Kota Belajar untuk Pendidikan Berkualitas dan Pembelajaran Sepanjang Hayat
Foto: Gunnar Ridderström di Unsplash.
Kota memberikan peluang bagi masyarakat untuk mencapai kesejahteraan yang setara dan aman. Hal ini termasuk menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan berkualitas dan pembelajaran sepanjang hayat. Terkait hal ini, Jaringan Global Kota Belajar (Global Network of Learning Cities/GNLC) UNESCO mendorong kolaborasi antar kota untuk tujuan tersebut.
Kota & Pendidikan
Lebih dari separuh populasi dunia saat ini tinggal di wilayah perkotaan. Mengingat jumlah penduduk kota diperkirakan akan meningkat dari tahun ke tahun, kota harus mampu menyediakan lingkungan yang inklusif, aman, dan sehat agar masyarakatnya dapat berkembang. Hal ini mencakup udara bersih, keselamatan bagi semua orang, dan sistem pendidikan yang mudah diakses dan memadai.
Pendidikan merupakan aspek penting dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, jutaan anak-anak dan orang dewasa masih kurang mendapatkan pendidikan. UNESCO mencatat 250 juta anak tidak bersekolah dan sekitar 771 juta orang dewasa tidak bisa membaca dan menulis. Di sinilah pemerintah kota harus mengambil peran dalam memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap pendidikan.
Pada tahun 2013, Institut Pembelajaran Sepanjang Hayat UNESCO menginisiasi Jaringan Global Kota Belajar untuk mendorong kolaborasi sosial, ekonomi, dan keberlanjutan di wilayah perkotaan. Baru-baru ini, jaringan tersebut menyambut 64 anggota baru dari 35 negara.
Jaringan Global Kota Belajar UNESCO
Jaringan Global Kota Belajar (GNLC) UNESCO merupakan jaringan internasional yang bertujuan untuk mendukung dan mempercepat terwujudnya pembelajaran dan pendidikan sepanjang hayat. Jaringan ini berfokus pada dialog kebijakan dan pembelajaran sejawat untuk menciptakan kemitraan, membangun kapasitas, dan mendorong kemajuan dalam membangun kota belajar.
Pada Februari 2024, 64 kota dari 35 negara bergabung dalam jaringan ini. Terdapat 11 kota dari kawasan Asia Pasifik yaitu dari Vietnam, Thailand, Filipina, Korea Selatan, dan China. Kota-kota ini dimasukkan ke dalam jaringan berdasarkan rekomendasi juri ahli, yang membuktikan bahwa kota-kota tersebut menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pembelajaran sepanjang hayat dan memiliki rekam jejak praktik baik dan inisiatif kebijakan.
Salah satu anggota baru GNLC adalah Bangkok, Thailand. Kota ini menawarkan program pendidikan terbuka dengan berbagai jenis kelas, pembelajaran modern berbasis festival, dan program relawan teknologi. Sementara itu, kota Nanjing, Tiongkok, menawarkan peningkatan kapasitas orang tua, pendidikan pertanian bagi petani lokal, dan pendidikan masyarakat dengan 940 kursus spesialis.
“Kota adalah kunci untuk mewujudkan hak atas pendidikan menjadi wujudnya yang nyata bagi individu dari segala usia. Dengan anggota baru ini, jaringan ini kini mencakup 356 kota anggota dari seluruh dunia yang berbagi pengetahuan dan membuka jalan bagi peluang pembelajaran sepanjang hayat bagi 390 juta warganya,” kata Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO.
Pendidikan Berkualitas untuk Semua
Masyarakat dari segala usia berhak memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas. Dengan pengetahuan tentang konteks dan keadaan setempat, pemerintah kota punya peran penting dalam membentuk sistem pendidikan bagi warganya agar inklusif, mudah diakses, dan bermanfaat. Jaringan Global Kota Belajar UNESCO diharapkan dapat mendukung semangat kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan kemitraan antarkota di seluruh dunia untuk mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit