Pentingnya Manajemen Risiko atas Dampak Ikan Asing Invasif
Foto: Ralphs_Fotos di Pixabay.
Dalam beberapa tahun terakhir, para nelayan di sepanjang pesisir Danau Toba, Sumatera Utara, resah oleh kehadiran ikan red devil. Ikan asing invasif yang oleh warga setempat disebut lohan merah itu sering memangsa ikan mas dan ikan pora-pora yang merupakan spesies asli Danau Toba. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan Danau Toba terus berkurang sejak tahun 2020.
“Harapan kami ikan lohan [merah] ini jangan ada lagi, segera dimusnahkan, kembalikan ikan pora-pora kami,” kata Arjonwel Simbolon, nelayan di Samosir, kepada Kompas TV.
Kehadiran ikan asing invasif merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem perairan. Apa yang terjadi di Danau Toba merupakan salah satu contoh kasus yang terjadi di Indonesia. Ketika ikan yang tidak berasal dari suatu wilayah diperkenalkan ke ekosistem baru dan populasinya tidak terkendali, dampaknya dapat merusak habitat, menyebabkan persaingan yang tidak seimbang dengan spesies asli, dan berpotensi menyebarkan penyakit. Untuk mengatasi bahaya ini, diperlukan langkah-langkah pencegahan dan pengawasan yang ketat.
Ikan Asing Invasif
Invasi spesies asing terjadi ketika spesies yang tidak berasal dari suatu wilayah persebaran zoogeografisnya diperkenalkan ke ekosistem perairan yang berbeda. Hal ini sering kali terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia seperti perdagangan, budidaya, atau pelepasan ikan. Ikan asing yang diperkenalkan dapat memiliki keunggulan kompetitif yang mengganggu spesies asli dalam memperebutkan sumber daya seperti makanan, tempat berlindung, dan tempat berkembang biak.
Selain itu, ikan asing juga dapat menjadi pemangsa bagi spesies asli yang tidak terbiasa dengan tekanan predasi yang tinggi. Hal ini pada gilirannya dapat mengakibatkan penurunan populasi yang signifikan atau bahkan kepunahan spesies asli. Selain itu, ikan asing dapat membawa penyakit atau parasit baru yang tidak ada sebelumnya di ekosistem perairan tersebut. Penyakit atau parasit ini dapat menyebar dengan cepat dan mempengaruhi kesehatan dan kelangsungan hidup spesies asli.
Beberapa jenis ikan invasif di Indonesia antara lain:
- Atractosteus spatula (Bangsa Lepisosteiformes, Suku Lepisosteidae). Di Indonesia, ikan ini sering disebut Ikan aligator atau alligator gar.
- Lepisosteus osseus (Bangsa Lepisosteiformes, Suku Lepisosteidae). Di Indonesia ikan ini sering disebut ikan aligator Longnose Gar.
- Lepisosteus oculatus (Bangsa Lepisosteiformes, Suku Lepisosteidae). Ikan ini sering disebut ikan tutul di Indonesia.
- Pygocentrus nattereri (Bangsa Characiformes, Suku Characidae) Di Indonesia, ikan ini dikenal dengan nama red bellied piranha atau ikan piranha perut merah. Ada juga yang menyebutnya ikan belida.
- Pterygoplichthys pardalis atau sering dikenal sebagai ikan sapu-sapu (Bangsa Siluriformes, Suku Loricariidae)
- Gambussia affinis atau ikan gambusia atau ikan cere (Bangsa Cyprinodontiformes, Suku Poeciliidae).
- Aequidens pulcher (Bangsa Perciformes, Suku Cichlidae). Ikan ini termasuk ikan hias, yang di Indonesia biasa disebut blue acara.
- Amphilophus alfari dan Amphilophus labiatus (Bangsa Perciformes, Suku Cichlidae). Di Indonesia, dua jenis ikan ini dikenal dengan sebutan ikan red devil.
- Astronotus ocellatus atau ikan oscar (Bangsa Perciformes, Suku Cichlidae). Ikan ini sering dijadikan ikan hias.
- Hemichromis elongatus atau dikenal dengan nama ikan golsom (Bangsa Perciformes, Suku Cichlidae).
- Parachromis managuensis atau ikan jaguar (Bangsa Perciformes, Suku Cichlidae).
Langkah Antisipasi, Kontrol, dan Restorasi
Untuk mengantisipasi dan mengontrol dampak dari ikan asing invasif di perairan Indonesia, berikut langkah-langkah yang dapat diterapkan.
- Penelitian dan Evaluasi. Penelitian menyeluruh dan evaluasi dampak potensial perlu dilakukan sebelum memperkenalkan ikan asing ke suatu ekosistem baru. Penelitian mesti mencakup studi perilaku makan, kecepatan reproduksi, dan adaptasi ikan asing tersebut di lingkungan baru. Informasi ini dapat membantu dalam menentukan apakah ikan tersebut berpotensi menjadi ancaman bagi spesies asli dan ekosistem perairan.
- Larangan dan Regulasi. Pemerintah dan lembaga terkait harus mengidentifikasi spesies asing yang diperbolehkan dan melarang spesies yang berpotensi merusak ekosistem perairan.
- Sistem Pemantauan. Sistem yang efektif harus dapat melibatkan petugas lapangan, nelayan, dan masyarakat setempat yang dilatih untuk mengidentifikasi spesies yang tidak biasa. Jika ditemukan ikan asing yang tidak diinginkan, langkah-langkah penanganan yang cepat dapat diambil untuk meminimalkan dampaknya.
- Pemeriksaan Kesehatan dan Karantina. Sebelum memperkenalkan ikan asing ke ekosistem baru, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan menjalankan prosedur karantina yang ketat. Pemeriksaan kesehatan ini harus memastikan bahwa ikan tersebut bebas dari penyakit atau parasit yang dapat membahayakan spesies asli.
- Edukasi Masyarakat. Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya ikan asing invasif dan pentingnya melindungi ekosistem perairan sangat penting. Kampanye, edukasi, dan diseminasi informasi dan hasil penelitian dapat membantu masyarakat memahami konsekuensi dari perkenalan ikan asing dan bagaimana mereka dapat berperan dalam melindungi ekosistem perairan.
- Restorasi Habitat. Memperbaiki dan memulihkan habitat yang rusak dapat membantu mempertahankan populasi spesies asli dan mengurangi risiko ikan asing invasif.
Kolaborasi untuk Kelangsungan Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati
Kerjasama antarpemangku kepentingan, termasuk institusi pemerintah dan lembaga penelitian, sangat penting untuk memaksimalkan langkah antisipasi, kontrol, dan restorasi. Dengan mengambil langkah yang tepat, seluruh pemangku kepentingan dapat mengupayakan keberlangsungan ekosistem perairan dan keanekaragaman hayati di Indonesia.
Editor: Abul Muamar

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit