Resistensi Antimikroba Bukan Sekadar Persoalan Medis
Foto: Etactics Inc di Unsplash.
Orang yang jatuh sakit hari ini memiliki peluang lebih besar untuk pulih dibandingkan lebih dari seabad lalu. Penemuan dan perkembangan antibiotik berkontribusi besar terhadap keadaan ini. Namun, yang mengkhawatirkan, sebagian antibiotik kini tidak lagi efektif bagi jutaan orang di seluruh dunia. Masalahnya, kebanyakan orang masih memandang resistensi antimikroba sebagai persoalan medis—misalnya akibat terlalu banyak antibiotik yang diresepkan, perilaku individu yang tidak bertanggung jawab, atau buruknya kebersihan rumah sakit. Sayangnya, persoalannya jauh lebih besar dari itu.
Penyebaran Resistensi terhadap Antibiotik
Resistensi terhadap antibiotik atau resistensi antimikroba (antimicrobial resistance atau AMR) merujuk pada kondisi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berevolusi sehingga mampu bertahan terhadap obat yang dirancang untuk mengatasinya. Kondisi ini mengubah infeksi yang sebelumnya dapat ditangani menjadi penyakit yang berpotensi mematikan.
Pada 2019, AMR secara langsung menyebabkan 1,27 juta kematian di seluruh dunia, lebih banyak daripada HIV/AIDS maupun malaria. AMR juga berkontribusi terhadap hampir 5 juta kematian lainnya pada tahun yang sama. Pada 2050, 39 juta kematian diproyeksikan terjadi akibat AMR, setara dengan sekitar tiga kematian setiap menit.
Bukan hanya di rumah sakit, AMR juga bermula di pertanian, sungai, dan saluran pembuangan pabrik. Secara global, hingga 75% antibiotik yang digunakan dalam akuakultur tidak pernah diserap oleh ikan yang menjadi sasaran pengobatan. Antibiotik tersebut justru larut ke dalam perairan di sekitarnya dan menciptakan kondisi yang memungkinkan bakteri resistan berkembang biak. Sementara itu, di sektor peternakan, ada praktik umum yang mendorong resistensi antimikroba di seluruh ekosistem. Alih-alih digunakan untuk mengobati penyakit, antibiotik secara rutin diberikan di peternakan untuk mempercepat pertumbuhan hewan.
Pencemaran yang Berujung Resistensi Antimikroba
Industri manufaktur farmasi semakin memperparah persoalan ini. Sebuah studi global terhadap sungai yang mengukur kontaminasi antibiotik di 258 sungai di 104 negara menemukan bahwa hanya dua lokasi di Bumi yang terbebas dari pencemaran farmasi: Islandia dan sebuah desa masyarakat adat di Venezuela yang tidak memiliki akses terhadap pengobatan modern. Salah satu lokasi di Bangladesh, yang berada di hilir sebuah produsen obat, memiliki konsentrasi antibiotik lebih dari 300 kali lipat di atas ambang batas aman.
Asia Tenggara dan Pasifik Barat merupakan lokasi sejumlah produsen antibiotik terbesar di dunia. Namun, sebagian besar instalasi pengolahan air limbah di kawasan tersebut tidak mampu menyaring residu antibiotik secara menyeluruh. Akibatnya, kawasan-kawasan ini juga telah diidentifikasi sebagai reservoir utama gen resistensi.
Ketika residu antibiotik masuk ke perairan, zat tersebut bercampur dengan gen resistan dan bahan kimia lainnya. Selanjutnya, akan terbentuk tekanan selektif yang memungkinkan patogen resistan berkembang biak, menyebar, dan pada akhirnya mencapai air minum, pangan, serta tubuh manusia.
Seperti yang kerap terjadi, persoalan pencemaran berubah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Lingkaran umpan balik ini telah diidentifikasi UNEP sebagai salah satu pendorong utama krisis AMR global. Namun, dimensi sistemik dan lingkungan dari AMR masih kekurangan pendanaan dan regulasi secara kronis dibandingkan dengan aspek klinisnya.
Siapa yang Menanggung Bebannya?
Seperti kebanyakan krisis lingkungan, dampak AMR tidak terdistribusi secara merata. Analisis Lancet terhadap 204 negara menemukan bahwa tingkat kematian akibat AMR tertinggi terjadi di Afrika sub-Sahara bagian barat, yakni 27,3 kematian per 100.000 penduduk. Asia Selatan, termasuk India, Pakistan, dan Bangladesh, diproyeksikan mengalami 11,8 juta kematian akibat AMR dalam rentang tahun 2025 hingga 2050.
Kawasan-kawasan tersebut merupakan lokasi dengan konsentrasi industri manufaktur farmasi tertinggi. Di kawasan yang sama pula, infrastruktur pengolahan air limbahnya paling lemah dan pencemaran antibiotik di sungainya paling tinggi. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah memproduksi obat-obatan yang dikonsumsi dunia, menanggung biaya lingkungan dari proses produksinya, lalu mengalami tingkat kematian yang lebih tinggi akibat resistensi antimikroba yang dihasilkan.
Mengatasi Resistensi Antimikroba
Pada 2024, para pemimpin dunia mengesahkan deklarasi politik bersejarah tentang AMR dalam Sidang Umum PBB. Mereka berkomitmen agar setidaknya 60% negara memiliki rencana aksi nasional pada 2030. Mereka juga disebut-sebut berkomitmen menyediakan pendanaan katalitik sebesar US$100 juta. Meski merupakan langkah ke arah yang tepat, komitmen tersebut tidak dapat berdiri sendiri.
Seperti disampaikan Direktur Eksekutif UNEP, tantangan AMR tidak dapat dipahami atau dipisahkan dari tiga krisis planet—perubahan iklim, penurunan keanekaragaman hayati, dan polusi—yang semuanya didorong oleh pola produksi yang tidak berkelanjutan. Kita membutuhkan pendekatan One Health yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan.
Konkretnya, pendekatan tersebut berarti membutuhkan standar pembuangan limbah yang wajib dipatuhi oleh industri manufaktur farmasi, menghentikan penggunaan antibiotik untuk mendorong pertumbuhan hewan ternak, serta berinvestasi dalam infrastruktur pengolahan air limbah di negara-negara berpendapatan lebih rendah yang saat ini menanggung biaya lingkungan dan kemanusiaan terbesar dari krisis yang justru paling minim mereka sebabkan.
Pengembangan antibiotik membutuhkan waktu puluhan tahun. Karena itu, mengatasi resistensi antimikroba sejak dini dan secara sistemik merupakan langkah yang diperlukan agar fungsi penting antibiotik tidak hilang hanya dalam hitungan tahun.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Krisis Imajinasi dan Keberlanjutan: Mengapa Masa Depan Perlu Dibayangkan Sebelum Dibangun
Menagih Tanggung Jawab Industri Berbahaya
Bagaimana Satwa Liar Bertahan dari Kebakaran Hutan?
Kurang Tidur Adalah Masalah Iklim dan Ketimpangan
Bagaimana Krisis Biaya Hidup Mendorong Orang Menjauh dari Pilihan Berkelanjutan
Ambideksteritas Jarum dan Benang: Langkah Nyata Keberlanjutan di Tengah Gempuran Industri Fast Fashion