senyawa 6PPD, yang umum digunakan dalam pembuatan ban untuk mencegah degradasi karet, bereaksi dengan ozon di udara dan membentuk produk sampingan bernama 6PPD-kuinon. Zat ini sangat beracun bagi salmon coho, dengan sampel air limpasan hujan menunjukkan konsentrasi jauh di atas ambang mematikan. Paparan singkat saja dapat merusak fungsi insang dan mengganggu perilaku normal, sehingga menghambat migrasi dan reproduksi. Temuan ini menunjukkan bagaimana polusi ban secara langsung dapat mengacaukan migrasi, pemijahan, dan stabilitas jangka panjang ekosistem air tawar.
Butuh Solusi dan Regulasi yang Lebih Kuat
Penanganan polusi ban memerlukan langkah yang melampaui perubahan perilaku konsumen secara individual. Meski perawatan ban yang tepat dan penyaringan limpasan air hujan dapat membantu mengurangi polusi, para ahli menekankan pentingnya solusi hulu yang menargetkan sumber pencemaran.
Inovasi seperti perangkat penangkap partikel keausan ban yang dikembangkan oleh peneliti di Imperial College London menunjukkan bahwa intervensi teknologi memungkinkan untuk dilakukan. Sementara itu, berbagai riset paralel tengah mencari alternatif yang lebih aman untuk menggantikan aditif kimia seperti 6PPD.
Upaya regulasi juga mulai terbentuk. Standar emisi Euro 7 yang akan diterapkan Uni Eropa menjadi langkah maju dalam menangani polusi kendaraan non-knalpot, termasuk polusi ban. Para peneliti juga mengusulkan pembentukan panel global terkoordinasi yang terdiri dari ilmuwan dan pakar kebijakan, untuk menilai risiko secara lebih komprehensif dan memberikan arahan kebijakan.
Selain itu, dampak polusi ban berbeda-beda di setiap wilayah. Aliran sungai perkotaan yang berada di dekat jalan raya dan koridor industri, misalnya, menghadapi paparan limpasan tercemar yang lebih tinggi. Penurunan populasi salmon juga sangat mempengaruhi komunitas adat, seperti Suku Nez Perce dan berbagai suku di Washington, yang bagi mereka salmon memiliki makna kultural, gizi, dan ekonomi yang mendalam. Karena itu, penanganan polusi yang berasal dari ban bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan keadilan lingkungan.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mewujudkan Sanitasi Layak dan Berketahanan Iklim
Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar
Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani
Bagaimana Bank Dapat Berperan dalam Mendorong Terciptanya Pekerjaan Layak
Menilik Tantangan dalam Pengembangan SAF berbasis Minyak Jelantah di Indonesia