Dari Dukungan Mental hingga Hubungan Romantis: Memahami Fenomena Maraknya Penggunaan Pendamping AI
Foto: Tara Winstead.
Dunia digital kian merasuk dalam kehidupan manusia. Salah satunya terlihat dari semakin banyaknya orang yang beralih ke pendamping AI untuk mencari koneksi dan dukungan kesehatan mental.
Meningkatnya Penggunaan Pendamping AI
Pendamping AI adalah alat chatbot daring yang menggunakan model bahasa besar (large language models/LLM) untuk meniru percakapan layaknya manusia. Aplikasi, platform, atau layanan ini selalu tersedia, dianggap anonim dan privat, serta bebas dari kewajiban interpersonal yang sering hadir dalam relasi manusia. Dengan premis ini, banyak individu beralih ke LLM ketika mereka tidak mampu atau tidak ingin mencari dukungan dari orang lain.
Faktanya, analisis menunjukkan bahwa terapi dan pendampingan merupakan dua alasan utama penggunaan alat AI ini. Selain itu, studi menunjukkan bahwa hampir setengah (48,7%) orang dewasa dengan masalah kesehatan mental yang menggunakan AI dalam setahun terakhir melakukannya untuk dukungan kesehatan mental. Sejalan dengan itu, jumlah aplikasi pendamping AI meningkat hingga 700% dalam rentang tahun 2022 hingga pertengahan 2025.
Keterputusan Sosial di Era Digital
Fenomena ini sejalan dengan keterputusan sosial yang berlangsung secara global. WHO melaporkan bahwa “isolasi sosial dan kesepian telah meluas, dengan dampak serius terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan masyarakat yang sering kurang disadari”.
Dalam dua dekade terakhir, orang menghabiskan lebih banyak waktu sendirian dan lebih sedikit waktu bersama teman atau keluarga. Survei di 140 negara menemukan bahwa lebih dari satu miliar orang mengalami isolasi sosial yang signifikan.
Sebagai komponen penting kesejahteraan, kurangnya koneksi sosial sering berujung pada masalah kesehatan mental. Namun, kesenjangan layanan kesehatan mental masih besar, dengan hambatan seperti biaya, akses, kualitas, dan stigma. Dalam dunia yang semakin digital, pendamping AI muncul untuk “mengisi celah” tersebut. Data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa kecemasan (70,8%), depresi (72,4%), dan stres (70%) menjadi alasan utama orang mencari dukungan AI. Aksesibilitas dan keterjangkauan menjadi pendorong utama: pendamping AI tersedia 24 jam penuh, termasuk saat malam hari ketika serangan panik muncul atau saat krisis ketika dukungan langsung sulit dijangkau.
Dukungan, Pengganti, atau Risiko Baru?
Meski menawarkan manfaat potensial, penggunaan chatbot sering dikaitkan dengan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah, terutama bagi pengguna yang menjadikannya sebagai pengganti dukungan manusia. Alih-alih menghilangkan kesepian, pendamping AI justru dapat menyingkap keterbatasan dalam menggantikan koneksi sosial dengan interaksi digital yang palsu.
Selain itu, rekam jejak keamanan pendamping AI cukup mengkhawatirkan. Pada 2025, chatbot milik Meta berulang kali gagal merespons secara tepat remaja yang mengungkapkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Dalam kasus lain, chatbot memberikan saran penurunan berat badan yang berbahaya kepada pengguna dengan gejala gangguan makan, bahkan memvalidasi ujaran kebencian. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena sistem akuntabilitasnya masih nyaris tidak ada.
Kekhawatiran ini melampaui kasus individual. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 17–24% remaja mengembangkan ketergantungan problematik terhadap AI seiring waktu, dan kondisi kesehatan mental yang sudah ada meningkatkan kerentanan tersebut. Sifatnya yang selalu tersedia dan desain yang menyerupai manusia dapat secara perlahan mengikis kemampuan pengguna untuk berempati dan mengenali emosi di dunia nyata.
Selain itu, kajian ilmiah belum mampu mengejar laju penggunaan publik. Studi tentang chatbot kesehatan mental memang meningkat empat kali lipat antara 2020–2024, tetapi yang menguji efektivitas klinis jumlahnya tak sampai setengahnya. Kesenjangan antara adopsi luas dan bukti terapeutik yang terbatas ini menjadi risiko sistemik.
Pola demografis juga menambah kekhawatiran. Dari 233 juta pengguna Character AI, lebih dari separuhnya berusia 18–24 tahun. Mereka adalah generasi yang, meskipun paling terhubung secara digital, melaporkan tingkat kesepian tertinggi. Studi bahkan menunjukkan bahwa 80% Generasi Z terbuka terhadap kemungkinan menjalin hubungan romantis dengan AI, memunculkan pertanyaan serius tentang perubahan norma dalam relasi dan keintiman.
Meningkatkan Kesejahteraan untuk Semua
Pendamping AI pada dasarnya merupakan gejala dari kegagalan sistemik yang lebih dalam: kondisi ekonomi yang buruk, layanan kesehatan yang mahal, sistem kesehatan mental yang kewalahan, serta berbagai ketimpangan struktural yang membuat orang tidak mendapatkan dukungan yang memadai.
Ketika teknologi AI semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, tanggung jawab untuk mengelola dampaknya tidak bisa dibebankan hanya kepada pengguna. Pengembang, pembuat kebijakan, dan profesional kesehatan mental perlu bersama-sama mempertimbangkan bagaimana alat ini dirancang, diatur, dan diintegrasikan ke dalam sistem perawatan.
Yang paling penting, perbaikan kerangka layanan kesehatan mental menjadi hal mendasar. Akses terhadap layanan berkualitas harus inklusif, terjangkau, dan menjunjung martabat manusia. Ada banyak cara untuk menutup kesenjangan yang tidak dapat diatasi oleh AI maupun sistem klinis, seperti mencegah kelelahan kerja (burnout) dan membangun layanan kesehatan mental berbasis komunitas. Pada akhirnya, langkah selanjutnya membutuhkan investasi baru dalam sistem dukungan yang berpusat pada manusia serta komitmen untuk menjadikan keadilan kesehatan mental sebagai prioritas sosial, bukan tanggung jawab individu.
Penerjemah: Abul Muamar‘
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Empat Potensi Krisis yang Perlu Diantisipasi selama El Niño Godzilla
Ketimpangan Jaminan Kesehatan pada Balita yang Terus Berlanjut
Risiko Lingkungan dan Geopolitik dalam Pembangunan PLTA Medog
Empat Hal yang Kita Butuhkan untuk Meregenerasi Bumi: Pelajaran dari Climate Capital karya Tom Chi
Bagaimana Australia dapat Membantu Mencegah Terulangnya Krisis Kebakaran di Indonesia
Bagaimana Deforestasi di Indonesia Semakin Parah