Membangun Ketahanan terhadap Panas di Tengah Meningkatnya Risiko di Asia-Pasifik
Foto: Freepik.
Bertahun-tahun yang lalu, kita diperingatkan tentang bahaya pemanasan global. Sekarang, kita telah dan semakin merasakannya. Tahun 2023 dinobatkan sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, “gelar” yang langsung digantikan oleh tahun 2024. Pada tahun 2025, tren pemanasan global terus berlanjut. Peningkatan suhu rata-rata global, yang didorong oleh perubahan iklim dan aktivitas antropogenik, telah memicu gelombang panas yang lebih sering dan ekstrem di seluruh dunia. Oleh karena itu, membangun ketahanan terhadap panas (heat resilience) menjadi agenda mendesak bagi negara-negara di dunia, terutama di kawasan Asia-Pasifik yang rawan bencana.
Memahami Dampak Panas Ekstrem
Dunia memanas dengan cepat, dan kita juga perlu beradaptasi dengan cepat. Kawasan Asia-Pasifik, yang telah menghadapi risiko bencana yang kompleks, sedang menghadapi bahaya dan bencana iklim yang lebih besar akibat kenaikan suhu.
Laporan UNESCAP memaparkan peningkatan risiko ini. Proyeksi terburuk menunjukkan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia sebagai kawasan dengan risiko panas tertinggi, yang diperkirakan akan mengalami 250-300 hari dalam setahun dengan panas ekstrem pada akhir abad ini. Sementara itu, kawasan lain menghadapi risiko baru, dengan kejadian panas ekstrem yang lebih sering, intens, dan meluas.
Di lapangan, dampaknya parah, luas, dan tidak proporsional. Kawasan perkotaan, misalnya, mengalami risiko panas ekstrem yang lebih tinggi akibat efek pulau panas perkotaan, di mana kawasan padat bangunan memerangkap panas dan meningkatkan suhu kota yang lebih panas dibanding kawasan pedesaan. Situasi ini bahkan lebih buruk bagi masyarakat rentan di kawasan perkotaan, yang lebih terpapar panas ekstrem dengan sumber daya terbatas untuk mengatasinya.
Panas ekstrem juga mengganggu produktivitas ekonomi secara signifikan. Laporan tersebut mengungkap bahwa pada tahun 2030, jam kerja yang hilang akibat tekanan panas diproyeksikan setara dengan 8,1 juta pekerjaan penuh waktu. Selain itu, meningkatnya kadar gas rumah kaca, yang memicu panas ekstrem, memicu kenaikan permukaan laut, mencairnya gletser, kekeringan yang sering terjadi, dan pola cuaca yang tidak menentu.
Membangun Ketahanan terhadap Panas
Dampak berantai ini membutuhkan tindakan mendesak untuk membangun ketahanan terhadap panas. Laporan tersebut mendefinisikan ketahanan terhadap panas sebagai kapasitas suatu sistem untuk mengantisipasi, menahan, beradaptasi, dan pulih dari panas ekstrem sekaligus tetap menjaga kesejahteraan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Pemerintah di Asia dan Pasifik telah memiliki pengalaman yang luas dalam mengelola bencana berantai. Namun, meningkatnya ancaman panas ekstrem menuntut level urgensi yang baru,” ujar Tiziana Bonapace, Direktur Divisi Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Pengurangan Risiko Bencana di ESCAP, kepada Green Network Asia.
Ini berarti pemerintah daerah dan nasional harus beralih dari pendekatan jangka pendek dan reaktif ke strategi sistemik yang membangun ketahanan terhadap panas jangka panjang. Salah satu aspek kunci dari transformasi ini adalah memperkuat kesiapsiagaan terhadap panas di bawah Peringatan Dini untuk Semua (Early Warning for All/EW4All).
Yang memprihatinkan, laporan tersebut mengungkap kesenjangan besar dalam sistem peringatan dini yang ada. Hanya 54% layanan meteorologi global yang memiliki peringatan untuk suhu ekstrem, dan komunikasi risiko masih terbatas dan sulit dijangkau oleh kelompok rentan. Secara sistemik, rencana aksi panas diperlukan sebagai kerangka kerja induk untuk mekanisme ini, namun implementasinya masih terfragmentasi dan tidak efektif karena terbatasnya kapasitas kelembagaan.
Ketahanan terhadap Panas yang Adil
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, laporan tersebut menyebutkan bahwa masyarakat di kawasan miskin perkotaan dan padat penduduk terdampak secara tidak proporsional. Mereka juga cenderung memiliki akses terbatas terhadap listrik, sistem pendingin, dan layanan kesehatan untuk mengelola risiko panas.
Dalam konteks ini, Bonapace menyoroti manfaat solusi berbasis alam (NbS) untuk membantu menurunkan suhu. Solusi berbasis alam di wilayah perkotaan dapat berupa ruang terbuka hijau perkotaan, pepohonan di jalanan, atap hijau, dan lahan basah perkotaan. Ia mengatakan, “Intervensi ini membantu menurunkan suhu perkotaan dengan menyediakan naungan, mendorong evapotranspirasi, dan bertindak sebagai penyerap panas yang mengurangi efek pulau panas perkotaan. Vegetasi dan pohon-pohon teduh, misalnya, dapat mengurangi suhu puncak musim panas sebesar 1°C hingga 5°C.”
Ketahanan terhadap panas juga merupakan masalah keadilan sosial-ekonomi. “Perlindungan sosial yang responsif terhadap iklim merupakan intervensi penting lainnya. Ini mencakup penyediaan remunerasi untuk istirahat-berteduh-air, jam kerja yang fleksibel, dan pengaturan yang tepat sasaran bagi perempuan, lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, migran, dan pekerja luar ruangan ketika indeks panas meningkat,” tambah Bonapace.
Diperlukan Kerja Sama Regional
Panas tidak mengenal batas wilayah, menggarisbawahi urgensi kerja sama regional untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap bahaya.
Laporan ESCAP menyoroti peluang untuk sepenuhnya memanfaatkan platform regional yang ada, seperti Dana Perwalian ESCAP untuk Kesiapsiagaan Tsunami, Bencana, dan Iklim, untuk membantu negara-negara berbagi biaya. Platform ini juga memungkinkan negara-negara untuk menggunakan perangkat yang umum dan dapat dioperasikan serta memperluas cakupan. Kerja sama regional sangat penting untuk memastikan bahwa pembiayaan ketahanan terhadap panas terintegrasi ke dalam sistem yang ada, alih-alih menjadi upaya yang berdiri sendiri.
Selain itu, platform ini juga memungkinkan negara-negara untuk bertukar data dan layanan guna membangun pemahaman bersama, yang dapat membantu menyediakan pengukuran yang akurat dan pemantauan kemajuan. Salah satu contoh yang disorot dalam laporan ini adalah definisi standar gelombang panas yang ditetapkan oleh WMO dan WHO, yang mengacu pada kelebihan panas kumulatif lokal dalam hari-hari dan malam yang luar biasa panas.
Kolaborasi Lintas Sektor
Selain inisiatif pemerintah, upaya membangun sistem ketahanan terhadap panas yang kuat harus selaras dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Di sinilah organisasi masyarakat sipil dapat berpartisipasi.
“Sebagai pelaku aktif di lapangan, organisasi masyarakat sipil dapat memainkan peran kunci dalam penyampaian bantuan jarak dekat. Pengetahuan mereka tentang bahasa dan konteks lokal berguna untuk memastikan bahwa kelompok rentan dijangkau secara merata. Wawasan di lapangan dan keakraban dengan penduduk setempat akan membantu dalam menerapkan solusi berbasis alam,” kata Bonapace.
Pada saat yang sama, peran sektor swasta sangat penting dalam integrasi teknologi untuk meningkatkan ketahanan terhadap panas, termasuk menyediakan akses ke platform data dan mendorong inovasi.
“Keterlibatan sektor swasta juga penting untuk efisiensi energi dan mengurangi beban terkait panas pada sistem energi, mengingat meningkatnya permintaan untuk pendinginan dan tekanan pada infrastruktur energi.” Bonapace menjelaskan lebih lanjut.
Kombinasi antara inovasi berbasis data dan pengetahuan lokal dapat membantu membuat peringatan lebih akurat dan dapat ditindaklanjuti. Pada akhirnya, arah krisis iklim saat ini membutuhkan pendekatan terintegrasi untuk memitigasi dan beradaptasi dengan bahaya yang ada dan yang mungkin terjadi. Pada saat yang sama, upaya juga harus terus dilakukan untuk membatasi kenaikan suhu global dengan meningkatkan upaya dekarbonisasi yang adil dan bermanfaat bagi manusia dan planet Bumi.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Jika Anda menilai konten ini bermanfaat, dukung gerakan Green Network Asia untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan melalui pendidikan publik dan advokasi multi-stakeholder tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia. Dapatkan manfaat khusus untuk pengembangan pribadi dan profesional Anda.
Jadi Member Sekarang
Perkembangan dan Tantangan Produksi Hidrogen Hijau di Indonesia
Mengakui Alam sebagai Seniman untuk Dukung Konservasi Keanekaragaman Hayati
Komunitas Tuli dan Keberlanjutan: Mengubah Hambatan menjadi Modal Sosial untuk Pembangunan Inklusif
Melibatkan Masyarakat Pesisir dalam Menangani Polusi Jaring Hantu di Laut
Negara Bagian Victoria Sahkan RUU Perjanjian Pertama Australia dengan Masyarakat Adat
Mengatasi Pengangguran Disabilitas: Eksklusi Sistemik dan Diskriminasi yang Terus Berlanjut