Menyusutnya Rak-Rak Es Antarktika di Tengah Krisis Iklim
Foto: Matt Palmer di Unsplash.
Antarktika adalah benua yang tertutup oleh hamparan es, menjadikannya daratan paling dingin dan paling kering di Bumi. Namun, pemanasan global yang terus meningkat telah mengganggu kestabilan rak-rak es Antarktika.
Pentingnya Rak Es Antarktika
Rak es adalah perpanjangan besar lapisan es benua yang mengapung dan menjorok ke perairan pesisir yang sangat dingin. Ketebalannya umumnya berkisar antara 50 hingga 600 meter, dan struktur kokoh ini dapat bertahan selama ribuan tahun. Berdasarkan asal terbentuknya, rak es biasanya dibagi menjadi tiga jenis. Ada yang berasal dari gletser, ada yang terbentuk dari es laut yang bercampur dengan salju lokal, dan ada pula yang merupakan gabungan dari keduanya. Di antara ketiganya, rak es yang berasal dari gletser umumnya merupakan formasi terbesar dan paling luas.
Antarktika menjadi pusat utama keberadaan rak es di dunia. Benua ini memiliki 15 kawasan rak es utama, menjadikannya wilayah dengan konsentrasi rak es terbesar di Bumi. Struktur ini membentang di sekitar 75% garis pantai Antarktika dan menutupi area seluas sekitar 1,561 juta kilometer persegi. Di luar ukurannya yang sangat besar, rak es juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan massa benua dan mencegah mundurnya gletser secara cepat.
Selain penting secara struktural, rak es juga menjadi penggerak utama sirkulasi samudra global. Rak es mendukung sirkulasi termohalin, yakni proses yang dipicu oleh perbedaan suhu dan kadar garam air laut. Di wilayah kutub, air yang sangat dingin dan padat akan tenggelam ke dasar laut, lalu memulai perjalanan global yang mengangkut panas, karbon, dan nutrien ke seluruh samudra dunia. Mekanisme ini merupakan bagian penting dari pengatur iklim planet, termasuk sistem krusial seperti Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC).
Pencairan dan Konsekuensinya
Model iklim menunjukkan bahwa rak es Antarktika dan AMOC semakin rentan melemah akibat meningkatnya suhu laut dan melonjaknya aliran air tawar dari pencairan es. Studi jangka panjang yang dilakukan peneliti dari University of Cambridge bersama University of California mengungkap bahwa massa air laut hangat yang disebut Perairan Dalam Sirkumpolar (Circumpolar Deep Water/CDW) semakin meluas dan bergerak mendekati benua Antarktika selama dua dekade terakhir.
Sebelumnya, para peneliti mengandalkan pengukuran berbasis kapal yang dilakukan sekali tiap dekade melalui program internasional untuk mencatat suhu, salinitas, dan kadar nutrien laut. Karena pengamatan ini bersifat berkala, data yang tersedia hanya memberikan gambaran terputus-putus mengenai perubahan distribusi panas laut dalam jangka panjang. Untuk menutup celah tersebut, peneliti menggabungkan data kontinu dari pelampung otomatis dengan data kapal menggunakan pembelajaran mesin. Pendekatan ini memungkinkan pemetaan pergerakan CDW dengan tingkat akurasi yang belum pernah dicapai sebelumnya, sekaligus mengungkap tren pemanasan yang mengancam kestabilan rak es.
Ketika massa air hangat CDW mengalir menuju landas kontinen, air tersebut dapat masuk ke rongga di bawah rak es dan melelehkannya dari bagian bawah. Proses ini mengikis kekuatan struktural rak es dan mengurangi kemampuannya menahan gletser serta lapisan es di daratan.
Dalam skenario paling ekstrem, runtuhnya rak-rak es dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut global hingga 58 meter, sekaligus mengganggu sistem iklim yang lebih luas. Fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari pemanasan global, mengingat lebih dari 90% panas berlebih akibat perubahan iklim sejauh ini diserap oleh samudra, dengan Samudra Selatan menyerap porsi panas antropogenik terbesar.
Menjaga Es Antarktika
Mengingat perannya yang sangat penting bagi sistem iklim global, menjaga rak es Antarktika adalah sebuah urgensi. Mengurangi emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah paling mendasar, terutama melalui upaya menahan kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5°C. Target ini sangat bergantung pada dekarbonisasi besar-besaran melalui transisi dunia menuju energi bersih dan terbarukan, yang membutuhkan perluasan serta penerapan teknologi energi bersih secara sistemik dan dalam skala luas.
Di sisi lain, riset dan kebijakan juga perlu semakin berfokus pada pemantauan rak es secara ketat serta pengembangan strategi komprehensif dan solusi teknologi yang inovatif. Penanganan masalah ini memerlukan kolaborasi lintas disiplin yang kuat untuk menilai dampak jangka panjang maupun ancaman yang lebih mendesak. Sebab, selain mencegah kerusakan lebih lanjut, mitigasi terhadap kemungkinan “skenario bencana” seperti hilangnya lapisan es, kenaikan muka laut global, krisis air, dan kerusakan ekosistem laut juga menjadi hal yang sangat penting. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama internasional yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.
Pada akhirnya, respons yang terkoordinasi sangat diperlukan untuk mendukung berbagai upaya tersebut dan memastikan keberhasilan jangka panjang. Kerangka regulasi yang kuat serta dukungan terhadap riset, disertai proses pengambilan keputusan yang transparan dan inklusif, adalah kunci agar langkah-langkah penanganan iklim tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga adil dan bertanggung jawab secara sosial.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Seratus Tahun Sir David Attenborough: Suara yang Mengajak Dunia Merayakan dan Memelihara Alam
Mengatasi Tantangan dalam Pergeseran menuju Ketahanan Rantai Pasok
Ketimpangan Representasi dalam Seni dan Industri Kreatif
Sejauh Mana Efektivitas Jalur Penyeberangan Satwa Liar?
Mengatasi Tantangan dalam Menghadirkan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berbasis Komunitas
Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan