Krisis Imajinasi dan Keberlanjutan: Mengapa Masa Depan Perlu Dibayangkan Sebelum Dibangun
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Suatu kali saya diundang memberi kuliah umum di sebuah perguruan tinggi. Alih-alih membuka sesi dengan data emisi karbon atau proyeksi krisis iklim, saya justru mengajukan pertanyaan sederhana tentang mobil pribadi. Siapa yang kelak ingin memiliki satu mobil? Semua tangan terangkat, cepat dan tanpa ragu, seperti refleks. Saya tanya lagi, siapa yang ingin memiliki dua? Sekitar separuh ruangan mengangkat tangan, sedikit lebih pelan, seolah menimbang gengsi sebelum menimbang kebutuhan. Lalu saya bertanya siapa yang tidak ingin memiliki mobil sama sekali. Kelas menjadi hening. Dan tidak satu tangan pun terangkat.
Saya kemudian menjelaskan sesuatu yang mungkin terdengar berlawanan dengan arus: kepemilikan mobil pribadi, pada dasarnya, adalah pertanda kegagalan, bahwa transportasi publik di kota itu tidak bisa diandalkan sehingga setiap orang terpaksa membeli solusi individual untuk masalah kolektif. Masa depan yang benar-benar baik, saya katakan kepada mereka, bukanlah masa depan ketika setiap keluarga mampu membeli mobil kedua, melainkan masa depan ketika orang kaya sekalipun, yang punya pilihan untuk naik apa saja, memilih naik kereta atau bus umum karena itu memang pilihan yang paling masuk akal, paling nyaman, paling bermartabat. Yang saya minta dari mereka sore itu bukan komitmen atau segera membuat petisi daring, melainkan sesuatu yang jauh lebih sulit sekaligus lebih mendasar: membayangkan masa depan yang menurut mereka baik. Sebab tak ada masa depan yang bisa diwujudkan sebelum lebih dulu dibayangkan.
Pertanyaan tentang mobil itu sebetulnya pertanyaan tentang imajinasi—tentang batas-batas apa yang sanggup dilihat oleh benak kita sebagai hal yang mungkin. Dan belakangan saya menemukan dua buku yang, dari dua arah berlawanan, sampai pada kesimpulan yang sama: bahwa krisis keberlanjutan yang kita hadapi hari ini pada akarnya adalah krisis imajinasi. Yang pertama, buku terbitan tahun 2019, “From What Is to What If: Unleashing the Power of Imagination to Create the Future We Want” karya Rob Hopkins, pendiri gerakan Transition Town di Inggris, mengajak pembacanya melompat langsung ke masa depan yang diinginkan. Yang kedua, buku dari tahun 2024, History for Tomorrow: Inspiration from the Past for the Future of Humanity karya filsuf sosial Roman Krznaric, yang menariknya justru mundur—menyelami masa lalu untuk memperlebar ruang tentang apa yang pernah, dan karenanya bisa, terwujud.
Imajinasi sebagai Kekuatan
Hopkins membuka bukunya dengan sebuah eksperimen yang berani: ia menulis tentang satu pagi imajiner, dua puluh tahun dari sekarang, ketika segala sesuatunya ternyata baik-baik saja. Ia bangun di apartemen berdinding jerami yang hampir tak butuh energi untuk dihangatkan, mengantar anaknya lewat kebun pangan bersama menuju sekolah yang telah menghapus ujian demi ruang bermain, mengayuh sepeda kota melewati halte bus yang dikelilingi tanaman pangan, dan menutup hari dengan rapat warga yang benar-benar menentukan arah lingkungan mereka. Ia sendiri mengakui itu cerita rekaan. Tapi justru itu maksudnya: kita hidup di zaman yang nyaris kehabisan cerita semacam ini, cerita tentang bagaimana rasanya jika keadaan membaik, sementara kita dibanjiri tanpa henti oleh bayangan kiamat.
Hopkins mengutip beberapa suara yang, dari sudut berbeda-beda, sampai pada diagnosis serupa: penulis Amitav Ghosh menyebut perubahan iklim sebagai krisis kebudayaan, dan karenanya krisis imajinasi; kolumnis George Monbiot menulis bahwa kegagalan politik pada intinya adalah kegagalan berimajinasi. Yang mencemaskan Hopkins bukan hanya bahwa kita gagal membayangkan solusi, melainkan bahwa kapasitas kita untuk membayangkan itu sendiri sedang menciut. Salah satu penelitian menunjukkan skor kreativitas anak-anak Amerika menurun tajam sejak akhir 1990-an seiring waktu bermain bebas yang kian terpangkas oleh layar dan ujian yang terstandardisasi.
Namun Hopkins tidak berhenti pada keluhan. Ia menunjukkan, dengan cukup meyakinkan, bahwa imajinasi punya daya ungkit yang bisa diukur dalam laboratorium sekalipun. Ia menceritakan sebuah studi lama dari Harvard: dua kelompok pemula belajar piano, satu kelompok benar-benar berlatih menekan tuts, kelompok lain hanya duduk dan membayangkan gerakan jarinya—dan setelah beberapa hari, perubahan di otak kedua kelompok nyaris setara. Dari sinilah lahir pendekatan yang disebut functional imagery training yang terbukti membantu orang mengubah kebiasaan jangka panjang hanya dengan berlatih membayangkan, secara multiindrawi dan sungguh-sungguh, versi diri mereka di masa depan. Imajinasi, dengan kata lain, bukan pelarian dari kenyataan, melainkan salah satu jalan paling nyata untuk mengubahnya.
Ada satu eksperimen lain yang sejak membaca buku itu selalu ingin saya ceritakan ulang. Psikolog Paul Piff dari University of California mengirim dua kelompok mahasiswa ke luar ruangan: satu kelompok menengadah semenit ke barisan pohon eucalyptus raksasa, kelompok lain menengadah ke sebuah gedung biasa. Begitu keduanya kembali, seorang asisten peneliti secara “tak sengaja” menjatuhkan setumpuk pena. Hasilnya? Mereka yang baru saja menatap pepohonan raksasa itu jauh lebih banyak berhenti untuk membantu memungutnya. Rasa takjub, tulis psikolog Dacher Keltner yang dikutip Hopkins, sejenak melarutkan batas diri dan mengalihkan orientasi kita dari kepentingan sendiri ke kepentingan bersama. Hopkins juga mengenang bagaimana jalanan London pernah dibuat terpana oleh instalasi seni raksasa—seekor gajah mekanik dan seorang gadis setinggi delapan meter yang “turun” dari sebuah roket—dan bagaimana kekaguman kolektif semacam itu, sesaat, membuka ruang bagi orang untuk membayangkan kotanya bisa lain dari biasanya. Ini cara melatih otot imajinasi yang mengalami atrofi karena terlalu jarang dipakai.
Ada satu bab dalam buku Hopkins yang menurut saya paling menyentuh, tentang paduan suara subuh burung-burung di lembah dekat rumahnya di Devon. Ia bangun sebelum fajar, mendengarkan konser burung yang berlapis dan berpola itu, dan pulang dengan kesadaran ganda: betapa kaya pengalaman itu, sekaligus betapa cepat kekayaan serupa sedang lenyap—populasi burung, ikan, reptil, dan mamalia dunia telah menyusut lebih dari separuh sejak 1970. Penulis lingkungan Michael McCarthy, yang dikutip Hopkins, mengingatkan bahwa perumpamaan dan kiasan yang membentuk cara kita berbahasa dan berpikir—kuat seperti pohon ek, rapuh seperti alang-alang—berasal dari alam. Ketika keanekaragaman hayati menipis, bahasa dan imajinasi kita ikut menipis bersamanya. Ini titik yang penting bagi siapa pun yang bekerja di ranah keberlanjutan: kita cenderung membingkai kerusakan alam semata sebagai persoalan teknis—karbon, hektare, spesies—padahal ada kerugian yang lebih senyap, yakni menyempitnya kesanggupan kita sendiri untuk membayangkan dunia yang berlimpah.
Dari Masa Lalu untuk Masa Depan
Lalu, kitab History for Tomorrow karya Krznaric masuk sebagai pelengkap yang pas. Jika Hopkins mengajak melompat ke depan, Krznaric mengajak menoleh ke belakang untuk menemukan bukti bahwa cara hidup yang berbeda memang pernah berhasil—dan karena itu, kata dia, “sindrom garis dasar yang bergeser” yang membuat kita menganggap keadaan sekarang sebagai satu-satunya yang normal sesungguhnya bisa dipatahkan oleh sejarah. Salah satu bab paling relevan bagi pekerjaan keberlanjutan adalah kisahnya tentang Edo—Tokyo di masa pra-industri, di bawah pemerintahan shogun Tokugawa—yang oleh para sejarawan lingkungan disebut sebagai salah satu ekonomi sirkular berskala besar pertama di dunia. Kimono katun dipakai hingga lusuh, lalu dijahit ulang menjadi baju tidur, lalu popok, lalu kain pel, sebelum akhirnya dibakar sebagai bahan bakar. Kotoran manusia dijual sebagai pupuk. Rambut dikumpulkan untuk pembuat wig. Dan ketika hutan-hutan Jepang nyaris habis ditebang pada pertengahan abad ketujuh belas, para shogun memberlakukan pembatasan tebang yang ketat sekaligus program penanaman pohon besar-besaran yang melibatkan warga desa selama lebih dari satu abad, hingga kepulauan itu kembali menghijau.
Krznaric tidak berhenti pada nostalgia terhadap Edo. Ia menautkannya dengan kebijakan masa kini: Belanda menargetkan ekonominya sepenuhnya sirkular pada 2050, Prancis mewajibkan produsen elektronik mencantumkan skor repairability pada kemasan produk, dan Uni Eropa memberlakukan hak untuk memperbaiki yang memaksa barang elektronik tetap bisa direparasi hingga sepuluh tahun. Ia bahkan menyentuh topik yang selama ini dianggap tabu dalam kebijakan iklim: penjatahan, yang terbukti memangkas konsumsi rumah tangga Inggris hampir separuhnya semasa Perang Dunia Kedua, dan kini dikaji ulang sejumlah ekonom sebagai bentuk “tunjangan karbon pribadi” yang adil. Gagasan itu terdengar radikal justru karena kita jarang diberi kesempatan untuk membayangkannya sebagai sesuatu yang wajar.
Kisah Edo menjadi relevan bukan sekadar lantaran kehematannya, melainkan juga bahwa ia menunjukkan perbedaan mendasar antara sekadar mempertahankan keadaan seperti apa adanya dengan tindakan memulihkan, menumbuhkan kembali, meninggalkan dunia dalam keadaan lebih baik daripada saat ditemukan. Bagi siapa pun yang bergelut dengan ESG, CSR, atau investasi sosial hari ini, pembedaan itu terasa aktual. Banyak perusahaan masih berhenti pada logika mengurangi kerusakan padahal arah yang mulai dituntut publik dan investor global sekarang adalah model bisnis yang benar-benar memulihkan ekosistem dan komunitas tempatnya beroperasi. Untuk sampai ke sana dibutuhkan kesanggupan membayangkan bentuk usaha yang berbeda dengan yang banyak dilakukan sekarang.
Krznaric menutup bukunya dengan gagasan tentang harapan radikal, yang ia bedakan dari optimisme yang naif karena ia tidak menjanjikan bahwa segalanya akan baik-baik saja, melainkan mengajak kita tetap bertindak sesuai nilai yang kita yakini sekalipun peluangnya tipis. Menariknya, gagasan bahwa imajinasi tentang masa depan adalah kompetensi yang bisa dan harus dilatih kini bukan lagi milik segelintir penulis. UNESCO, lewat kerangka yang disebut futures literacy, telah menjadikan 2 Desember sebagai Hari Masa Depan Dunia, dan menegaskan bahwa kemampuan membayangkan lebih dari satu masa depan yang mungkin adalah keterampilan dasar abad ini, yang setara pentingnya dengan literasi baca-tulis. Riel Miller, arsitek kerangka, menyebut bahwa kita tengah mengalami semacam “kemiskinan imajinasi” kolektif, sesuatu yang menurutnya harus segera diperbaiki jika dunia ingin menavigasi ketidakpastian iklim, teknologi, dan demografi.
*****
Saya kerap bertanya-tanya apakah imajinasi tentang transportasi publik yang layak itu, pelan-pelan, sedang mulai terwujud di negeri kita sendiri. Data teranyar menunjukkan jumlah penumpang MRT, LRT, dan Transjakarta di Jakarta terus tumbuh dua digit dari tahun ke tahun sepanjang 2025, meski jumlah kendaraan pribadi yang terdaftar di ibu kota masih di atas dua puluh empat juta unit. Angka itu memang jauh dari mimpi yang saya lontarkan ke para mahasiswa hari itu, tapi ia membuktikan satu hal yang justru ditegaskan Hopkins dalam buku terbarunya yang terbit tahun lalu, How to Fall in Love with the Future A Time Traveller’s Guide to Changing the World: bahwa segala sesuatu di sekeliling kita, dari rel kereta hingga aturan hukum, dahulu hanyalah bayangan seseorang sebelum akhirnya menjadi kenyataan—dan karena itu selalu bisa dibayangkan ulang, lalu diubah lagi.
Lalu ingatan saya kembali pada ruang kuliah itu, pada tangan-tangan yang terangkat untuk mobil pertama dan mobil kedua, dan hening panjang ketika saya bertanya siapa yang rela tidak memiliki mobil sama sekali. Keheningan itu bukan tanda ketidakpedulian, melainkan tanda bahwa imajinasi mereka, seperti imajinasi kebanyakan dari kita, belum pernah diberi ruang untuk menjangkau kemungkinan itu. Pekerjaan keberlanjutan dan regenerasi, saya kian yakin, pertama-tama bukanlah pekerjaan teknik atau kepatuhan terhadap regulasi, melainkan pekerjaan imajinasi—melatih diri dan orang-orang di sekitar kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke pelajaran masa lalu seperti yang diajarkan Krznaric, lalu melompat ke masa depan seperti diajak Hopkins, dan mulai bertanya, dengan sungguh-sungguh: bagaimana jika keadaan ternyata bisa jauh lebih baik daripada yang kita saksikan hari ini?
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Menagih Tanggung Jawab Industri Berbahaya
Bagaimana Satwa Liar Bertahan dari Kebakaran Hutan?
Kurang Tidur Adalah Masalah Iklim dan Ketimpangan
Bagaimana Krisis Biaya Hidup Mendorong Orang Menjauh dari Pilihan Berkelanjutan
Ambideksteritas Jarum dan Benang: Langkah Nyata Keberlanjutan di Tengah Gempuran Industri Fast Fashion
Risiko Penumpukan Limbah Panel Surya di Tengah Transisi Energi, Bagaimana Mengatasinya?