Ketika Perusahaan Asuransi Menarik Diri dari Risiko Iklim
Keadaan pascakebakaran Eaton di Altadena bagian utara, California, AS. | Foto: Wikimedia Commons.
Seiring dengan semakin parahnya perubahan iklim, peristiwa cuaca ekstrem dan bencana alam semakin menjadi kenyataan baru bagi seluruh kehidupan di Bumi. Hidup di bawah ancaman yang terus-menerus dan sulit diprediksi seperti ini bukanlah hal yang mudah ataupun murah. Dalam kondisi demikian, memiliki jaring pengaman merupakan langkah yang bijak. Namun, para pelaku utama, termasuk perusahaan asuransi swasta, justru tampak mulai menarik diri di tengah meningkatnya risiko iklim.
Risiko Iklim dan Asuransi
Dahulu, bencana masih cukup dapat diprediksi sehingga perusahaan asuransi dapat menghitung besaran risikonya. Kondisi tersebut kini telah berubah. Skala, sebaran, dan frekuensinya menghadirkan realitas yang sama sekali baru. Fenomena inilah yang dikenal sebagai risiko iklim (climate risk).
Risiko iklim mengacu pada meningkatnya kemungkinan bahwa kenaikan suhu global akan membuat cuaca ekstrem dan bencana alam—seperti banjir, badai, dan kebakaran hutan—terjadi lebih sering sekaligus lebih merusak. Datanya sangat jelas. Suhu rata-rata global kini telah meningkat sekitar 1,4°C dibandingkan era praindustri, sementara jumlah bencana terkait iklim yang tercatat di seluruh dunia meningkat hampir enam kali lipat sejak dekade 1960-an. Pada 2025 saja, bencana alam diperkirakan menyebabkan kerugian sebesar US$224 miliar secara global, menjadi tahun keempat berturut-turut ketika kerugian yang ditanggung asuransi melampaui US$100 miliar.
Masalahnya bukan sekadar jumlah kejadian yang meningkat. Tingkat ketidakpastian dan besarnya dampak juga membuat risiko iklim semakin sulit diprediksi. Bagi industri asuransi, yang model bisnisnya bergantung pada kemampuan memperkirakan seberapa sering bencana akan terjadi, perubahan pola tersebut merupakan tantangan mendasar.
Seiring meningkatnya kerugian akibat risiko iklim, perusahaan asuransi swasta cenderung menarik diri daripada menanggung biayanya. Akibatnya, kesenjangan perlindungan terhadap bencana alam terus melebar. Selisih antara total kerugian akibat bencana dan nilai kerugian yang benar-benar ditanggung asuransi mencapai rekor US$424 miliar pada 2025.
Mundurnya Industri Asuransi
Fenomena mundurnya perusahaan asuransi terjadi secara global, sama seperti risiko iklim itu sendiri. Namun, bentuknya berbeda-beda di setiap negara.
Di Amerika Serikat, kerugian yang ditanggung perusahaan asuransi mencapai US$112,7 miliar pada 2024, melonjak sekitar 36% dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah perusahaan asuransi besar bahkan berhenti menerbitkan polis baru di California dan Florida. Sejak 2022, tujuh dari dua belas perusahaan asuransi terbesar di California telah menghentikan atau membatasi bisnis baru mereka. Akibatnya, semakin banyak pemilik rumah bergantung pada FAIR Plan, skema perlindungan milik negara yang berfungsi sebagai pilihan terakhir. Skema ini bahkan membutuhkan dana talangan sebesar US$1 miliar setelah kebakaran besar di Los Angeles pada 2025.
Perubahan juga terjadi di balik layar industri asuransi. Perusahaan asuransi sendiri membeli reasuransi, yaitu perlindungan bagi perusahaan asuransi agar tetap mampu membayar klaim ketika terjadi bencana besar. Pada salah satu periode pembaruan kontrak pada 2023, biaya reasuransi di California meningkat hingga 50%. Pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut dibebankan kepada masyarakat melalui premi yang semakin mahal.
Kehilangan Perlindungan yang Belum Pernah Ada
Di negara-negara berkembang, situasinya berbeda. Di banyak wilayah, perusahaan asuransi tidak benar-benar “mundur” karena perlindungan yang memadai memang belum pernah tersedia sejak awal.
Kita lihat Myanmar sebagai contoh. Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar US$11 miliar. Namun, nilai klaim asuransi hanya mencapai sekitar US$200 juta. Kasus ini hanyalah satu dari banyak contoh serupa yang terjadi, mulai dari Manila hingga Maputo. Di wilayah-wilayah tersebut, persoalannya bukan sekadar perusahaan asuransi mengurangi layanan, melainkan pasar asuransi memang belum pernah berkembang secara memadai.
Di kawasan Asia yang sedang berkembang, indeks ketahanan Swiss Re hanya berada pada angka 5%. Artinya, hampir seluruh eksposur ekonomi baru tidak terlindungi oleh asuransi. Amerika Latin serta kawasan EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika) yang sedang berkembang tidak jauh berbeda, dengan tingkat perlindungan hanya sekitar 8–9%. Sebagian besar risiko bencana tetap tidak diasuransikan. Situasi di Afrika bahkan lebih memprihatinkan. Hanya sekitar 0,5% kerugian ekonomi akibat bencana terkait iklim yang ditanggung asuransi, dibandingkan sekitar separuh kerugian di negara-negara berpendapatan tinggi.
Titik-Titik Rapuh yang Terbuka
Ketika perusahaan asuransi swasta mundur, tagihan kerugian tidak serta-merta hilang. Bebannya hanya berpindah tangan. Masyarakat harus membayar premi yang jauh lebih mahal atau beralih ke perusahaan asuransi regional yang lebih kecil dengan kapasitas terbatas, atau bahkan sama sekali tidak memiliki perlindungan sehingga harus menanggung sendiri seluruh kerugian ketika bencana datang.
Pada akhirnya, pemerintah semakin sering menjadi penanggung terakhir. Hal ini dapat terjadi melalui skema asuransi milik negara seperti FAIR Plan di California maupun melalui bantuan darurat pascabencana. Padahal, pendekatan terakhir ini jauh lebih mahal dibandingkan menyediakan perlindungan asuransi sejak awal.
Situasi tersebut memperlihatkan semakin jelasnya celah dalam sistem perlindungan yang semestinya disediakan pemerintah. Ketika perlindungan dari sektor swasta menyusut sementara sistem publik belum siap mengisi kekosongan, rumah tangga yang paling rentan justru menanggung risiko yang tidak dihitung secara memadai, baik oleh pasar maupun oleh negara.
Adaptasi Pembiayaan Risiko Iklim
Tanpa langkah yang cepat dan tegas, risiko iklim hanya akan terus meningkat. Karena itu, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim menjadi sangat penting. Kesiapan finansial merupakan salah satu aspek utama, sekaligus salah satu hambatan terbesar dalam upaya pengurangan risiko bencana dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Menutup kesenjangan ini sebenarnya tidak memerlukan penemuan sistem asuransi yang sepenuhnya baru. Berbagai instrumen telah tersedia dan hanya membutuhkan penerapan yang lebih luas. Salah satunya adalah asuransi parametrik, yang memberikan pembayaran secara otomatis berdasarkan intensitas bencana yang terukur, tanpa harus melalui proses penilaian kerusakan yang panjang. Skema ini sangat relevan diterapkan di wilayah rawan bencana yang memiliki sistem penanganan klaim yang masih terbatas.
Langkah penting lainnya adalah mewajibkan pengungkapan risiko iklim. Dengan keterbukaan informasi tersebut, regulator dapat mengambil tindakan sebelum pasar mengalami kegagalan, bukan setelahnya. Bagaimanapun, ada alasan ekonomi yang kuat untuk berinvestasi pada pencegahan. Berbagai investasi adaptasi—mulai dari pembangunan tanggul banjir hingga penerapan standar bangunan tahan kebakaran—memberikan manfaat ekonomi dengan nilai median sekitar US$1,86 untuk setiap dolar yang diinvestasikan.
Pada akhirnya, tidak ada satu pun solusi yang bebas biaya. Namun, membangun ketahanan bukanlah sesuatu yang mustahil. Biaya berbagai langkah tersebut tetap jauh lebih rendah dibandingkan membiarkan seluruh beban kerugian akhirnya ditanggung oleh mereka yang paling tidak mampu menanggungnya.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Pengurangan Deforestasi dan Pemberantasan Kemiskinan yang Jauh dari Target Kehutanan Global
Sadiman: Lelaki yang Bisa Memanggil Air
Utang kepada Anak-Cucu yang Terus Membesar: Earth Overshoot Day 2026 dan Panggilan bagi Dunia Usaha
Benang Kusut Blue Carbon di Afrika
Melindungi Hak Anak-Anak Migran dengan Kebijakan yang Berpusat pada Anak
Menegaskan Tanggung Jawab Negara dalam Menghadapi Krisis Iklim