Potensi Car Free Day dalam Menciptakan Kota Berkelanjutan
Foto: Freepik.
Pesatnya urbanisasi dan meningkatnya jumlah kendaraan pribadi telah memperparah polusi udara dan kemacetan di kota-kota di seluruh dunia. Lantas, inisiatif seperti Car Free Day mendorong masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan dan merasakan jalanan yang lebih bebas dari polusi. Jika diterapkan secara serius, Car Free Day dapat membantu kota menata ulang mobilitas dan membangun lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan dan berpusat pada manusia.
Munculnya Inisiatif Car Free Day
Car Free Day Sedunia bermula pada tahun 1970, ketika krisis minyak global mendorong sejumlah negara memberlakukan hari Minggu tanpa mobil. Pada saat yang sama, warga di berbagai kota mulai memprotes dominasi kendaraan bermotor di ruang kota. Beberapa dekade kemudian, gagasan ini memperoleh momentum lebih luas melalui kampanye Eropa “In town, without my car!” pada 1998, yang mendorong kota-kota untuk mencoba menerapkan Car Free Day.
Pada tahun 2000, Komisi Eropa secara resmi menetapkan 22 September sebagai Car Free Day Sedunia, yang membantu memperluas inisiatif ini ke berbagai belahan dunia. Momen ini kemudian menjadi penutup dari Pekan Mobilitas Eropa, yang setiap tahunnya mengajak ribuan kota untuk menguji solusi transportasi yang lebih berkelanjutan.
Di berbagai negara, konsep ini diadaptasi dengan cara berbeda. Di Bogotá, Kolombia, misalnya, program mingguan Ciclovía menutup lebih dari 100 kilometer jalan setiap hari Minggu, menarik hampir dua juta warga dan memengaruhi investasi kota dalam infrastruktur sepeda dan transportasi publik. Di Jakarta, Car Free Day yang berlangsung setiap Minggu di ruas Sudirman–Thamrin menutup sekitar 6,7 kilometer jalan utama, dan berkontribusi pada penurunan sementara partikel polusi pada hari pelaksanaan.
Dampak Car Free Day
Car Free Day memberikan berbagai manfaat dalam kehidupan perkotaan, antara lain:
- Udara yang Lebih Bersih
Ketika kendaraan dihilangkan dari jalan, kualitas udara biasanya langsung membaik dan suasana kota menjadi lebih tenang. Studi menunjukkan bahwa Car Free Day dapat menurunkan polusi PM2.5 sekitar 15% dan mengurangi lalu lintas sekitar 27% secara rata-rata. Di Paris, Prancis, pelaksanaan pertama journée sans voiture mencatat penurunan emisi gas buang hingga 40%, sementara tingkat kebisingan di pusat kota turun sekitar setengahnya. Di Brussel, Belgia, inisiatif serupa mencatat penurunan nitrogen dioksida sebesar 74–80% dibandingkan hari Minggu biasa. - Jalan yang Lebih Aman dan Nyaman bagi Mobilitas Aktif
Dengan berkurangnya kendaraan di jalan, ruang publik menjadi lebih aman untuk berjalan kaki dan bersepeda. Car Free Day sering mendorong lebih banyak orang mencoba mobilitas aktif, karena penutupan jalan sementara menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda. Di Bogotá, program Ciclovía secara signifikan meningkatkan partisipasi bersepeda, terutama di kalangan perempuan yang merasa lebih aman bersepeda di jalan bebas kendaraan. - Menciptakan Ruang Sosial dan Menghidupkan Ekonomi Lokal
Car Free Day juga menunjukkan bagaimana jalan dapat berubah menjadi ruang sosial dan ekonomi yang aktif ketika lalu lintas berkurang. Di London, Inggris, beberapa acara Car Free Day dikaitkan dengan peningkatan penjualan pedagang kaki lima, mencerminkan bagaimana aktivitas pejalan kaki dapat mendukung ekonomi lokal. Di Indonesia sendiri, Car Free Day membuka peluang bagi pedagang lokal dan usaha kecil untuk menjajakan makanan, minuman, perlengkapan olahraga, serta jasa fotografi jalanan yang mengabadikan aktivitas masyarakat. - Perubahan Pola Mobilitas Jangka Panjang
Car Free Day dapat mendorong masyarakat untuk meninjau kembali cara mereka bepergian sehari-hari. Di Jakarta, misalnya, banyak warga memilih menggunakan transportasi umum atau alternatif lain selama acara berlangsung, menunjukkan bagaimana perubahan sementara dapat memengaruhi kebiasaan mobilitas.
Menata Ulang Mobilitas Perkotaan
Car Free Day membantu meningkatkan kesadaran tentang dampak lingkungan dari ketergantungan pada kendaraan pribadi, namun tantangannya jauh melampaui satu hari pelaksanaan. Di banyak kota, sektor transportasi tetap menjadi sumber utama polusi udara dan emisi karbon sepanjang tahun. Untuk meningkatkan dampak Car Free Day, kota-kota perlu menerjemahkan perubahan jangka pendek ini menjadi praktik mobilitas sehari-hari.
Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan sistem transportasi publik, perluasan infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda, serta pengelolaan lalu lintas yang lebih baik untuk mengurangi kemacetan. Penataan ulang penggunaan ruang kota, misalnya dengan mengurangi ketergantungan pada lahan parkir dan memprioritaskan manusia dibanding kendaraan, juga dapat mendukung terciptanya kawasan perkotaan yang lebih inklusif dan sehat. Dengan demikian, Hari Bebas Kendaraan bukan sekadar acara, melainkan titik awal menuju transformasi kota yang berkelanjutan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Memperkuat Regulasi untuk Hapus Diskriminasi dalam Rekrutmen Tenaga Kerja
Merenungkan Dampak Eksplorasi Antariksa
Dugaan Pelanggaran HAM dalam Proyek Panas Bumi di Dieng dan Tandikat-Singgalang
Langkah F1 dalam Memenuhi Komitmen Nol Emisi 2030
Empat Potensi Krisis yang Perlu Diantisipasi selama El Niño Godzilla
Dari Dukungan Mental hingga Hubungan Romantis: Memahami Fenomena Maraknya Penggunaan Pendamping AI