Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Foto: Jan van der Wolf di Pexels.
Selama berdekade-dekade, kita hidup di dunia yang ditandai oleh konsumsi. Kalkulasi Global Footprint Network menunjukkan bahwa pada tahun 2024 manusia membutuhkan hampir dua planet Bumi untuk menopang tingkat konsumsi saat ini. Terkait hal ini, mengakui dan mengatasi pola konsumsi berlebihan sebagai salah satu akar terbesar dari berbagai krisis global menjadi kunci bagi terwujudnya transformasi sistemik menuju masa depan yang berkelanjutan untuk semua.
Melonjaknya Konsumsi Berlebihan
Dalam lanskap sosial saat ini yang dibombardir oleh gambar kehidupan orang lain, kita dapat dengan mudah terjebak dalam hasrat untuk terus menginginkan lebih. Mulai dari boneka lucu hingga tempat makan “hidden gem” yang baru, semuanya menggoda dahaga kita akan kebaruan dan pengalaman duniawi.
Siklus produksi–konsumsi memang menggerakkan perekonomian. Namun, siklus tersebut kini telah mencapai titik di mana konsumsi manusia melampaui kemampuan Bumi untuk menopang dan mempertahankannya—yang umum disebut sebagai konsumsi berlebihan (overconsumption).
Dalam laporan Global Environment Outlook 7 (GEO-7), Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) menyoroti bahwa konsumsi per kapita telah meningkat empat kali lipat sejak 1960, yang didorong oleh kenaikan pendapatan dan gaya hidup yang boros. Analisis lembaga penelitian Hot or Cool Institute yang berbasis di Berlin mengungkapkan bahwa rata-rata jejak karbon global dari gaya hidup individu pada tahun 2025 mencapai lebih dari enam kali lipat dari tingkat yang seharusnya untuk mempertahankan kenaikan suhu 1,5 °C. Pada tingkat individu, moda transportasi yang kita gunakan, makanan yang kita konsumsi, dan barang yang kita beli, semuanya turut berkontribusi dalam satu atau lain cara.
Namun, penting untuk menyadari bahwa pilihan kita dibentuk oleh sistem sosio-teknis yang lebih luas. Analisis Hot or Cool Institute yang mencakup 25 negara juga menyatakan bahwa rata-rata orang di negara berpendapatan tinggi menghasilkan jejak karbon sekitar empat kali lebih besar dibandingkan orang di negara berpendapatan menengah ke bawah. Dengan kata lain, konsumsi berlebihan terjadi secara tidak proporsional, baik antarnegara maupun di dalam negara itu sendiri.
Struktur yang Rapuh
Pertumbuhan produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan ini berlangsung di tengah sistem ekonomi, sosial, dan tata kelola global yang rapuh. Kerapuhan ini secara langsung memengaruhi keterbatasan sumber daya Bumi yang tersimpan dalam ekosistem.
Sebagai contoh, Global Resource Outlook 2024 mencatat bahwa penggunaan material seperti bahan bakar fosil, pasir, logam, dan mineral non-logam, telah meningkat pesat di seluruh dunia. Sekitar 90 persen dari permintaan material ini berasal dari lingkungan binaan dan mobilitas, sistem pangan, serta sistem energi—yang semuanya didorong oleh pertumbuhan populasi, urbanisasi, dan perkembangan teknologi.
Pada saat yang sama, ancaman konsumsi berlebihan juga membayangi berbagai upaya keberlanjutan. Produksi kendaraan listrik, misalnya, terus meningkat sebagai bagian dari transisi energi; namun di sisi lain, juga berpotensi menyebabkan degradasi lingkungan dan penurunan keanekaragaman hayati di hulu akibat praktik pertambangan yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, tren peralihan ke barang guna ulang pun dapat berakhir menjadi bentuk lain dari konsumsi berlebihan.
Secara kolektif, semua ini terjalin dalam krisis lingkungan global yang saling bertaut yang kita alami saat ini. Laporan GEO-7 UNEP mencatat sejumlah tren yang mengkhawatirkan: satu juta spesies terancam punah; sedikitnya 100 juta hektare lahan subur dan produktif di dunia mengalami degradasi setiap tahun; serta limbah padat tahunan yang melebihi 2 miliar ton.
Perubahan Transformasional
Di tengah krisis yang kian menumpuk, transformasi menjadi sebuah keniscayaan. Salah satu skenario yang diulik dalam laporan GEO-7 adalah transformasi yang berfokus pada perubahan perilaku, dengan mendorong nilai kecukupan dan menurunkan tingkat konsumsi di masyarakat.
Elemen kunci dari skenario ini adalah ko-kreasi pengetahuan, seperti mengintegrasikan pengetahuan adat dan praktik komunitas lokal dalam upaya mendamaikan kesejahteraan manusia dengan kesehatan ekosistem lintas sektor. Mendorong pemanfaatan kawasan lindung secara berkelanjutan, mendukung ekonomi berbagi dan perpanjangan usia pakai produk untuk menghindari konsumsi yang tidak perlu, serta menerapkan praktik berbasis keanekaragaman hayati dalam sistem pangan merupakan beberapa contoh.
Skenario lainnya adalah transformasi yang berfokus pada teknologi, yang bertumpu pada perancangan dan penerapan sistem yang bekerja secara efektif dan efisien dengan bantuan teknologi dan inovasi. Kedua skenario ini tidak bersifat saling meniadakan.
Pada akhirnya, mengenali cara kita mengonsumsi, faktor-faktor struktural yang membentuknya, serta implikasinya yang lebih luas terhadap kondisi dunia merupakan langkah awal untuk mengatasi konsumsi berlebihan. Laporan tersebut menegaskan pentingnya seluruh lembaga pemerintah untuk bekerja sema alih-alih terkotak-kotak, dengan dukungan pendekatan menyeluruh yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan lintas sektor.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Penguatan Tata Kelola Data Geospasial untuk Mendukung Pembangunan
Menelusuri Dampak Olimpiade terhadap Lingkungan
Mewujudkan Sanitasi Layak dan Berketahanan Iklim
Ancaman Tersembunyi Polusi Ban terhadap Populasi Salmon dan Kehidupan Akuatik
Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar
Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan