Pengurangan Deforestasi dan Pemberantasan Kemiskinan yang Jauh dari Target Kehutanan Global
Foto: Toza Productions di Unsplash.
Meski hutan berperan sangat penting dalam menopang kehidupan di Bumi, upaya perlindungannya masih tertinggal jauh dibandingkan skala kerusakannya. Menjelang tenggat waktu 2030, sebuah laporan dari PBB mengevaluasi perkembangan dunia dalam mencapai berbagai target kehutanan global. Hasilnya menunjukkan kenyataan yang memprihatinkan: masih ada kesenjangan besar yang menuntut aksi yang lebih kuat untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Target Kehutanan Global
Hutan merupakan rumah bagi jutaan spesies, mulai dari satwa, tumbuhan, hingga berbagai bentuk kehidupan lainnya. Dijuluki sebagai “paru-paru Bumi”, hutan memegang peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem sekaligus mengatur iklim demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan manusia. Namun, di berbagai belahan dunia, hutan terus menghadapi beragam tekanan yang mengancam fungsi-fungsi vital tersebut.
Pada 2017, Majelis Umum PBB mengadopsi sebuah rencana strategis yang memuat visi jangka panjang bagi masa depan hutan dunia. Rencana Strategis PBB untuk Hutan 2017–2030 menetapkan enam tujuan utama beserta 26 target turunannya, termasuk membalikkan laju kehilangan hutan, meningkatkan manfaat hutan bagi masyarakat, serta memperkuat kerja sama lintas sektor dan internasional.
Sembilan tahun setelah kerangka tersebut disahkan, Laporan Target Kehutanan Global (Global Forest Goals Report) 2026 diterbitkan sebagai laporan perkembangan kedua. Seperti laporan pertama yang dirilis pada 2021, dokumen ini sebagian besar disusun berdasarkan laporan sukarela dari 48 negara yang disampaikan dalam periode 2024–2026. Negara-negara tersebut mewakili sekitar 51% dari total luas hutan dunia.
Deforestasi Masih Berlanjut
Dari 26 target kehutanan yang ditetapkan, terdapat dua target yang dinilai off track, yang berarti kemajuannya jelas tidak cukup cepat untuk dapat dicapai pada tenggat tahun 2030.
Target pertama yang belum berada di jalur adalah peningkatan luas hutan global sebesar 3%, yang merupakan bagian dari tujuan membalikkan tren kehilangan hutan. Berdasarkan data Global Forest Resources Assessment 2025 dari FAO, laporan tersebut mencatat bahwa dalam rentang tahun 2015 hingga 2025 luas hutan dunia justru menyusut hampir 1%, atau lebih dari 40 juta hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 16 juta hektare merupakan hutan primer. Hutan primer adalah hutan yang pada umumnya belum mengalami modifikasi signifikan akibat aktivitas manusia, sehingga proses regenerasi alami dan fungsi ekologisnya masih berlangsung secara utuh. Hilangnya jutaan hektare hutan primer berarti hilangnya cadangan karbon yang sangat besar sekaligus habitat penting bagi berbagai spesies endemik dan terancam punah.
Laporan tersebut mengidentifikasi ekspansi pertanian sebagai salah satu penyebab utama yang terus mendorong hilangnya hutan. Di Amerika Selatan, wilayah dengan kehilangan hutan tahunan terbesar menurut laporan tersebut, perluasan lahan pertanian dan padang penggembalaan telah menyebabkan lebih dari 19 juta hektare hutan di kawasan Gran Chaco hilang dalam tiga dekade terakhir. Secara khusus di Argentina dan Paraguay, penelitian Carpenter dkk. (2025) menunjukkan bahwa produksi daging sapi dan kedelai berkaitan dengan penurunan populasi 47 spesies mamalia penting selama periode 2008–2018.
Selain itu, meningkatnya permintaan terhadap berbagai produk hasil hutan, mulai dari kayu hingga bahan bakar, juga menjadi pendorong utama deforestasi dan degradasi hutan.
Kemiskinan yang Masih Membelenggu
Meningkatnya permintaan terhadap produk hasil hutan seharusnya dapat mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut. Namun, laporan tersebut menunjukkan bahwa target penghapusan kemiskinan ekstrem bagi seluruh masyarakat yang bergantung pada hutan juga masih jauh dari jalur pencapaian.
Mendefinisikan siapa yang termasuk sebagai “masyarakat yang bergantung pada hutan” memang tidak sederhana, mengingat pada dasarnya semua manusia bergantung pada hutan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian Newton dkk. (2016), yang menelaah berbagai literatur terdahulu, menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hutan memiliki banyak dimensi. Dari sisi mata pencaharian, seseorang dapat dikategorikan bergantung pada hutan apabila kebutuhan sehari-harinya—seperti pangan, pakan ternak, atau tanaman obat—sebagian dipenuhi dari hutan. Selain itu, mereka yang memperoleh penghasilan dari penjualan produk maupun jasa berbasis hutan juga termasuk dalam kelompok ini.
Berdasarkan data Bank Dunia, laporan tersebut mencatat bahwa meskipun dunia secara umum mengalami kemajuan dalam pengurangan kemiskinan, sejumlah wilayah dengan populasi masyarakat bergantung pada hutan yang besar menunjukkan perubahan yang sangat terbatas. Di Afrika Sub-Sahara, misalnya, tingkat kemiskinan ekstrem—yang didefinisikan sebagai hidup dengan kurang dari US$3 per orang per hari—masih berada di kisaran 46%. Jutaan rumah tangga pedesaan di kawasan tersebut masih mengandalkan hutan sebagai sumber energi, penopang pertanian skala kecil, sekaligus sumber pendapatan.
Berbagai upaya untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan sebenarnya telah dilakukan. Namun, efektivitasnya masih terhambat oleh berbagai kendala. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat maupun praktik agroforestri, misalnya, masih menghadapi persoalan terbatasnya akses pasar dan lemahnya kapasitas pembiayaan.
Aksi yang Lebih Besar dan Kerja Sama yang Lebih Erat
Selain dua target kehutanan yang dinilai off track, laporan tersebut mencatat terdapat tujuh target yang secara umum telah tercapai dan 17 target yang menunjukkan kemajuan parsial. Namun, target-target yang belum terpenuhi memperlihatkan betapa mendesaknya kebutuhan akan aksi yang lebih besar dan kerja sama yang lebih kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Laporan tersebut menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antara kebijakan sektor pertanian dan kehutanan sebagai langkah krusial untuk mengurangi hilangnya hutan primer. Mengingat ekspansi pertanian merupakan penyebab utama deforestasi, pembangunan rantai pasok komoditas pertanian yang bebas dari deforestasi juga menjadi kebutuhan mendesak. Salah satu inisiatif yang mengarah ke sana adalah Peraturan Uni Eropa tentang Deforestasi (EUDR), yang bertujuan mencegah deforestasi dan degradasi hutan di sepanjang rantai pasok global.
Di sisi lain, peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hutan dapat dilakukan melalui perluasan akses pasar, penguatan kapasitas finansial dan teknis, serta perlindungan hukum atas hak kepemilikan dan pengelolaan lahan. Hingga kini, lemahnya pengakuan hukum terhadap hak masyarakat adat maupun hak tenurial perempuan masih menjadi hambatan besar yang menghalangi banyak komunitas dalam mengelola lahannya secara optimal untuk mendukung kesejahteraan mereka.
Pada akhirnya, mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan menuntut perubahan cara pandang: hutan tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai sumber keuntungan ekonomi, melainkan sebagai salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Sadiman: Lelaki yang Bisa Memanggil Air
Utang kepada Anak-Cucu yang Terus Membesar: Earth Overshoot Day 2026 dan Panggilan bagi Dunia Usaha
Benang Kusut Blue Carbon di Afrika
Melindungi Hak Anak-Anak Migran dengan Kebijakan yang Berpusat pada Anak
Menegaskan Tanggung Jawab Negara dalam Menghadapi Krisis Iklim
Mengulik Kerentanan Anak terhadap Panas Ekstrem