Seratus Tahun Sir David Attenborough: Suara yang Mengajak Dunia Merayakan dan Memelihara Alam
Foto: Department of Foreign Affairs and Trade website – www.dfat.gov.au.
Pada tahun 1978, di hutan pegunungan Rwanda, seorang pria berusia lima puluh dua tahun duduk bersila di tanah yang berlumut. Dua ekor gorila gunung muda mendekatinya. Bukan lantaran diperintah, bukan karena dipancing makanan, melainkan karena didorong oleh rasa ingin tahu yang murni. Mereka memanjat bahunya, mengacak-acak rambutnya, memperlakukannya seperti pohon tua yang nyaman. Pria itu diam tidak bergerak. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia berbisik kepada kamera dengan suara yang menyimpan kekaguman yang meluap: “There is more meaning in that one encounter than we can ever fully express.”
Adegan itu tak pernah direncanakan. Tak ada skrip yang memuatnya. Dan justru itulah mengapa ia tetap hidup dalam ingatan jutaan orang hingga hampir lima dekade kemudian. Ini adalah momen ketika sains, batin manusia, dan berkah alam bertemu tanpa saling menghalangi. Entah tahun berapa persisnya saya menonton adegan tersebut. Yang jelas, itu adalah salah satu adegan yang mendorong saya untuk terus mengembara di alam raya, mengagumi betapa megah dan rapuhnya Bumi yang kita tinggali ini.
Hari ini, 8 Mei 2026, Sir David Frederick Attenborough berusia seratus tahun, dengan lebih dari tujuh dekade di antaranya berkarya dalam penyiaran dan penceritaan sejarah alam. Di Inggris dan seluruh dunia, pekan ini ditandai dengan serangkaian siaran khusus di BBC, konser langsung di Royal Albert Hall, acara di museum-museum, serta penanaman pohon. Namun perayaan ini terasa berbeda dari ulang tahun selebriti biasa. Ini bukan sekadar penghormatan untuk seorang penyiar yang hidup panjang dan menarasi gambar-gambar indah. Ini adalah pengakuan kolektif bahwa ada seorang manusia yang membantu jutaan orang memahami bahwa alam; bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia, melainkan sebuah sistem hidup yang menopang segalanya.
Dari Alam ke Kantor Eksekutif untuk Kembali ke Alam

Attenborough menghabiskan masa kecilnya mengumpulkan fosil, serangga, dan kuda laut kering. Ia besar di lingkungan University College Leicester, di mana ayahnya menjabat sebagai rektor, kemudian melanjutkan studi geologi dan zoologi di Clare College, Cambridge, sebelum bergabung dengan BBC pada 1952. Dua tahun kemudian ia diterima sebagai trainee producer, dan pada tahun itu ia langsung mengembara ke Sierra Leone untuk serial Zoo Quest. Dari situ ia membawa pulang rekaman burung White-necked Picathartes yang langka, dalam perjalanan yang menandai awal karier di depan kameranya yang luar biasa. Formula Attenborough sudah hadir sejak hari pertama: pergi, amati dengan saksama, jelaskan dengan jernih, dan undang penonton ke dalam rasa takjub, bukan menceramahi mereka hingga mengantuk. Ia tidak pernah meremehkan penonton. Ia mempercayai penonton untuk naik ke level yang setara. Kepercayaan itu kelak menjadi fondasi seluruh karya besarnya.
Indonesia hadir sangat awal dalam kisah hidup Attenborough, yang terus ia bawa hingga sekarang. Pada 1956, Attenborough berlayar ke Indonesia dalam ekspedisi Zoo Quest for a Dragon, dengan satu tujuan: merekam komodo di habitat aslinya. Serial itu menghasilkan rekaman televisi pertama di dunia atas komodo di alam liar, sebuah pencapaian yang bahkan oleh standar hari ini pun tetap mengundang decak kagum. Namun Indonesia memberinya lebih dari sekadar kadal purba. Di hutan-hutan Kalimantan dalam perjalanan yang sama, ia untuk pertama kalinya bertatap muka dengan orangutan, primata merah yang akan menjadi salah satu subjek paling berulang dan paling dicintai sepanjang kariernya. Waktu itu, hutan Kalimantan masih hampir tak tersentuh: kanopi hijau yang menghampar tanpa batas, penuh suara, penuh kehidupan. Attenborough muda menyerap semuanya dengan mata terbuka, tanpa tahu bahwa ia sedang menyimpan ingatan tentang sebuah dunia yang akan berubah selamanya.

Pada 1960-an, Attenborough mengambil jalan yang tak terduga: ia menanggalkan kamera dan naik ke kursi eksekutif. Ia menjabat sebagai Controller BBC Two, dan di bawah kepemimpinannya ia memperkenalkan siaran berwarna ke Inggris, mengalahkan Jerman sebagai negara pertama di Eropa yang menyiarkan program berwarna. Ia juga yang memesan Monty Python’s Flying Circus. Namun pada 1973, ia mundur dari jabatan itu lantaran kerinduannya pada aktivitas mendokumentasikan alam. Yang lahir dari keputusan itu adalah Life on Earth (1979). Attenborough menulis seluruh naskah 13 jam tersebut dan berkeliling dunia selama tiga tahun untuk mengisahkan perjalanan evolusi dari organisme sederhana hingga manusia. Serial ini bukan sekadar tontonan—ia adalah pendidikan lingkungan dalam bentuk visual yang dimaksudkan untuk bisa diakses siapa saja. Kalau pada awal 1950-an ketika Attenborough bergabung dengan BBC acara sejarah alam di televisi masih dipandang sebagai genre spesialis untuk para naturalis amatir, tiga dekade kemudian ia mengubahnya menjadi salah satu genre televisi paling popular dan saluran komunikasi sains yang paling kuat.
Gelombang demi gelombang karya raksasa kemudian mengikuti: The Living Planet, The Trials of Life, The Blue Planet, Planet Earth, Frozen Planet, Dynasties, Wild Isles. Ia adalah satu-satunya orang yang memenangkan penghargaan British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) di era televisi hitam-putih, berwarna, HD, 3D, dan 4K. Setiap produksi mendorong batas teknologi lebih jauh, dengan kamera inframerah, peralatan penyelam laut dalam, drone miniatur yang mampu mengikuti elang selama terbang. Tetapi teknologi hanyalah alat. Yang ditunggu-tunggu para pemirsa adalah suaranya yang tenang, kaya, tak pernah menghakimi, selalu menyimpan rasa ingin tahu seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat kunang-kunang. Seekor cendrawasih di New Guinea, seekor beruang kutub di Arktik, seekor paus di laut dalam, seekor katak di hutan hujan, di bawah narasi Attenborough, masing-masing menjadi bagian dari alam semesta terpenting dan paling mengagumkan bagi para penonton.
Menggerakkan Perubahan
Namun agaknya kita perlu berhenti sejenak di sini, karena ada bahaya dalam sekadar merayakan keindahan. Dan Attenborough memahami hal ini lebih dari siapapun. Semakin ia tua, semakin ia saksikan planet yang ia cintai mengalami kehancuran yang sistematis. Seiring perubahan iklim yang semakin cepat, Attenborough mendedikasikan sebagian besar usianya yang ke-90-an untuk meningkatkan kesadaran publik. Blue Planet II (2017) menampilkan albatros yang tanpa sadar memberi makan anaknya serpihan plastik dari lautan. Adegan itu mengguncang opini publik, mendorong pemerintah Inggris dan berbagai peritel besar untuk mengumumkan langkah-langkah pengurangan plastik. Ini bukan hanya acara televisi yang bagus, melainkan kebijakan publik yang digerakkan oleh bukti dari lapangan.
Pada COP26 di Glasgow, Attenborough yang berusia 95 tahun menyampaikan pidato berapi-api kepada para pemimpin dunia, menyatakan bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menyelamatkan planet ini jika mereka mau bekerja sama. Dokumen A Life on Our Planet (2020) di Netflix adalah kesaksian pribadinya, pengakuan seorang lelaki yang telah menyaksikan langsung bagaimana dunia berubah dalam hampir satu abad, dan yang memilih untuk menggunakannya bukan sebagai elegi, melainkan sebagai peringatan yang mendesak.
Dalam film dokumenter tersebut, Attenborough di antaranya menuturkan bagaimana ia kembali mencari orangutan di Kalimantan, hanya untuk mendapati bahwa deforestasi Kalimantan telah mengurangi populasi orangutan hingga dua pertiga sejak pertama kali ia melihatnya. Di layar, seekor orangutan tampak menjelajahi sisa-sisa batang pohon yang gundul, mencari pegangan yang tak lagi ada. Sementara, di sekelilingnya perkebunan kelapa sawit berderet rapi menggantikan hutan yang dulu menjadi rumahnya. Jutaan penonton di seluruh dunia menangis. Di Indonesia, adegan itu seharusnya terasa seperti tamparan karena negara ini bukan sekadar latar belakang dokumenter Attenborough. Indonesia adalah penjaga sepertiga hutan tropis tersisa di Bumi, rumah bagi spesies-spesies yang tak ditemukan di mana pun di planet ini. Apa yang terjadi pada hutan-hutan Indonesia bukan hanya urusan lokal: ia adalah ukuran seberapa serius kita mewarisi, atau mengkhianati, tanggung jawab yang dipercayakan alam kepada kita.
Dan tahun lalu, pada usia 99, ia merilis Ocean with David Attenborough, sebuah film panjang yang menyerukan perlindungan lautan dunia dengan pesan luar biasa kuat: “If we save the sea, we save our world.” Film ini oleh banyak kritikus disebut sebagai mahakarya mutakhirnya, sebuah pernyataan cinta sekaligus ultimatum kepada peradaban. Ketika menontonnya, saya tak bisa memutuskan mana yang lebih kuat dari film itu, cinta atau ultimatum. Mungkin Attenborough adalah orang langka yang bisa membuat pesan seperti itu benar-benar berimbang.
Menerima Warisan, Mendengarkan Pesan
Warisan Attenborough jelas melampaui layar. Lebih dari empat puluh spesies baru dinamai atas namanya, di antaranya tumbuhan karnivora raksasa Nepenthes attenboroughii dan burung penyanyi kecil dari Brasil, Polioptila attenboroughi. Ada kapal peneliti Inggris yang membawa namanya mengarungi laut-laut beku. Para ilmuwan di seluruh dunia mengakui bahwa minat mereka pada alam bermula dari sebuah adegan yang mereka tonton di layar televisi keluarga, entah itu seekor belut listrik, kawanan flamingo merah muda, atau gorila yang tersenyum ke kamera. Sangat mungkin setiap orang, bukan hanya para ilmuwan itu, yang pernah melihat karya Attenborough sedikit banyak telah terinspirasi untuk peduli pada alam.
Hari ini, ketika kita berada pada ulang tahunnya yang keseratus, ada godaan untuk menjadikan semua ini sebagai nostalgia, untuk merayakan masa lalu ketika dunia tampak lebih utuh di layar. Tetapi Attenborough sendiri tak pernah membiarkan dirinya tergelincir ke sana. Ia adalah seorang optimis yang disiplin: seseorang yang tahu persis betapa parahnya kerusakan yang ada, namun memilih untuk memperlihatkan juga bahwa pemulihan itu mungkin. Bahwa populasi ikan di kawasan laut yang dilindungi bisa pulih hanya dalam kurun waktu lima tahun. Bahwa hutan yang ditebang bisa tumbuh kembali ketika alam mengambil alih apalagi dengan bantuan manusia yang paham. Bahwa seekor paus biru, yang hampir punah akibat perburuan industri, kini kembali melintasi samudra-samudra di selatan.
Hidupnya adalah jembatan sepanjang satu abad antara rasa ingin tahu dan pemikiran kritis. Ia lahir ketika siaran televisi belum ada, dan kini mencapai usia seratus tahun di era streaming, Kecerdasan Buatan, dan kecemasan ekologis merata di tingkat global. Tak ada orang lain yang hidup yang telah menyaksikan, mendokumentasikan, dan mengomunikasikan perjalanan planet ini dengan kedalaman dan keluasan seperti yang ia tunjukkan. Dan inilah, bagi saya, yang membuat perayaan ulang tahun satu abad Attenborough bukan sekadar kenangan, melainkan dan terutama adalah sebuah tantangan. Setiap anak yang terpesona oleh Planet Earth II, setiap mahasiswa biologi yang memutuskan terjun ke lapangan, setiap jurnalis yang memilih meliput krisis keanekaragaman hayati daripada skandal selebritas, setiap pembuat film muda yang mengarahkan kameranya ke alam liar di sekitarnya, para eksekutif perusahaan yang memutuskan model bisnis yang baik untuk alam, dan para politisi serta birokrat yang mendorong kebijakan pro-keberlanjutan adalah para penjawab tantangan itu. Mereka semua adalah kelanjutan dari percakapan yang ia mulai di hutan Sierra Leone tujuh dekade silam.
Warisan terbesar Attenborough bagi kita semua bukan hanya memori tentang spesies dan pemandangan luar biasa indah yang terekam dalam film-filmnya, tetapi adalah kesadaran untuk memastikan bahwa apa yang kita saksikan di layar itu tetap ada di dunia nyata untuk generasi muda dan mendatang. Tugas itu tidak pernah berakhir. Ia baru saja dimulai, dengan skala dan urgensi yang bahkan Attenborough muda pun belum bisa bayangkan ketika ia pertama kali menatap mata seekor gorila dan merasa, untuk sesaat, bahwa batas antara manusia dan alam lenyap sepenuhnya.
Selamat ulang tahun, Sir David. Terima kasih banyak atas semua yang Anda lakukan. Kami mendengar dengan jelas pesan Anda. Dan kami berjanji untuk terus bersuara dan bertindak.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Mengatasi Tantangan dalam Pergeseran menuju Ketahanan Rantai Pasok
Ketimpangan Representasi dalam Seni dan Industri Kreatif
Sejauh Mana Efektivitas Jalur Penyeberangan Satwa Liar?
Mengatasi Tantangan dalam Menghadirkan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berbasis Komunitas
Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan
Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah