Melihat Inisiatif Green Ramadan di Berbagai Negara
Foto: Anna Tarazevich di Pexels.
Hari-hari istimewa, seperti Ramadan, dapat menjadi momen yang tepat bagi masyarakat untuk melakukan perubahan yang bermakna. Bulan suci Ramadan mengubah rutinitas harian lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia, terutama dalam kebiasaan konsumsi. Untuk memerangi konsumsi berlebihan, inisiatif Ramadan Ramah Lingkungan (Green Ramadan) muncul untuk menyelaraskan kembali tradisi keagamaan dan budaya dengan gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Lonjakan Konsumsi Berlebihan
Ramadan adalah bulan suci Islam di mana umat Muslim mempraktikkan keseimbangan antara ibadah keagamaan dan konsumsi melalui puasa. Sayangnya, meski tidak dianjurkan, pemborosan makanan saat waktu berbuka (iftar) sering kali meningkat di negara-negara dimana orang menjalankan Ramadan karena persiapan berlebihan dalam skala besar dan perubahan kebiasaan dalam berbelanja. Misalnya, 20% makanan dibuang selama Ramadan di Indonesia dan 25-50% di Asia Barat. Sementara itu, sekitar 1.850 ton dan 4.500 ton makanan terbuang di Dubai dan Arab Saudi.
Selain itu, meningkatnya aktivitas malam hari dan permintaan energi untuk memasak menyebabkan konsumsi energi yang lebih tinggi. Menurut Pusat Studi Ekonomi Timur Tengah, konsumsi energi cenderung 50% lebih tinggi selama Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Lebih banyak energi digunakan untuk pendingin ruangan dan memasak secara ekstensif untuk berbuka dan sahur. Belum lagi, terjadi lonjakan penggunaan bahan bakar fosil karena tradisi umat Muslim kembali ke kampung halaman mereka untuk Idul Fitri bersama keluarga mereka.
Bagi banyak orang, puasa dapat mendorong perilaku konsumsi yang tidak rasional, yakni ‘makan berlebihan sebagai balas dendam’ dalam upaya yang keliru untuk memulihkan energi yang hilang selama waktu berpuasa. Namun, esensi refleksi dan pengendalian diri selama Ramadan juga dapat menciptakan momentum yang sempurna untuk meningkatkan kesadaran tentang tren berbahaya ini. Seiring meningkatnya kesadaran, masyarakat berupaya menyelaraskan kembali semangat bulan Ramadan dengan gaya hidup berkelanjutan dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Inisiatif Menuju Ramadan Hijau yang Berkembang
Komunitas di banyak negara di seluruh dunia kini mendorong praktik yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan selama Ramadan, yang disebut Green Ramadan. Di antara upaya tersebut adalah mengurangi sampah plastik dan penggunaan kemasan sekali pakai dalam acara.
Di Inggris, ada inisiatif Ramadan Bebas Plastik, yang bertujuan untuk mendorong masjid dan komunitas untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama makan bersama melalui investasi pada mesin pencuci piring dan pemasangan stasiun pengisian air. Di Indonesia, mahasiswa di Yogyakarta meluncurkan kampanye untuk mendukung praktik yang lebih ramah lingkungan, termasuk mendistribusikan gelas minum yang dapat digunakan kembali ke masjid-masjid besar dan mempromosikan gerakan tanpa sampah selama pertemuan.
Ada juga inisiatif Green Ramadan yang menangani masalah sampah makanan. Di Kuantan, Malaysia, sampah makanan dari bazar Ramadan didaur ulang menggunakan mesin pengomposan, kemudian dibagikan ke kebun komunitas setempat. Program “MySaveFood” Malaysia, di sisi lain, mengumpulkan makanan yang tidak terjual dari bazar Ramadan dan mendistribusikannya kembali kepada mereka yang membutuhkan. Sementara itu, beberapa komunitas di Uni Emirat Arab menaruh lemari es di luar rumah mereka yang memungkinkan tetangga atau pelaku usaha mengantarkan kelebihan makanan mereka untuk orang-orang yang membutuhkan.
Terakhir, Green Ramadan juga mencakup upaya menuju energi terbarukan. Di Abu Dhabi, Masdar City menggunakan panel surya 1.000 meter persegi untuk masjid net-zero pertama mereka, yang mencakup 100% kebutuhan energinya. Beberapa inisiatif juga mendorong masyarakat untuk melakukan penghematan energi, seperti memasak dalam jumlah besar, untuk memaksimalkan efisiensi.
Keberlanjutan untuk Perayaan
Tren Green Ramadan yang semakin berkembang menandakan munculnya kesadaran dan nilai-nilai komunal untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Dengan demikian, acara-acara dunia dan hari-hari istimewa dapat diselenggarakan dengan cara yang lebih bertanggung jawab.
Transformasi ini sama pentingnya dengan perubahan gaya hidup dan perubahan sistemik. Secara sistemik, pemerintah harus memperkuat sistem pengelolaan sampah dan mempromosikan praktik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan kepada masyarakat selama hari-hari istimewa atau musim liburan. Masyarakat dan lembaga lokal harus menanamkan kesadaran lingkungan dan terus menyuarakan urgensi tindakan kolektif untuk mengatasinya.
Pada akhirnya, menekan konsumsi berlebihan, mengurangi sampah, dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab selama perayaan menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat melengkapi tradisi tanpa adanya konflik dan mengarah pada planet yang lebih baik untuk semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

‘Upah Batin’ di Ruang Kelas dan Urgensi Pekerjaan Layak untuk Guru
Jalan Mundur Pelindungan Pembela HAM di Indonesia
Kekeringan Parah di Somalia dan Dampaknya yang Meluas
Memastikan Akses terhadap Keadilan bagi Perempuan dan Anak Perempuan
Infrastruktur Tak Terlihat yang Dibutuhkan Pasar Karbon ASEAN
Pemerintah Mulai Reforestasi Taman Nasional Tesso Nilo