Indonesia-Vietnam Jalin Kerja Sama dalam Bidang Teknologi Pemanfaatan Lahan Rawa
Menteri Pertanian RI bersama Menteri Pertanian dan Pembangunan Desa Vietnam menandatangani perjanjian kerjasama di sektor teknologi pertanian lahan rawa. | Foto: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Pertambahan jumlah penduduk telah meningkatkan kebutuhan pangan di banyak tempat, termasuk di Indonesia. Dalam hal ini, ketersediaan lahan pertanian menjadi sangat penting untuk mendukung produktivitas dan ketahanan pangan. Namun, maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian telah menyebabkan berkurangnya lahan untuk produksi pangan. Untuk menjawab tantangan ini, Indonesia menjalin kerjasama dengan Vietnam di bidang teknologi pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan rawa yang efisien dan berkelanjutan.
Penyusutan Lahan Pertanian
Ketersediaan lahan pertanian untuk produksi pangan di Indonesia semakin berkurang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017, luas panen padi mencapai 15,78 juta hektare, namun terus menurun setiap tahunnya hingga mencapai 10,21 juta hektare pada 2023.
Ada banyak faktor yang menyebabkan penyusutan lahan pertanian, salah satunya berupa maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi sosial ekonomi petani dan harga tanah. Selain itu, pertumbuhan penduduk dan perubahan struktur ekonomi menuju sektor industri dan jasa juga meningkatkan permintaan lahan untuk pemukiman dan industri, yang akhirnya membuat lahan pertanian kian menyusut.
Dari aspek ekonomi, penurunan produksi pangan telah menyebabkan harga komoditas meningkat, yang pada akhirnya membebani konsumen, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Penurunan produksi pangan akibat menyusutnya lahan pertanian juga menyebabkan, ketergantungan pada impor pangan meningkat, dan hal ini dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Lahan pertanian yang telah beralih fungsi juga menjadi penyebab penurunan keanekaragaman hayati dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Perubahan iklim dan degradasi lingkungan juga turut memperburuk kondisi ini. Cuaca yang tidak menentu dan suhu ekstrem, termasuk gelombang El Niño, ditambah dengan penurunan kualitas dan kesehatan tanah, berdampak serius terhadap pada produktivitas lahan pertanian. Di beberapa daerah seperti Jawa dan Sumatera, banyak petani yang terpaksa untuk mencari lahan baru yang sering kali kurang subur dan lebih rentan terhadap perubahan iklim.
Potensi Lahan Rawa untuk Pertanian
Di tengah penyusutan lahan pertanian, diperlukan inovasi untuk memanfaatkan sumber daya alam secara efektif. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan rawa untuk pertanian. Luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 34,1 juta hektare, dengan 9,52 juta hektare di antaranya dapat dikembangkan untuk lahan pertanian.
Upaya pengembangan dan pengelolaan lahan rawa untuk pertanian berkelanjutan perlu memperhatikan tiga hal utama, yaitu adaptasi tanaman dan pola tanam dengan kondisi alam dan lingkungan, rekayasa lingkungan agar sesuai kebutuhan tanaman, dan kombinasi antara adaptasi tanaman dan rekayasa lingkungan.
Salah satu contoh pemanfaatan lahan rawa menjadi lahan pertanian dapat dilihat di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dengan luas sekitar 22.000 hektare. Selain berfokus pada jaringan irigasi dan pengolahan tanah di lahan rawa, optimasi lahan rawa di daerah ini juga dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan banjir.
Namun, pengembangan pertanian di lahan rawa, terutama untuk tanaman padi, sering menghadapi beberapa kendala seperti genangan air dan kondisi fisik lahan yang tidak ideal, tingkat keasaman tanah yang tinggi, dan penurunan ketersediaan unsur hara yang disertai dengan risiko keracunan akibat zat-zat lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan konservasi secara serius dengan berbagai inovasi teknologi untuk pengembangan pertanian lahan rawa yang optimal.
Kerjasama Indonesia dan Vietnam
Kerja sama antara Indonesia dan Vietnam ditandai dengan penandatangan MoU oleh Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman dan Menteri Pertanian dan Pembangunan Desa Vietnam Le Minh Hoan di Hanoi, Vietnam, pada 19 Mei 2024. Fokus utama kerjasama ini adalah peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman padi melalui pengembangan varietas bibit padi unggul, teknologi mekanisasi, dan pertanian presisi. Selain itu, kedua negara sepakat untuk mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Indonesia ingin mendorong program prioritas pertanian untuk mengantisipasi krisis global yang terjadi saat ini dan mengatasi kemungkinan terjadinya kekeringan atau banjir ekstrem,” kata Amran.
Melalui kerja sama ini, pemerintah akan berupaya meningkatkan indeks tanam dan produksi beras nasional melalui perluasan areal tanam (PAT) dengan program optimalisasi lahan rawa untuk penanaman padi 2-3 kali dalam setahun, serta dengan sistem tanam terpadu pada lahan sawah dataran rendah (padi gogo) di areal perkebunan.
Pada kesempatan yang sama, kedua negara juga menginisiasi pembentukan Kelompok Kerja Pertanian (Joint Agricultural Working Group) yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan rencana kerja konkret dalam pembangunan pertanian yang saling menguntungkan. Kelompok kerja ini akan terdiri dari perwakilan pejabat teknis dari kedua negara yang akan mengidentifikasi rencana kerja konkret dan membahas penyelesaian berbagai hambatan akses pasar komoditas pertanian, serta mobilisasi investasi pertanian kedua negara.
Memperkuat Kerjasama
Kerjasama lintas negara sangat penting dalam menghadapi tantangan global di sektor pertanian. Di tengah krisis iklim dan berbagai krisis lainnya, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menghadirkan solusi untuk tantangan yang dihadapi. Namun pada akhirnya, upaya peningkatan produksi pertanian juga memerlukan pengembangan kapasitas bagi para petani, penguatan infrastruktur pertanian, dan fasilitasi akses pasar yang inklusif.
Editor: Abul Muamar

Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat