UNESCO Luncurkan Pedoman untuk Hijaukan Pendidikan di Sekolah
Foto: Ed Us di Unsplash.
Pendidikan lingkungan merupakan fondasi penting dalam membentuk kesadaran dan tanggung jawab generasi muda terhadap pelestarian alam dan penanggulangan perubahan iklim. Namun, pendidikan formal seringkali hanya berfokus pada penyampaian isu alih-alih mendorong tindakan nyata. Untuk menjawab tantangan ini, UNESCO memperkenalkan Standar Kualitas Sekolah Hijau dan Standar Kurikulum Hijau yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam sistem sekolah secara global.
Kurangnya Fokus Pembelajaran yang Berorientasi pada Aksi Iklim
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara anggota UNESCO telah mengintegrasikan topik lingkungan ke dalam kurikulum dan program sekolah. Namun, sebuah laporan memperingatkan bahwa pendidikan formal sejauh ini masih terlalu fokus pada penyampaian pengetahuan tentang isu lingkungan, bukan pada tindakan nyata.
Analisis UNESCO terhadap 100 kerangka kurikulum nasional pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa hampir setengah (47%) dari kurikulum yang ada di banyak negara tidak menyinggung perubahan iklim. Hanya 23% guru merasa mampu menangani isu iklim secara memadai di kelas, dan 70% dari anak muda yang disurvei tidak dapat menjelaskan isu perubahan iklim. Mereka juga menyatakan kekhawatiran tentang cara pengajaran mengenai iklim saat ini.
Pedoman Kurikulum Hijau
Untuk mengatasi tantangan ini, UNESCO merilis dua pedoman baru, yaitu pedoman kurikulum hijau dan standar kualitas sekolah hijau. Dalam pedoman kurikulum hijau, UNESCO menyediakan pemahaman umum tentang pendidikan iklim yang harus ada di setiap tingkat pendidikan, mulai dari usia 5 hingga 18 tahun ke atas. Fokus utamanya adalah mempromosikan pembelajaran aktif melalui kegiatan praktikal yang memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dalam aksi lingkungan.
Panduan ini mencakup capaian pembelajaran yang dirinci menurut kelompok usia dan berfokus pada berbagai tema penting seperti pengetahuan tentang iklim, ekosistem dan keanekaragaman hayati, keadilan iklim, pembangunan ketahanan, ekonomi pasca-karbon, dan gaya hidup berkelanjutan. UNESCO menekankan pentingnya integrasi lintas disiplin dalam kurikulum, yang mencakup aspek kognitif, sosio-emosional, dan perilaku untuk mendorong aksi keberlanjutan. Sebagai contoh, pedoman ini merekomendasikan agar topik lingkungan tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran sains, tetapi juga dalam mata pelajaran lain seperti geografi, ilmu-ilmu sosial, dan seni.
Standar Kualitas Sekolah Hijau
UNESCO juga merilis standar kualitas sekolah hijau untuk membantu institusi pendidikan di seluruh dunia mengadopsi pendekatan yang berorientasi tindakan dalam mengelola lingkungan sekolah mereka. Pedoman ini dikembangkan melalui kerja sama dengan badan PBB lainnya, masyarakat sipil, dan badan negara. Pedoman ini merekomendasikan sekolah untuk membentuk komite tata kelola lingkungan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua untuk mengawasi pengelolaan yang berkelanjutan dan memastikan bahwa setiap aspek operasional sekolah mendukung tujuan keberlanjutan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pedoman ini memberikan pendekatan terhadap pengembangan sekolah hijau, yang disusun berdasarkan empat dimensi inti, yaitu:
- Tata kelola sekolah
Mendorong keberlanjutan dengan menetapkan kebijakan dan mengalokasikan sumber daya, memastikan pengambilan keputusan yang partisipatif, serta melibatkan pemangku kepentingan dari beragam latar belakang termasuk siswa, pendidik, dan aktor komunitas, menciptakan komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan.
- Pengajaran dan pembelajaran
Melaksanakan pengajaran dan pembelajaran yang mengintegrasikan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) ke dalam kurikulum, memungkinkan siswa mengembangkan pemikiran sistemik dan kritis, keterampilan pemecahan masalah, dan rasa kewarganegaraan global, serta memberdayakan mereka untuk mengatasi tantangan iklim dan keberlanjutan secara efektif.
- Fasilitas dan operasional
Menerapkan praktik berkelanjutan dalam berbagai bidang seperti energi, penggunaan air, pengelolaan limbah, desain kantin, bangunan, dan halaman sekolah. Hal ini untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak lingkungan, memastikan kesehatan dan kesejahteraan siswa dan staf, serta menumbuhkan budaya tanggung jawab yang menginspirasi komunitas sekitar.
- Melibatkan masyarakat
Bekerja sama dengan anggota komunitas yang beragam untuk memperkuat upaya keberlanjutan sehingga memperluas peluang belajar, sumber daya, dan keterlibatan komunitas. Sekolah hijau menjadi pusat ketahanan dan aksi iklim untuk mitigasi dan adaptasi yang menginspirasi serta melibatkan komunitas yang lebih luas.
Perlu Aksi Nyata
UNESCO mengajak negara-negara anggota dan komunitas pendidikan global untuk mengadopsi dan mengimplementasikan pedoman ini dengan sungguh-sungguh, agar dapat mengubah paradigma pendidikan dari sekadar penyampaian informasi menjadi pengajaran yang menekankan keterlibatan langsung dan solusi praktikal. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menghadapi isu-isu lingkungan secara efektif, serta membangun kesadaran akan pentingnya peran mereka dalam menjaga bumi. Dukungan dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung aksi iklim.
Editor: Abul Muamar

Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan