Bertani Sembari Menyembuhkan Bumi: Menonton Groundswell dengan Penuh Harap
Foto: Groundswell - Official Trailer di Youtube Prime Video.
“Farm by farm, we can actually heal the entire world.”
— Groundswell (2026)
Ada satu adegan dalam Groundswell yang mungkin akan terus diingat siapapun yang menontonnya lama setelah kredit penutup bergulir: seorang petani kedelai Brasil—lelaki yang seumur hidup menjadi roda penggerak mesin pertanian industrial di Mato Grosso—berjalan menyeberangi sepetak kecil lahannya yang telah ia pulihkan selama beberapa tahun terakhir. Ia menoleh ke belakang, ke hamparan ladang gundul yang telah dikeruk puluhan tahun oleh pertanian ‘modern’ penuh bahan kimiawi buatan. Lalu ia menatap apa yang telah ia bangun kembali. Dengan suara pelan, ia berkata bahwa ia nyaris tak percaya betapa berbedanya keadaan sekarang.
Momen itu kecil. Tetapi bagi saya momen itu juga adalah keseluruhan argumen film ini: bahwa solusi terbesar bagi krisis iklim mungkin ada tepat di bawah telapak kaki kita.
Pertanian Regeneratif: Regenerasi Harapan
Groundswell (2026), yang mulai ditayangkan di Prime Video pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni lalu tetapi baru bisa saya tonton lebih dari sebulan kemudian, adalah penutup dari trilogi dokumenter garapan Josh Tickell dan Rebecca Harrell Tickell. Pasangan sutradara ini sebelumnya membawa istilah kesehatan tanah ke ruang tamu jutaan penonton lewat Kiss the Ground (2020) dan Common Ground (2023). Jika Kiss the Ground berfungsi sebagai pengantar populer yang menggandeng selebritas untuk memperkenalkan gagasan regenerasi tanah dan Common Ground menajamkan sorotan pada kebijakan, kekuasaan korporasi, dan beragam faktor lain yang menghambat transisi itu, maka Groundswell mengambil posisi sebagai babak penutupan yang menghubungkan titik-titik itu semua. Penanganan perubahan iklim, kepunahan spesies, dan degradasi tanah diramu menjadi satu seruan global yang efektif untuk regenerasi.
Dinarasikan oleh dua selebritas aktivis, Demi Moore dan Woody Harrelson, film berdurasi satu jam tiga puluh tiga menit ini mengikuti petani, ilmuwan, pemimpin masyarakat adat, dan visioner di lima benua yang membuktikan bahwa pertanian regeneratif dapat memperbaiki kesehatan manusia, melawan perubahan iklim, dan menopang ekonomi pedesaan. Tim produksi—hanya dua belas kru, ditambah dua anak Tickell yang ikut serta dalam perjalanan—menembus permukiman pengungsi di Uganda utara, dataran tinggi kopi di Kolombia yang curam, hingga jantung Mato Grosso di Brasil, dengan satu episode tifus menimpa seluruh tim di sepanjang perjalanan itu. Hasilnya adalah film yang terasa lebih luas cakupannya, namun anehnya lebih intim nadanya, dibanding dua pendahulunya. Bulan Mei lalu film ini diganjar Golden Globe Prize for Documentary dalam pemutaran khusus di Festival Film Cannes 2026. Mungkin ini adalah sebuah pengakuan langka untuk sebuah film dokumenter tentang tanah dan pupuk kompos, namun menurut saya, sepenuhnya pantas diterima.
Sebagai sebuah karya sinematik, Groundswell tidak berpretensi menjadi eksperimen bentuk. Tickell bersaudari-suami-istri ini tetap setia pada tata bahasa dokumenter advokasi Amerika: wawancara ke kamera, sinematografi udara yang memukau atas lanskap yang pulih, infografik yang efektif, musik yang membesarkan hati pada momen-momen penuh harapan. Namun, di situlah justru kekuatan film ini tersembunyi—bukan pada eksperimentasi formal, melainkan pada disiplin argumentatifnya. Alih-alih hanya mengumpulkan gambar-gambar bencana ekologis lalu menyerahkan penonton pada keputusasaan, sebagaimana kebanyakan film terkait iklim lain, Groundswell dengan sengaja bergerak dari ‘mengapa’ menuju ‘bagaimana’. Ia menampilkan statistik konkret misalnya luas lahan yang berada di bawah pengelolaan regeneratif di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Transisi yang terjadi juga digambarkan dengan gamblang, sehingga seluruh penonton bisa merasakan optimisme dari perbaikan-perbaikan kondisi.
Melampaui Dokumenter
Yang membuat film ini istimewa bukan sekadar optimismenya, tapi ambisi kelembagaannya. Bertepatan dengan peluncuran film, para pembuatnya melancarkan kampanye One Billion Acres, seruan kepada perusahaan-perusahaan di seluruh dunia untuk berkomitmen pada transisi regeneratif. Satu miliar ekar, alias sekitar 405 juta haktare, mewakili kurang lebih sepuluh persen lahan pertanian global, dianggap sebagai ambang batas di mana gerakan pertanian ini akan menjadi kekuatan yang tak terbendung dengan sendirinya karena sumberdaya dan informasi terbuka secara luas. Luasan itu dianggap bisa dicapai pada tahun 2030, dan akan terus bertambah setelahnya.
Nespresso telah menjadi perusahaan pertama yang menandatangani komitmen tersebut. Di sinilah Groundswell menampilkan diri bukan sekadar sebagai film, melainkan sebagai instrumen kampanye terhadap korporasi. Ini adalah sebuah pilihan yang patut dicermati secara kritis. Sejauh mana argumen ilmiah tentang penyerapan karbon tanah ini telah divalidasi secara independen di luar narasi film, dan sejauh mana klaim keberhasilan petani-petani yang ditampilkan dapat direplikasi pada skala industri tanpa terjebak pada greenwashing yang kerap dilakukan korporasi, adalah pertanyaan yang film ini, secara wajar bagi genre dokumenter advokasi, menurut saya sangat penting untuk dieksplorasi lebih mendalam.
Ujian untuk Indonesia
Namun justru di titik itulah Groundswell menjadi relevan bagi kita di Indonesia, dan bagi saya khususnya, yang bertahun-tahun menyoroti jurang antara retorika keberlanjutan korporasi dan praktik nyata di lapangan. Pertanian regeneratif bukan konsep asing bagi diskursus kebijakan pangan Indonesia hari ini. Ia justru sedang menemukan momentumnya sendiri, meski dengan wajah yang berbeda dari yang ditampilkan film tersebut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini mendorong pergeseran paradigma serupa untuk menghadapi cuaca ekstrem, dengan menekankan praktik-praktik yang meminimalkan gangguan tanah, mengintegrasikan tanaman dengan ternak, meningkatkan keanekaragaman hayati ekosistem, dan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis—kerangka yang secara substansial sejalan dengan apa yang dipromosikan oleh pasangan suami-istri Tickell dalam triloginya. Sementara itu, di Malang, kolaborasi antara Syngenta Indonesia dan TerraBaru telah mengubah limbah tongkol jagung menjadi biochar guna memperbaiki kesehatan tanah, sebuah respons langsung terhadap temuan bahwa dua pertiga wilayah Indonesia memiliki kesehatan tanah yang menurun menurut kajian Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian.
Di sisi lainnya, saya membaca bahwa anggaran ketahanan pangan nasional 2026 yang mencapai Rp114,1 triliun sebagian besar diarahkan pada penyediaan alat dan mesin pertanian, subsidi pupuk, pembangunan bendungan, pencetakan sawah baru, dan pembelian benih unggul. Itu semua mencerminkan paradigma intensifikasi konvensional yang justru menjadi lawan tesis dari pertanian regeneratif. Fokus kebijakan nasional pada swasembada melalui perluasan lahan dan mekanisasi, betapapun sahihnya secara politik ketahanan pangan, berjalan pada rel yang berbeda dari transisi agroekologis yang digambarkan Groundswell dengan penuh harap dan optimisme itu. Ditambah lagi, ada krisis lain yang mengintai: petani di Indonesia, lebih dari 70%-nya berusia di atas 45 tahun dan hanya sekitar 8% di bawah 35 tahun. Ini berarti bahwa siapa pun yang akan menjalankan transisi ke pertanian regeneratif kelak, jumlahnya kian menyusut setiap tahun. Ini bukan sekadar tantangan teknis penerapan, melainkan pertanyaan struktural tentang siapa yang akan mewarisi tanah yang hendak diregenerasi.
Dari sinilah Groundswell, ketika ditonton dengan kesadaran lahan-lahan pertanian di sekujur Nusantara, terasa sekaligus menginspirasi dan menuntut. Film ini benar bahwa jawabannya ada di bawah kaki kita, tetapi ia juga secara implisit mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh kebijakan, bukan oleh sinematografi: siapa yang akan membiayai transisi ini bagi jutaan petani kecil Indonesia yang tak memiliki modal untuk menunggu tiga hingga lima tahun sampai tanah mereka pulih dan produktif kembali? Bagaimana insentif fiskal, pasar karbon, dan kelembagaan keuangan berkelanjutan dapat dirancang agar petani tak harus memilih antara bertahan hidup musim ini dan meregenerasi tanah untuk generasi berikutnya? Transisi regeneratif menuntut insentif finansial dan dukungan teknis bagi petani, kebijakan pemerintah yang mendukung, serta penelitian dan pengembangan yang berpihak pada kebutuhan petani sebagai pemangku kepentingan utama—bukan sekadar seruan moral dari layar kaca, betapapun indah dan menginspirasinya sinematografi itu.
Saatnya Bertindak
Inilah kualitas yang membuat Groundswell, seperti dua pendahulunya, layak ditonton bukan sebagai “hiburan” semata, melainkan sebagai bahan diskusi serius. Film ini jelas tidak sempurna lantaran ia terlalu cepat merayakan angka-angka pertumbuhan tanpa cukup menginterogasi siapa yang diuntungkan dari komitmen korporasi seperti Nespresso, dan terlalu sedikit menyentuh kompleksitas politik agraria di negara-negara Global Selatan tempat sebagian besar cerita filmnya berlangsung. Namun kelebihannya jauh melampaui kekurangannya: ia menolak sinisme, menampilkan bukti lapangan yang terukur, dan yang terpenting, menegaskan bahwa regenerasi bukan sekadar metafora spiritual, melainkan seperangkat praktik agronomis yang dapat direplikasi—jika kelembagaan dan pembiayaan mengizinkannya.
Maka, izinkan resensi ini saya tutup bukan hanya dengan ajakan menonton, melainkan dengan ajakan bertindak. Tontonlah Groundswell dengan saksama. Satu jam tiga puluh tiga menit yang diinvestasikan siapapun jelas akan mengubah cara memandang sepetak sawah atau kebun di mana mereka berada. Tetapi jangan berhenti di situ. Indonesia memiliki dua pertiga lahan dengan kesehatan tanah yang menurun, jutaan petani yang menua tanpa generasi penerus, dan anggaran ketahanan pangan kita masih terlalu berat ke arah intensifikasi konvensional. Di titik pertemuan itulah keberlanjutan korporasi, kebijakan agraria, dan pembiayaan hijau yang selama ini saya advokasikan bertemu dengan argumen film ini: bahwa memperbaiki tanah sama sekali bukan proyek nostalgia untuk petani tradisional, melainkan strategi pertumbuhan paling mendasar yang kita miliki untuk memastikan gemilangnya masa depan.
Pertanian regeneratif jelas bisa berhasil di Indonesia. Bukti lapangannya sudah saya saksikan langsung bermunculan dari Yogyakarta hingga Sulawesi Tengah. Pertanyaannya adalah apakah kita punya keberanian kelembagaan untuk berpihak kepada bentuk pertanian masa depan ini, termasuk dengan membiayainya secara memadai. Karena hanya dengan demikian saja kita akan bisa menyembuhkan Bumi, sepetak demi sepetak lahan.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Nestapa Perempuan di Pusat Pertambangan Kobalt di Kongo
Mendukung Pekerja Gig di Tengah Dunia Kerja yang Kian Rentan
Paradoks Tembakau: Mengapa Industri Paling Mematikan Tetap Menjadi yang Paling Menguntungkan
Mengatasi Kesenjangan Pengelolaan Limbah Elektronik di Asia
Menghindari Korban Manusia dalam Transisi Energi: HAM sebagai Fokus Transition Minerals Tracker 2026
Memahami Realitas Kesehatan Mental Para Migran Iklim