EESG: Pentingnya Narasi Ekonomi Baru untuk Keberlanjutan di Era AI, Krisis Energi, dan Perpecahan Geopolitik
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Meskipun pesan-pesan tradisional tentang perubahan iklim—pemanasan global dan kenaikan permukaan laut—tetap penting, cara menyampaikannya perlu dibingkai ulang agar tetap relevan. Di tengah tiga serangkai geopolitik, energi, dan AI, kita perlu merumuskan ulang ESG menjadi “EESG”, dengan “E” pertama merujuk pada ekonomi (economics).
Seiring kemunduran serius dalam agenda keberlanjutan, terutama oleh pemerintahan presiden Amerika Serikat, perusahaan memanfaatkan momentum ini untuk mengurangi komitmen terkait ESG. Apakah ini berarti ESG telah berakhir? Apakah ESG sedang berada pada titik balik yang tidak memungkinkan kita untuk kembali maju?
Jauh dari mencapai titik akhir, saya berpendapat bahwa ESG hanya membutuhkan narasi baru. Unsur ekonomi, atau tambahan “E” dalam “EESG”, akan melengkapi spesifikasinya. Pada dasarnya, kalibrasi ulang ini dapat menjadi pedoman baru bagi kebijakan dan regulasi.
EESG untuk Mempertahankan Keberlanjutan dalam Bisnis
Komposisi baru ini hadir tepat ketika terdapat perbedaan geopolitik antara Amerika Serikat dan China dalam memandang perubahan iklim. Situasi ini diperparah oleh gangguan pasokan energi di Asia Barat, yang baru-baru ini mendorong harga minyak ke tingkat tertinggi baru. Pada saat yang sama, pesatnya perkembangan AI telah memberikan tekanan besar terhadap konsumsi energi dan air, yang selain meningkatkan jejak karbon global secara signifikan, juga menambah biaya listrik.
Kombinasi antara geopolitik, krisis energi, dan AI memberikan dasar ekonomi bagi tindakan keberlanjutan. Maaf kata, perjuangan melawan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan tidak lagi cukup didorong oleh semangat “memeluk pohon”.
Kini, lebih dari sebelumnya, keberlanjutan perusahaan—akuntabilitas dan tanggung jawab—akan tetap menjadi hal yang penting. Nilai, pendapatan, dan keuntunganlah yang akan mengikat dunia usaha untuk melawan perubahan iklim. Pada akhirnya, kepentingan diri semacam inilah yang membuat keberlanjutan dapat bertahan lebih lama dalam gambaran yang lebih besar.
Dalam pengertian ini, EESG bukanlah upaya untuk menggeser keberlanjutan dari pusat perhatian. EESG adalah pendekatan yang lebih realistis dengan menimbang manfaat dan biaya, yang akan lebih efektif mendorong tindakan.
Faktor Pertama: Perpecahan Geopolitik
Ditandai oleh slogan seperti “drill, baby, drill” yang dipopulerkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidato pelantikannya untuk masa jabatan saat ini, Amerika Serikat akan terus meningkatkan produksi minyak dan gas tanpa henti. Dalam Sidang Majelis Umum PBB tahun lalu, Trump menyebut perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia” dan melabelinya sebagai “scam”. Ia juga telah menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Paris sebanyak dua kali selama dua masa jabatannya sebagai presiden.
Di sisi lain, China mengambil arah yang berlawanan. Mereka menyatakan komitmen kuat untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Presiden China Xi Jinping menyampaikan komitmen China untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, di antara berbagai kebijakan utama lainnya untuk membangun masyarakat yang adaptif terhadap iklim.
Komitmen-komitmen tersebut menandai ambisi China—bersama negara-negara Asia lainnya—untuk menawarkan sumber pertumbuhan baru di industri hijau. Mereka menunjukkan kesiapan dalam manufaktur dan penyediaan material untuk produk seperti kendaraan listrik dan panel surya. Dengan demikian, persamaan ekonomi global kemungkinan akan bergeser menuju model yang lebih peka terhadap iklim.
Faktor Kedua: Krisis Energi
Konflik Amerika Serikat-Iran telah mengganggu aliran minyak dan gas dari negara-negara di Teluk Persia seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, selain dari Iran sendiri. Titik rawannya adalah Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi 25% perdagangan minyak dunia melalui laut dan 20% ekspor gas alam cair (LNG) global. Sekitar 90% di antaranya menuju pasar Asia.
Penguasaan Bab el-Mandeb di ujung Terusan Suez oleh pasukan Houthi dari Yaman yang didukung Iran menutup satu lagi jalur transit energi utama. Jalur Bab el-Mandeb menguasai sekitar 5% perdagangan minyak dunia melalui laut. Situasi ini diperburuk oleh serangan udara terhadap Pipa Timur-Barat Arab Saudi yang dilakukan menggunakan drone dari Irak.
Sesaat sebelum krisis Hormuz, harga minyak mentah berada di kisaran 60 dolar AS per barel. Setelah itu, harganya melonjak hingga di atas 100 dolar AS.
Tingginya biaya minyak dan gas membuat peralihan ke energi terbarukan semakin menarik secara ekonomi. Berdasarkan perbandingan biaya penuh berbagai sumber energi dari International Renewable Energy Agency dan Lazard, energi terbarukan seperti surya, hidro, angin darat, dan panas bumi menjadi semakin layak dibandingkan gas alam, yang saat ini masih menjadi sumber utama pembangkitan listrik kita.
Berikutnya dalam jalur pengembangan adalah alternatif rendah karbon, terutama nuklir dan hidrogen. Keduanya tentu akan mendapatkan dorongan dari tinggi dan berfluktuasinya harga minyak dan gas. Biaya alternatif-alternatif ini pun sudah menurun mendekati biaya bahan bakar fosil berkat skala produksi dan kemajuan teknologi.
Faktor Ketiga: AI
Dengan semakin dominannya AI generatif dan mulai diterapkannya AI agen, kebutuhan energi meningkat secara drastis. Di luar aspek etika dan sosial, AI akan memberikan tekanan yang sangat besar terhadap lingkungan. Persoalannya bukan hanya penggunaan listrik secara langsung untuk komputasi, tetapi juga kebutuhan pendinginan pusat data.
Sebuah prompt AI dapat membutuhkan energi hingga 10 kali lebih banyak untuk diproses dibandingkan pencarian Google biasa. Sementara itu, model AI yang lebih cerdas dengan kemampuan penalaran yang lebih tinggi menghasilkan emisi karbon hingga 50 kali lebih banyak dibandingkan sistem yang lebih sederhana untuk menjawab pertanyaan yang sama.
Beban lingkungan ini secara langsung diterjemahkan menjadi biaya ekonomi dari penggunaan listrik dan air. Secara tidak langsung, beban tersebut juga menjadi biaya ekonomi akibat meningkatnya risiko kesehatan masyarakat yang menyertai keberadaan pusat data.
Perlu Pedoman Baru
Tiga faktor geopolitik, energi, dan AI memberikan landasan ekonomi yang penting bagi upaya yang diperlukan untuk mencapai keberlanjutan.
Bencana yang dipicu perubahan iklim, seperti banjir di perbatasan Nepal-China atau fenomena cuaca kering yang berulang seperti kabut asap regional akibat pembakaran hutan yang dipicu El Niño, akan terus menjadi persoalan penting. Namun, peristiwa-peristiwa tersebut sering terjadi jauh dari pusat kegiatan bisnis sehingga tidak selalu jelas apakah perusahaan harus menanggung biayanya.
Ketika dampaknya langsung mengenai kantong masyarakat—seperti biaya energi—barulah tindakan terkait iklim akan dilakukan. Pedoman keberlanjutan harus bersifat ekonomi, seperti EESG. Tidak ada persuasi moral yang akan seefektif itu.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Lawrence Loh adalah Profesor dan Direktur di Centre for Governance and Sustainability, National University of Singapore Business School. Ia juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Well-Being and EESG Alliance (WEGA). Ia meraih gelar PhD dari Massachusetts Institute of Technology; disertasi doktoralnya mengenai tata kelola teknologi memenangkan penghargaan global tertinggi di bidang sistem informasi.

Menghentikan Maternal Buffering: Keberlanjutan Harus Dimulai dari Isi Piring yang Setara
Seksisme yang Terus Berlanjut terkait Pakaian Olahraga Perempuan
Sejauh Mana Potensi Pengomposan untuk Menyelamatkan Bumi?
Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Kebijakan Lingkungan
Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas