Hope Reef: Restorasi Terumbu Karang dengan Pelibatan Masyarakat Lokal
Seorang penyelam dalam proses meletakkan Reef Star ke dasar laut dalam proses restorasi terumbu karang. | Foto: Mars.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keanekaragaman biota laut yang kaya. Sebagai bagian dari wilayah segitiga karang dunia, Indonesia merupakan rumah bagi sebagian besar spesies karang dunia. Namun, ekosistem terumbu karang masih menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi menyebabkan kepunahan. Terkait hal ini, Sheba, sebuah perusahaan produsen makanan hewan, meluncurkan program Hope Reef, sebagai bentuk upaya restorasi ekosistem terumbu karang di Indonesia dengan melibatkan masyarakat lokal.
Terumbu Karang dan Berbagai Manfaatnya
Terumbu karang merupakan ekosistem bawah laut yang berperan besar bagi keanekaragaman biota laut, kelestarian lingkungan, hingga kehidupan manusia. Walaupun hanya menutupi kurang dari 1% dasar laut, terumbu karang menjadi habitat bagi setidaknya 25% spesies laut, menjadikannya salah satu penjaga biodiversitas laut. Terjaganya biodiversitas dapat menyokong kehidupan di laut, dan mampu mempercepat pemulihan ekosistem setelah terjadi bencana. Selain menjadi habitat, terumbu karang juga menghasilkan makanan bagi ikan dan biota laut lainnya.
Terumbu karang juga dapat menjaga lingkungan laut, melalui kemampuannya meredam gelombang kuat, seperti badai dan tsunami, sehingga dapat mengurangi risiko bencana dan kerusakan lingkungan. Sebuah penelitian memperkirakan ekosistem terumbu karang melindungi sekitar 150.000 km garis pantai di dunia di lebih dari 100 negara. Selain itu, terumbu karang juga menjadi objek wisata yang diperkirakan mendatangkan sekitar 70 juta pengunjung setiap tahun, serta dapat menjadi bahan dasar berbagai macam obat-obatan.
Terumbu Karang di Indonesia
Indonesia merupakan rumah bagi sekitar 569 (69%) spesies karang dunia. Kondisi tropis membuat perairan Indonesia hangat setiap tahunnya, memungkinkan terumbu karang dapat bertahan hidup dan berkembang biak hingga ratusan tahun.
Sayangnya, ekosistem terumbu karang dunia, termasuk di Indonesia, mengalami berbagai ancaman yang berpotensi menyebabkan kepunahan. Sebuah penelitian berjudul “Reefs at Risk Visited” mengungkap bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan dengan ancaman lokal tertinggi bagi terumbu karang, dengan 95% terumbu karang masuk dalam kategori terancam. Ancaman lokal bagi terumbu karang meliputi penangkapan ikan secara berlebihan (overfishing), penangkapan ikan secara tidak bertanggung jawab (destructive fishing), hingga pencemaran air laut.
Penelitian berjudul “The Status of Indonesian Coral Reefs” mengungkap bahwa dari 1.153 terumbu karang yang tercatat oleh pemerintah Indonesia, 390 terumbu karang (33,82%) berada dalam kondisi buruk, yang berarti tutupan karang hidupnya kurang dari 25%. Selain ancaman lokal, terumbu karang di Indonesia juga terkena ancaman global akibat krisis iklim, salah satunya kenaikan suhu laut, yang dapat menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching). Hilangnya ekosistem terumbu karang tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan dan penurunan keanekaragaman hayati laut, namun juga berdampak terhadap kehidupan masyarakat lokal sekitar pantai, seperti penurunan tangkapan ikan dan hilangnya perlindungan pantai.
Hope Reef

Menanggapi ancaman lokal tersebut, Sheba, meluncurkan program Hope Reef pada tahun 2019, bekerja sama dengan Mars Coral Reef Restoration. Target pertama program ini adalah daerah Salisi’ Besar, perairan Pulau Bontosua, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Terumbu karang di daerah tersebut telah lama mati akibat praktik perikanan yang tidak bertanggung jawab (blast fishing).
Hope Reef merupakan program restorasi terumbu karang dengan teknologi Mars Assisted Reef Restoration System (MARRS). Penerapan teknologi ini dilakukan melalui tiga tahap sederhana. Pertama, rangka besi (Reef Stars) sebagai media restorasi dibuat dengan bahan baku lokal. Kedua, Reef Stars dilapisi resin dan pasir karang. Ketiga, beberapa potongan/fragmen karang hidup ditempel pada kaki Reef Stars. Reef Stars yang sudah ditempeli potongan karang hidup sudah siap ditenggelamkan ke dasar laut, yang dalam waktu kurang lebih dua tahun, potongan karang tersebut dapat kembali tumbuh membentuk terumbu karang.
Dalam restorasi terumbu karang, program Hope Reef secara aktif melibatkan masyarakat lokal Bontosua. Pada tahap awal program ini, tiga warga lokal Bontosua menerima pelatihan MARRS dan membentuk Bontosua Community Restoration Team (BCRT). BCRT kemudian menjadi pelaku utama dalam penyelenggaraan kegiatan “The Big Build”, yakni kegiatan restorasi terumbu karang yang melibatkan 100 masyarakat lokal di dasar laut seluas 2.500 meter persegi.
Mengingat manfaatnya yang sangat besar bagi lingkungan dan kehidupan manusia, restorasi dan konservasi terumbu karang merupakan hal yang krusial. Agar dapat berdampak luas, upaya-upaya lain juga diperlukan, terutama upaya preventif seperti penerapan perikanan dan pariwisata berkelanjutan, pengelolaan sampah laut yang memadai, penegakan hukum dan pengawasan, hingga penetapan daerah konservasi ekosistem terumbu karang yang lebih efektif.
Editor: Abul Muamar
Titis is a Reporter at Green Network Asia. She is currently studied undergraduate program of Law at Brawijaya University.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja