Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan
Foto: André Ulysses De Salis di Pexels.
Rata-rata manusia hari ini hidup lebih lama dari manusia pada masa-masa dahulu, tetapi semakin banyak yang menua dalam kesepian—sebuah fenomena yang dikenal sebagai kesepian lansia. Urbanisasi menarik generasi muda menjauh dari kampung halaman, dan pada saat yang sama angka kelahiran terus menurun. Rumah tangga multigenerasi yang dahulu menjadi penopang utama perawatan lansia di berbagai budaya pun perlahan menghilang. Yang tersisa adalah penuaan populasi yang tak pernah sepenuhnya diantisipasi oleh sistem perawatan formal.
Kesepian Lansia
Pada 2030, sekitar satu dari enam orang di dunia akan berusia di atas 60 tahun. Pada 2050, jumlah lansia global diperkirakan meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari dua miliar orang, dengan 80% di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pada saat yang sama, ukuran rumah tangga terus menyusut. Di China, misalnya, sekitar 150 juta lansia kini tergolong sebagai empty nesters—yakni mereka yang anak-anaknya telah meninggalkan rumah, sering kali untuk bekerja di kota-kota besar yang jauh. Kondisi ini diperkirakan akan mencakup hingga 90% rumah tangga lansia pada 2030.
Perawatan Berbasis Keluarga
Di banyak wilayah Asia dan Afrika, harapan bahwa keluarga, terutama anak, akan merawat orang tua mereka di masa tua tertanam kuat dalam identitas budaya. Dalam tradisi Konfusianisme, hal ini dikenal sebagai filial piety. Di berbagai komunitas Afrika, bentuknya beragam, tetapi maknanya serupa. Selama beberapa generasi, nilai-nilai ini terus bertahan.
Namun, penelitian yang membandingkan Indonesia, Malaysia, dan Singapura menunjukkan bahwa apa yang dulu dianggap sebagai kewajiban moral kini semakin berbenturan dengan realitas urbanisasi, tekanan ekonomi, dan ukuran keluarga yang semakin kecil. Di pedesaan China dan Korea Selatan, ketika generasi muda bermigrasi ke kota untuk bekerja, orang tua yang tertinggal tidak hanya menghadapi isolasi fisik, tetapi juga keterasingan sosial dan emosional yang jarang mampu dijawab oleh sistem formal.
Para peneliti menyimpulkan bahwa pengabaian lansia bukan semata kegagalan moral. Persoalannya bersifat struktural, lahir dari jarak yang semakin lebar antara apa yang ingin dilakukan keluarga dan apa yang benar-benar mampu mereka lakukan.
Beban Perawatan berbasis Gender
Ketika keluarga masih menyediakan perawatan, beban tersebut hampir tidak pernah terbagi secara setara. Survei kebijakan kesehatan internasional oleh Commonwealth Fund menunjukkan bahwa 81% perawat lansia di dunia adalah perempuan. Di Amerika Serikat saja, lebih dari 60% dari 53 juta perawat keluarga adalah perempuan.
Penelitian di negara berpenghasilan rendah dan menengah menunjukkan bahwa beban kesehatan dari perawatan informal paling berat ditanggung perempuan. Mereka melaporkan tingkat kecemasan, depresi, dan kerentanan ekonomi jangka panjang yang lebih tinggi. Bagi perempuan lansia sendiri, situasinya tidak lebih adil: mereka lebih mungkin hidup lebih lama dari pasangan, menjalani masa tua sendirian, dan menghadapi hambatan lebih besar dalam akses terhadap layanan kesehatan, pendapatan, serta dukungan sosial dibandingkan laki-laki.
Dampak dari situasi ini meluas melampaui individu. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan bahwa tanggung jawab perawatan tanpa upah membuat 708 juta perempuan tidak dapat berpartisipasi dalam pasar kerja formal. Jika dihitung sebagai output ekonomi, kerja perawatan tanpa upah ini bisa melampaui 40% PDB di beberapa negara, namun tetap tidak terlihat dalam perhitungan ekonomi nasional, kebijakan publik, maupun percakapan sehari-hari.
Sistem Perawatan bagi Lansia
Fenomena kesepian lansia bukan sekadar catatan demografis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan perombakan mendesak terhadap sistem perawatan global, mengingat sekitar dua dari tiga orang yang mencapai usia lanjut pada akhirnya akan membutuhkan dukungan berkelanjutan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, saat ini hanya satu dari empat negara yang memiliki sumber daya finansial dan politik untuk menyediakan sistem perawatan terpadu yang memadai.
Di negara-negara berpenghasilan tinggi, panti jompo, hunian lansia berbantuan, dan layanan perawatan di rumah yang didanai publik memang tersedia, namun tetap berada di bawah tekanan. Laporan OECD tahun 2024 menunjukkan bahwa biaya perawatan yang harus ditanggung sendiri oleh lansia rata-rata mencapai 70% dari pendapatan median mereka. Bahkan, sistem publik masih meninggalkan hampir setengah lansia dengan kebutuhan perawatan dalam risiko kemiskinan.
Di banyak wilayah Afrika, kondisinya lebih berat. Tinjauan sistematis terhadap perawatan jangka panjang di negara berkembang menunjukkan bahwa layanan institusional masih sangat terbatas dan kekurangan sumber daya. Di beberapa negara, jumlah tenaga perawatan formal diperkirakan hanya 0,4 per 100 lansia, jauh di bawah standar minimum, yakni 4,2.
Mahal di tempat yang tersedia, dan nyaris tidak ada di tempat yang membutuhkan—perawatan lansia menjadi salah satu sumber daya yang paling tidak merata distribusinya di dunia.
Penuaan Populasi sebagai Tanggung Jawab Bersama
Akan keliru jika persoalan ini hanya dilihat sebagai kegagalan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa postur keluarga yang menyusut, ditambah sistem perawatan yang masih berasumsi bahwa keluarga selalu tersedia, membuat lansia berada dalam posisi rentan secara struktural. Kesepian lansia kini menjadi fenomena lintas budaya, tingkat pendapatan, dan wilayah geografis.
Beberapa negara mulai merespons. Model komunitas inovatif, seperti desa ramah demensia di Belanda atau skema hunian lintas generasi di beberapa wilayah Asia, menunjukkan bahwa perawatan tidak harus berarti membebani keluarga atau melembagakan lansia. Namun, contoh-contoh ini masih terbatas.
Untuk mewujudkan perubahan yang menyeluruh, pemerintah di seluruh dunia perlu mulai memandang perawatan lansia sebagai barang publik (public goods) alih-alih semata tanggung jawab keluarga.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah
Krisis Agensi Reproduksi dan Beratnya Ongkos Membangun Keluarga Hari Ini
Mengukur Keberlanjutan Perbankan dengan Lebih Baik
Mengintegrasikan Desain Adat dan Rekayasa Modern untuk Pengolahan Air Berkelanjutan
Mewujudkan Transisi Energi yang Berkeadilan dengan Pendekatan Interseksional
Pembiayaan yang Meregenerasi Bumi