Mengatasi Tantangan dalam Menghadirkan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berbasis Komunitas
Foto: Kabiur Rahman Riyad di Unsplash.
Lebih dari separuh populasi dunia hari ini tinggal di kota. Pada 2050, diperkirakan 2,5 miliar orang tambahan akan menjadi penghuni perkotaan. Di tengah meningkatnya suhu, frekuensi banjir yang lebih sering, polusi, serta kebutuhan akan ruang sosial, urgensi untuk menghadirkan ruang terbuka hijau yang inklusif dan mudah diakses menjadi tak terbantahkan. Namun, fungsi utama ruang-ruang ini bisa berbeda-beda antar komunitas, dan oleh karena itu perencanaan yang bersifat satu arah dan top-down berisiko gagal. Salah satu solusi potensial adalah ruang terbuka hijau perkotaan berbasis komunitas.
Ketimpangan Akses terhadap Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau perkotaan (RTH perkotaan) adalah area terbuka—umumnya taman—yang menghadirkan unsur-unsur alam di tengah hiruk pikuk kota. Area ini dipenuhi vegetasi seperti pepohonan dan bunga, atau elemen alami lain seperti danau dan sungai. Singkatnya, RTH adalah oase alam di tengah lingkungan perkotaan yang dipenuhi beton dan baja.
RTH sangatlah penting, baik dari sisi fungsi ekologis maupun dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental. Namun, akses terhadap RTH belum merata. Di banyak tempat, taman kota sering kali terkonsentrasi di kawasan “elite”, membuat kelompok berpendapatan rendah dan komunitas marginal kerap tidak dapat menikmati manfaatnya.
Ruang Terbuka Hijau Berbasis Komunitas
Karakter dan fungsi ruang terbuka hijau di wilayah berpendapatan rendah cenderung berbeda. Di banyak wilayah, RTH sering kali menjadi tempat pemenuhan kebutuhan dasar, entah itu sebagai kebun yang menyediakan pangan bagi warga atau lain sebagainya. Taman kota dengan sumber air juga bisa menjadi akses air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Selain itu, RTH juga dapat menjadi tempat bermain yang aman dan gratis bagi anak-anak.
Dengan konteks dan kebutuhan yang beragam, pendekatan perencanaan yang seragam jelas tidak cocok. Di sinilah pendekatan partisipatif atau berbasis komunitas menjadi relevan.
Menurut Roy dkk., perencanaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau perkotaan berbasis komunitas membuka peluang bagi pendekatan perencanaan kota yang lebih berpihak pada kelompok rentan, dengan mempertimbangkan aspek yang melampaui sekadar lanskap dan konstruksi.
Namun, implementasinya tidaklah mudah. Pendekatan ini membawa tantangan kompleks yang membutuhkan solusi yang cermat dan kontekstual.
Kesenjangan Pengetahuan dan Kesepahaman
Salah satu tantangan utamanya adalah kesenjangan pengetahuan. Sebagian warga kota mungkin belum sepenuhnya memahami pentingnya ruang terbuka hijau. Akibatnya, resistensi dan konflik penggunaan lahan bisa saja muncul. Tidak mengherankan jika sebagian warga merasa sulit menerima pembangunan infrastruktur baru di sekitar tempat tinggal mereka.
Membangun kesepahaman juga tidak mudah, karena menuntut pemerintah dan pihak swasta untuk benar-benar memahami kebutuhan komunitas. Hal ini memerlukan dialog sosial dengan berbagai kelompok dalam masyarakat. Sering kali, proses ini harus dilakukan berulang kali dengan pendekatan yang berbeda untuk menangkap kompleksitas kebutuhan, yang tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendapatan.
Secara keseluruhan, proses ini membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit, mulai dari anggaran, waktu, dan energi untuk benar-benar menjangkau seluruh komunitas.
Akuntabilitas dan Tanggung Jawab
Pemerintah kota bertanggung jawab atas layanan publik, sementara pengelolaan sampah bisa melibatkan sektor publik, swasta, dan informal. Pemangku kepentingan lain mungkin terlibat dalam penyediaan vegetasi, air, dan sanitasi, ditambah lagi keterlibatan masyarakat itu sendiri.
Jalinan aktor yang kompleks ini berpotensi menimbulkan kebingungan terkait akuntabilitas dan tanggung jawab. Kolaborasi memang penting, tetapi tanpa kerangka kerja yang jelas, proyek berisiko tidak berkelanjutan.
Karena itu, diperlukan fondasi yang jelas untuk pengelolaan, akuntabilitas, dan pemantauan. Kerangka ini harus fleksibel dan dapat disesuaikan dengan konteks lokal. Yang tak kalah penting, warga perlu dilibatkan secara aktif dalam penyusunannya agar tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Mengatasi Akar Masalah
Proyek RTH berbasis komunitas tidak berhenti pada tahap perencanaan. Agar bertahan dalam jangka panjang, ruang-ruang ini membutuhkan pengelolaan dan pemantauan yang konsisten.
Salah satu masalah paling umum adalah pengabaian. Kurangnya perawatan dapat menyebabkan degradasi lingkungan, mulai dari penumpukan sampah, pencemaran air, hingga kegagalan kebun urban. Di permukaan, hal ini tampak sebagai masalah perilaku warga: membuang atau membakar sampah sembarangan, membuang limbah ke sungai, atau menggunakan pestisida berbahaya.
Namun, akar masalahnya sering kali bersifat sistemik. Misalnya, praktik pembuangan sampah sembarangan bisa disebabkan oleh ketiadaan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai. Pembuangan limbah ke badan air dapat menjadi konsekuensi dari buruknya fasilitas sanitasi. Sementara itu, minimnya perawatan taman bisa berkaitan dengan kemiskinan waktu, kondisi di mana warga tidak memiliki cukup waktu dan energi di luar pekerjaan untuk merawat lingkungan.
Masalah-masalah ini saling terkait dan berakar pada struktur yang kompleks. Karena itu, penanganannya pun harus bersifat menyeluruh. Pada akhirnya, keberadaan ruang terbuka hijau perkotaan berbasis komunitas adalah cerminan kecil dari masyarakat. Mewujudkannya memang tidaklah mudah, tetapi bukan berarti mustahil.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan
Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah
Krisis Agensi Reproduksi dan Beratnya Ongkos Membangun Keluarga Hari Ini
Mengukur Keberlanjutan Perbankan dengan Lebih Baik
Mengintegrasikan Desain Adat dan Rekayasa Modern untuk Pengolahan Air Berkelanjutan
Mewujudkan Transisi Energi yang Berkeadilan dengan Pendekatan Interseksional