Mengatasi Persoalan Sampah Laut melalui CCBO
Foto: Brian Yurasits di Unsplash.
Sampah di lautan merupakan persoalan global yang mengkhawatirkan. Setiap tahunnya, jutaan ton sampah mencemari ekosistem laut di seluruh dunia. Persoalan ini memiliki dampak serius terhadap kehidupan di laut dan di darat. Sebagai upaya untuk memitigasi kerusakan lingkungan di lautan, USAID meluncurkan Clean Cities Blue Ocean (CCBO), sebuah program yang berfokus untuk mengatasi sampah laut.
Persoalan Sampah di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, menghadapi tantangan unik dalam pengelolaan sampah. Dengan lebih dari 17.500 pulau dan populasi yang melebihi 270 juta jiwa, negara ini menghadapi tugas berat dalam mengelola sampah secara efisien.
Kompleksitas pengelolaan sampah di Indonesia berkenaan dengan beberapa hal berikut:
- Kendala geografis. Karakteristik kepulauan Indonesia memberikan kendala geografis tersendiri terhadap pengelolaan sampah. Pulau-pulau yang terpencar dan komunitas yang terpencil membuat pengumpulan, transportasi, dan pembuangan sampah menjadi proses yang kompleks dan mahal. Kurangnya infrastruktur yang memadai, termasuk jalan dan fasilitas pengelolaan sampah, menyebabkan upaya pengelolaan sampah di banyak daerah semakin pelik.
- Kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia memperparah masalah pengelolaan sampah. Pusat-pusat perkotaan dan daerah pesisir menghasilkan volume sampah yang tinggi akibat konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi. Kurangnya pemilahan sampah yang baik dan fasilitas daur ulang juga menghambat upaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari sampah, utamanya di daerah padat penduduk.
- Infrastruktur pengelolaan sampah. Karakteristik kepulauan Indonesia membuat sulit untuk membangun infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai di seluruh kepulauan. Banyak pulau terpencil yang tidak memiliki fasilitas pembuangan sampah yang tepat, menyebabkan pembuangan dan pembakaran sampah yang tidak teratur, yang berkontribusi pada pencemaran udara dan air.
Pemerintah, organisasi swasta, bisnis, hingga komunitas akar rumput telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah. Upaya-upaya tersebut meliputi kebijakan pengelolaan sampah, pendirian pusat-pusat pengelolaan sampah, serta promosi program pengurangan sampah dan daur ulang. Kemitraan dan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan juga telah dimulai untuk mendukung inisiatif pengelolaan sampah. Namun, semuanya belum cukup untuk mengatasi persoalan sampah di Indonesia.
Clean Cities Blue Ocean
Program CCBO berpedoman pada The Save Our Seas 2.0 Act of 2020 yang salah satunya berfokus pada keterlibatan internasional dalam mengatasi sampah laut. CCBO bekerjasama dengan berbagai pihak di banyak negara, di antaranya, Republik Dominika, Indonesia, Maladewa, Peru, Filipina, Sri Lanka, Vietnam, dan beberapa negara di Kepulauan Pasifik. Di Indonesia, Kota Semarang, Kota Makassar, dan Kota Ambon, menjadi kota percontohan untuk penerapan program ini. Tujuan dan target implementasi CCBO yaitu:
- Mendorong praktik reduce, reuse, recycle (3R) dan memberikan dukungan untuk meningkatkan sistem pengelolaan sampah padat lokal.
- Membangun perubahan perilaku sosial untuk 3R dan pengelolaan sampah padat yang berkelanjutan.
- Meningkatkan implementasi dan penegakan hukum, kebijakan, dan regulasi lokal.
- Menjalin kemitraan sektor swasta baru untuk meningkatkan dampak, keberlanjutan, dan komitmen masa depan.
- Meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan
Penyelesaian masalah sampah laut di Indonesia memerlukan solusi yang tepat dengan mempertimbangkan secara serius kondisi geografis, tingkat kepadatan penduduk, serta fasilitas dan infrastruktur. Selain itu, persoalan sampah laut di Indonesia perlu diletakkan secara mendasar sebagai bagian dari visi maritim Indonesia. Kolaborasi, penegakan hukum, dan pembiayaan merupakan pendukung utama untuk mewujudkan hal tersebut. Alih-alih dipandang sebagai potensi perekonomian yang dapat dikeruk secara eksploitatif, laut mesti diperlakukan sebagai sumber penghidupan yang perlu dirawat demi keberlanjutan Bumi.
Editor: Abul Muamar

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan